
Semua orang terkejut mendengar penuturan Gabby. Terutama George dan Lord. Dua pria itu bahkan matanya membelalak tak berkedip sedikitpun. Mereka sedang mencerna berita yang mencengangkan itu.
“Kau serius?” Lord dan George bahkan bertanya bersamaan.
Gabby mengangguk membenarkan. “Ya.”
Terdiam, semuanya membisu. George sedang merasakan gemuruh di hatinya. Ada perasaan kecewa yang menyelimutinya. Ia ingin mengatakan tak setuju, namun apa boleh buat jika keputusan sudah bulat.
Sedangkan Lord, dia masih berperang dalam pikirannya. Entah apa yang sedang mengusik Lord. Hanya dia yang tahu. “G2, temui aku malam ini di tempat biasa.”
Tak ada yang paham dengan maksud Lord. Hanya Lord dan Gabby saja yang paham.
Davis, dia memandang George. Ia seolah tengah menelisik tingkat kehancuran hati pria itu. Sial! Kenapa dia diam saja dan tetap terlihat dingin! Orang yang dia sukai sudah direbut oleh pria lain, dia tetap saja tenang? Memang dasar manusia Antartika! Davis justru yang merasa geram karena George seolah tak terlihat terusik.
Diora, meskipun ia tak terlalu kenal dengan Marvel, namun ia senang jika Gabby akhirnya mau menikah juga. “Selamat, kapan kau akan melangsungkan pernikahannya?”
“Secepatnya.”
...........
Rooftop di sudut barat bangunan kartel milik Lord, bangunan yang berbeda dari tempat biasanya ia mengajak Davis, George, dan Natalie. Bangunan di sisi barat adalah tempat biasanya Lord melatih Gabby dan rooftopnya biasa digunakan untuk berbincang hal penting dengan anaknya.
Wajah Lord terlihat sangat dingin. Ia tak menunjukkan sama sekali kebahagiaan mendengar putrinya memutuskan untuk menikah.
Lord dan Gabby berdiri berdampingan dengan mata yang sama-sama menatap lurus ke depan.
“Kau serius ingin menikah dengan Marvel?” tanya Lord membuka pembicaraan mereka.
“Ya!” Gabby menjawabnya dengan tegas dan lantang, tanpa keraguan sedikitpun.
“Kenapa Marvel? Kenapa kau memilihnya?” Lord mulai merubah posisi tubuhnya untuk melihat anaknya.
“Karena dia mencintaiku.” Sorot Mata Gabby terlihat tegas saat mengatakannya, itu ditangkap jelas oleh Lord.
“Bagaimana dengan George? Dia juga mencintaimu.” Lord lebih suka jika Gabby bersama dengan George, bukan Marvel.
“Tidak, dia tak mencintaiku, dia hanya terpenjara dengan janjinya sendiri,” tampik Gabby meluruskan dari apa yang sudah ia simpulkan selama ini.
“Aku tak setuju dengan keputusanmu!” tolak Lord terang-terangan.
Kini Lord dan Gabby saling berhadapan dengan tatapan yang sama-sama tajam. Keduanya seperti seorang musuh yang tengah mendalami seberapa kuat musuhnya.
“Aku sedang tak meminta izinmu, aku hanya memberitahumu tentang keputusanku untuk menikah dengan Marvel.”
“Aku juga anakmu, kau seharusnya mendiskusikan padaku juga sebelum bertindak. Bahkan, kau menikah pun tak meminta persetujuanku.”
“Bukankah kau akan tetap menyetujui pernikahanku?”
“Ya, memang benar. Tapi kau hanya mengatakan jika kau akan menikah, kau tak meminta izinku. Sama halnya dengan aku. Aku juga tak meminta izinmu, mau tak mau, suka tak suka, aku akan tetap menikah dengan Marvel!” seru Gabby dengan dadanya yang mulai naik turun akibat kekesalannya dengan Papanya yang menolak keputusannya dan lagi-lagi mengatur masalah hidupnya, apa lagi ini menyangkut hatinya.
“Aku Papamu!”
“Dan aku anakmu! Apa kau juga mendiskusikan padaku saat kau memutuskan untuk ikut mengidap penyakit HIV? Tidak! Hal sepenting itu kau tak mendiskusikan padaku! Kau pikir aku tak kecewa? Sangat! Aku sangat kecewa! Aku hanya ingin kau merasakan apa yang aku rasakan. Tak dibutuhkan pendapatnya!” Akhirnya, Gabby mengatakan apa yang ia rasakan. Rasa kesalnya yang sudah teramat dalam, membuatnya mengutarakan seluruh isi hatinya.
Deg!
Lord sungguh tak tahu jika anaknya sudah mengetahui tentang penyakitnya itu. Ada perasaan yang tak enak saat Gabby berani melawannya.
“Apa kau sedang balas dendam denganku?”
“Tidak, aku hanya menirukan apa yang dicontohkan oleh Papaku!”
“Aku tetap tak setuju dengan keputusanmu menikah dengan Marvel!”
“Aku tidak meminta pendapatmu ataupun izinmu!”
“Kenapa kau keras kepala sekali!”
“Seharusnya kau senang aku seperti ini. Selamat, kau berhasil mendidikku menjadi seperti apa yang kau mau! Bukankah kau sendiri yang membuatku menjadi keras kepala? Jangan menyalahkanku karena sifatku ini!”
Lord terdiam, ada benarnya dengan yang disampaikan oleh Gabby. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya kasar. Apa ini yang dinamakan dengan apa yang kau tanam, itu yang kau tuai?
“Kau tahu, kan? Dia itu bandar dari segala bandar, dia mafianya.” Lord mulai menurunkan intonasinya. “Dia juga pemakai, dia pecandu.”
“Dia sudah berhenti, dan dia sudah tak bergelut di bisnis itu lagi.” Gabby masih terus membela Marvel.
“Tetap saja, jejak kejahatannya masih ada.” Lord mulai frustasi menghadapi putrinya yang keras kepala.
“Aku tak perduli dengan penolakanmu, aku tak meminta izinmu! Yang jelas, dia mencintaiku dan dia membuktikannya.” Gabby tetap dengan pendiriannya. “Aku pergi, aku tak ingin bertengkar denganmu.” Ia memilih untuk meninggalkan Lord.
“Pikirkan baik-baik keputusanmu, semua itu demi kebaikanmu!” Lord berteriak agar terdengar oleh Gabby.
Gabby menghentikan langkahnya dan menyempatkan untuk berbalik sebentar. “Keputusanku tetap bulat, aku akan tetap menikah dengan Marvel!” Ia pun kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan gedung itu.
Lord mengacak-acak rambutnya frustasi. “Kenapa dia sangat keras kepala sekali!”