
Seorang pria jangkung dengan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga ke siku, menampakkan beberapa tatto di bagian tangannya, terlihat sangat kacau. Rambutnya berantakan, kancing kemejanya bahkan terlepas akibat tarikan kasarnya.
“Jo!” seru pria itu.
“Ya, tuan?” Pria yang dipanggil pun mendekat.
“Jo, kenapa mereka pergi dengan kapal pesiar? Kemana mereka pergi?” cecar Marvel dengan wajah khawatirnya.
Marvel begitu kacau saat mendapatkan laporan bahwa anak buahnya kehilangan jejak George dan Gabby yang pergi menggunakan kapal pesiar. Ia tak tahu bahwa Gabby tengah bersedih. Sebab, anak buahnya hanya memantau dari jarak jauh dan mengikuti kemana perginya saja.
“Aku juga tak tahu, tuan,” balas Jo tetap dengan posisi tegaknya.
Mendengar jawaban yang tak membuat hatinya puas itu, Marvel semakin tak karuan. Disapunya semua benda-benda yang ada di atas meja. Hingga barang-barang yang untungnya tak terlalu berharga itu berserakan di lantai.
“Jo! Kenapa semua anak buahku tak becus jika bekerja!” raungnya dengan wajah yang merah padam.
Jo yang mendapati tuannya marah-marah ketika cemburu, sudah biasa. Ia diam tak menanggapi, namun perlahan kakinya menuju sebuah laci di almari. Mengambil sesuatu di sana.
“Minumlah, tuan,” ujar Jo memberikan apa yang baru saja ia ambil beserta air minum.
Marvel melihat ke arah Jo, matanya beralih mengamati dari wajah beralih ke tangan, kemudian kembali ke wajah.
“Ini bisa membuatmu tenang, tuan,” lanjut Jo saat tuannya tak juga mengambil apa yang ada di tangannya.
Marvel menegakkan badannya, lalu membuang nafasnya kasar. Ia meraihnya dan meminumnya.
Setelah selesai, tubuhnya terhempas di kursi. Kepalanya ia sandarkan di sana. Memejamkan matanya beberapa saat. Setelah tenang, ia kembali menatap Jo yang baru saja membuang botol air mineral ke tempat sampah.
“Jo, kau tahukan obat penenang itulah yang membuatku kecanduan, kenapa kau memberikanku itu terus! Aku kan sudah bilang ingin berhenti!” seru Marvel.
Marvel berdecak, menopang dagunya dengan kedua tangannya yang mengepal. “Bagaimana jika Gabby tahu? Dia akan kecewa.” Terus saja Gabby yang ada dalam pikirannya.
Jo hanya bisa bergeleng kepala dengan tuannya yang sudah dimabuk cinta itu. “Aku yakin, tidak, tuan. Asalkan tak ada yang memberitahukan padanya.”
“Kau menyuruhku berbohong?” Ada nada tak suka yang terlontar di sana.
“Tidak, tuan. Tuan tidak berbohong jika Nona Gabby tak menanyakan pada tuan. Lagi pula, tuan kan belum memulai untuk berhenti. Jadi, untuk apa khawatir,” jelas Jo menenangkan.
Ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh tangan kanannya itu. Ia kan belum memulai, jadi Gabby tak akan kecewa dengannya. Mungkin.
“Jo!” panggil Marvel lagi. “Apa aku memiliki kapal pesiar?” tanyanya.
“Tidak, tuan. Kau tak suka dengan lautan, sehingga tak pernah mau membeli itu,” jelas Jo.
Marvel berdecak sebal, bisa-bisanya ia melupakan hal itu.
“Haruskah aku menyusul Gabby? Aku sangat ingin tahu apa yang mereka lakukan.”
“Jangan, tuan. Jika tuan terus memaksakan diri ingin bersama dengan Nona Gabby, persaingan akan menjadi tak sehat dengan pria itu. Karena tak memberikan waktu untuknya mendekati Nona Gabby juga,” jelas Jo.
Marvel menyandarkan tubuhnya di kursi. “Kau benar. Tapi, bagaimana jika Gabby memilihnya bukan memilihku?” Ada rasa tak percaya diri dalam dirinya. “Usahaku untuk berhenti, akan sia-sia.”
“Percayalah, tuan. Cinta tahu kemana ia harus memilih. Dan tak perlu menganggap semua usaha tuan sia-sia. Jangan berubah hanya karena orang lain, tapi dari kemauan diri sendiri, tuan. Maka, ketika tuan dikecewakan dengan sebuah harapan. Tuan tak akan merasakan sakit,” nasihat Jo.
“Jangan terlalu berekspektasi tinggi dengan seseorang. Sebab, kekecewaan bukanlah sepenuhnya salah orang lain. Sesungguhnya, rasa kecewa berasal dari diri kita sendiri yang terlalu berharap lebih dengan sesuatu,” imbuh Jo.