
Motor vespa berwarna kuning itu berhenti di salah satu rumah sakit terbaik yang direkomendasikan oleh google saat George mencari informasi dengan ponselnya.
“Kenapa kita ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?” Gabby bertanya dengan nada kesalnya.
“Kau!” George tak membiarkan Gabby untuk mengajukan pertanyan lagi. Ia langsung menarik wanita itu, membawa ke ruang Unit Gawat Darurat.
Langsung menghempaskan tubuh Gabby ke brankar yang ada di sana setelah perawat mempersilahkan.
“Lihat luka di betis kirinya dan segera jahit!” titah George pada perawat yang berada di sana.
Wanita dengan seragam serba putih itu melihat luka yang ada di kaki Gabby. Ia begitu terkejut karena luka itu begitu memperlihatkan daging di betis yang kecil itu. Ia bukan terkejut dengan lukanya, namun dengan Gabby yang seolah biasa saja. “Kami harus menunggu dokter untuk melakukannya, tuan. Mohon untuk menunggu sebentar, dokter sedang berjalan kemari,” terang perawat itu.
Gabby yang mendapatkan perlakukan yang dianggap berlebihan hanya karena luka kecil di kakinya itu pun jengah. “Kau ini mempermalukanku saja! Luka kecil seperti ini bisa ku sembuhkan sendiri, bahkan aku bisa menjahitnya sendiri jika aku mau!” sentaknya tak suka mendapatkan perlakuan yang berlebihan dari George.
Gabby hendak berdiri dan meninggalkan rumah sakit sebelum dokter datang, namun sudah dihadang oleh George. “Menurut saja!” tegas George tak ingin dibantah.
Gabby menghembuskan nafasnya, menatap tajam wajah George, ia ingin mencari alasan apa sebenarnya pria itu memperlakukan dirinya seperti saat ini. “Kenapa kau melakukan ini?”
George menaikkan sebelah alisnya. “Melakukan apa?”
“Membelikanku obat untuk luka dan membawaku ke rumah sakit untuk mengobati lukaku?”
George diam, ia tersadar dengan tindakannnya yang tak biasanya bersimpati pada orang lain. Ia juga bingung kenapa dirinya melakukan hal itu. Semua ia lakukan atas nalurinya sendiri. Pria itu memilah-milah jawaban apa yang harus ia ucapkan agar tak membuat Gabby salah paham.
Gabby tersenyum hambar, seharusnya ia sudah tahu bahwa George tak mungkin melakukannya karena menaruh rasa dan khawatir dengannya. Mustahil! Seharusnya kau sadar diri!
Tak berselang lama, dokterpun datang. “Selamat siang,” sapanya ramah.
“Siang, dok.” Bukan George, bukan juga Gabby yang menjawabnya. Tapi perawat yang menunggu kedatangan sang Dokter. Perawat itu memberitahukan luka yang dialami Gabby, dan dijawab anggukan kepala.
Dokter itu langsung menghampiri Gabby yang duduk di brankar dengan kaki yang ditekuk di atas sana.
“Saya periksa kakinya terlebih dahulu, ya?” ijin Dokter itu lalu melihat betis Gabby. “Sedikit dijahit, tak apa, ya? Tahan, kan?”
“Jahit saja!” Bukan Gabby yang menjawab, namun George.
Dokter tersenyum dan mengangguk mengerti. “Saya siapkan keperluannya sebentar, dilakukan disini tak apa, kan? Karena luka kecil dan tidak membutuhkan operasi besar. Kebetulan ruang operasi sedang digunakan semuanya.”
“Lakukan saja!” Lagi-lagi George yang menjawabnya. Ia tak memberikan ruang untuk Gabby menjawab pertanyaan Dokter.
Dokter itu pun segera memberikan perintah pada perawat untuk mempersiapkan keperluannya. Setelah siap, ia memasangkan sarung tangan medis di kedua tangannya yang sudah disterilkan. “Saya bius lokal, ya? Agar tak sakit.”
“Tidak perlu! Lakukan saja tanpa bius.” Kali ini Gabby yang bersuara.