Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 179



Polisi datang bersama dengan Marvel. Pengajuan keringanan yang dilayangkan oleh George ternyata disetujui oleh pihak pengadilan. Sebelum membawa Gabby ke rumah sakit, George telah mengirimkan pesan kepada pihak kepolisian yang sering berhubungan dengannya untuk bertukar kabar tentang Marvel.


George merasa Marvel berhak untuk mendampingi sang istri dalam proses persalinan. Meskipun bukan anak Marvel, tapi ia rasa semua yang menyangkut tentang Gabby masih ada kaitannya dengan Marvel.


Gabby begitu terkejut dengan kedatangan suaminya. Namun ia langsung mengulas senyumnya saat melihat Marvel baik-baik saja. Tapi tubuh pria itu tetap terlihat kurus dan tampan.


“Sayang, suamimu datang,” seloroh Marvel dengan raut wajah bahagianya. Ia segera menghampiri istrinya yang hendak turun dari ranjang namun belum sempat karena kedatangannya.


George segera menyingkir, ia sadar bukan siapa-siapa Gabby. Ada yang lebih berhak dari wanita itu. George hanya menatap Gabby dan Marvel dengan senyum tulusnya. Ia senang bisa membagi kebahagiaan kepada Marvel sebelum pria itu diregang nyawanya.


Gabby merentangkan tangannya agar Marvel memeluknya. “Aku merindukanmu,” ujarnya.


Marvel merengkuh tubuh ibu hamil itu dengan erat. Hatinya berdesir hebat. Kerinduannya selama ini terbayarkan setelah melihat wajah cantik istrinya. Tak lupa ia memberikan kecupan di dahi Gabby. Lama bibirnya bersemayam di sana. Air matanya juga menetes hingga terjatuh ke atas selimut. Perasaannya sangat campur aduk, ada rasa bahagia bisa melihat istri yang ia cintai, ada rasa sedih karena sebentar lagi akan meninggalkan wanita itu untuk selamanya.


Gabby merasakan ada yang membasahi punggung tangannya. Ia menatap Marvel setelah pria itu melepas ciuman di dahinya. “Jangan menangis, jangan bersedih. Ini hari bahagia kita karena sebentar lagi aku akan melahirkan.” Tangannya terulur untuk menyentuh pipi suaminya, ia menyeka air mata yang membasahi kulit itu. Meskipun matanya ikut berkaca-kaca, tapi bibirnya terus mengulas senyum.


Marvel meraih tangan istrinya, lalu ia memberikan kecupan di sana. “Ini air mata bahagiaku,” ujarnya.


George merasa Marvel dan Gabby membutuhkan waktu untuk berdua setelah sekian lama tak bertemu. Ia memutuskan untuk mengajak Davis dan Diora keluar dari ruangan Gabby.


“Terima kasih.” Marvel mengulas senyumnya untuk George.


Pintu ruangan itu tertutup rapat, menyisakan Gabby dan Marvel.


“Mau ku bantu gantikan?” tawar Gabby saat Marvel hendak mengganti pakaiannya.


“Boleh.” Marvel mengangguk dan memberikan setelan pakaian rapi yang tadi diberikan oleh George.


Gabby mulai membantu membuka kancing baju tahanan Marvel. Ia mengulas senyumnya karena merasa menjadi istri sungguhan setelah delapan bulan menikah.


“Andai, kita bisa seperti ini terus. Aku pasti akan sangat bahagia setiap harinya,” kelakar Marvel setelah Gabby selesai membantunya berganti pakaian.


Gabby memberikan usapan di kemeja bagian dada suaminya. “Segera keluarlah dari penjara agar kita bisa hidup bersama,” ujarnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk menatap suaminya yang berdiri di hadapannya.


Kedua mata mereka saling beradu. Sampai saat ini, Gabby belum tahu jika suaminya sudah dijatuhi hukuman mati. Marvel memang tak mengizinkan George untuk memberitahukan pada Gabby.


Meskipun Gabby tahu kemungkinan hukuman yang akan dijatuhkan untuk kejahatan seperti Marvel, namun ia tak ingin berpikiran buruk. Ia selalu menampiknya.