
George tak gentar untuk membuat Gabby percaya dengannya jika ia tak bermaksud untuk mengingkari janjinya. Meskipun Gabby sudah berkali-kali mengusirnya, ia tetap berdiam diri di sana. Enggan untuk keluar sebelum Gabby mau menerimanya.
Gabby menghela nafasnya dalam-dalam. Semakin mendengar ocehan George, justru hatinya semakin sakit tersayat kenyataan yang ada. Dirinya hanya sebagai pelarian terakhir oleh George.
“Mau apa lagi, kau? Apa lagi yang mau kau katakan padaku?” tanya Gabby. Keangkuhannya tak pernah pudar, bahkan hatinya tak luluh sedikitpun meskipun George sudah ingat akan janjinya.
“Aku bisa menjelaskan padamu semuanya, ku mohon dengarkan alasanku,” pinta George sungguh-sungguh. Bahkan ia menurunkan harga dirinya hingga duduk di lantai untuk memohon. Ia tak mau gagal lagi dalam cintanya karena tak menepati janjinya. Ia sudah bertekad akan menepati janjinya pada Gabby bagaimanapun caranya.
“Tiga detik, aku beri waktu tiga detik untuk kau membual.”
“Lima menit, beri aku lima menit,” tawar George. Tak mungkin bisa dia mengatakan sesuatu panjang lebar hanya tiga detik.
“Tiga menit, atau tidak sama sekali!”
“Oke, dengarkan aku baik-baik. Ku harap kau bisa menerima penjelasanku ini,” harap George.
Gabby melihat detik jam digital pada meja kecil di samping sofa. “Waktumu tinggal dua menit empat puluh lima detik!”
Buru-buru George menjelaskan pada Gabby, ternyata waktunya di hitung sedari Gabby memberikan ijin untuk berbicara tiga menit saja.
“Aku kira janji dengan anak kecil hanyalah sebuah angin lalu saja, yang mungkin akan dilupakan oleh keduanya. Lalu aku menjalin hubungan dengan Catherine karena dia sangat perhatian denganku, namun ternyata dia menghianatiku. Dan aku baru tersadar jika janji haruslah ditepati, mungkin begitulah Tuhan menegurku untuk menepati janjiku padamu dengan mengutukku agar tak bisa menjalin hubungan yang serius dengan wanita lain kecuali kau,” jelas George panjang lebar.
“Sudah? Waktumu habis!” tegas Gabby. “Sekarang, kau keluar!” usirnya menunjuk arah pintu. “Cukup sampai di sini pertemuan kita! Jangan pernah kau muncul di hadapanku!”
George tak beranjak. “Janji itu, aku akan menepatinya. Aku sungguh-sungguh menyesal tak langsung mencarimu saat itu.”
“Cukup! Semakin kau berucap, semakin besar rasa benciku padamu!” Mata Gabby penuh dengan kilatan amarah. Sungguh lucu pria di hadapannya itu.
George mencoba mendekati Gabby, ia hendak memegang tangan Gabby agar wanita itu mau menerima alasannya. Namun ditepis oleh Gabby.
George menghela nafasnya, ia sudah merasa menurunkan harga diri hanya demi mengatakan dan membujuk Gabby agar percaya dengannya bahwa ia tak bermasud untuk mengingkari janjinya.
George kembali dengan sikap dinginnya, ia tak harus menginjak-injak harga dirinya lebih dalam lagi.
“Lagi pula, jika kau selalu mengingat janji kita, kenapa kau tak mencariku dan mengatakan langsung padaku? Kenapa kau diam saja? Bahkan selama kita bersama di Bali pun kau tak mengatakan apapun denganku tentang hal ini!” ujar George balik menyalahkan Gabby.
“Oh bagus! Sekarang kau menyalahkanku? Cukup tahu sekarang aku, ternyata kau benar-benar pria sampah! Menyesal aku pernah bertemu denganmu!” Marah, Gabby benar-benar marah. Bisa-bisanya dia disalahkan atas kejadian ini.
“Bukan seperti itu, aku tak menyalahkanmu. Aku hanya—” Ucapan George terhenti ketika Gabby sudah memotongnya.
“Diam! Dan pergi dari apartemenku sekarang juga! Cukup sampai di sini kita bertemu, jangan pernah menemuiku lagi!” usir Gabby untuk yang kesekian kalinya. “Satu lagi, hiduplah dengan kutukanmu itu! Rasakan buah dari perbuatanmu sendiri yang menganggap sebuah janji hanyalah angin lalu!”