
Dua bulan berlalu setelah kepergian Lordeus untuk selamanya, usia kandungan Gabby sudah menginjak sembilan bulan dan perkiraan akan lahir kurang lebih satu minggu lagi.
Selama kurun waktu itu, Gabby tinggal berempat bersama George, Davis, dan Diora di kartel Lord. Seluruh harta peninggalan Lord diserahkan pada kedua anaknya. Ia tak membagi berapa porsinya, karena ia tahu jika kedua anaknya tak mungkin bersengketa hanya karena harta. Maka dari itu, semua bersama menjaga harta yang ditinggalkan oleh Lordeus.
George selalu menjaga Gabby setiap harinya. Meskipun mereka belum juga menikah, karena Gabby masih berstatus istri Marvel. Ia juga mengusahakan mengajukan keringanan untuk Marvel agar bisa ikut serta menemani persalinan Gabby sebelum benar-benar pergi meninggalkan dunia.
“Selamat makan,” ujar Gabby, George, Diora, dan Davis bersamaan.
Mereka saat ini sedang menikmati sarapan. Seluruh hidangan dimasak oleh chef pribadi. Jadi sudah dipastikan makanannya sangat lezat.
Mereka sungguh menjalankan amanat Lord. Tak ada kesedihan lagi yang mereka tunjukkan setelah hari pemakaman itu. Semuanya mencoba untuk hidup bahagia dan rukun.
Keempatnya makan dengan penuh suka cita. Hening dan tak ada suara sedikitpun dari mulut mereka. Hanya dentingan sendok dan garpu yang menggema di sana.
Gabby terlihat meringis menahan sakit, saat perutnya terasa seperti kram. Ia menghentikan makannya dan memegangi perutnya yang semakin terasa tak membuatnya nyaman.
“Kenapa? Sakit lagi?” tanya George. Ia langsung sigap mengelus perut Gabby, mencoba memberikan kenyamanan untuk ibu hamil itu.
Davis dan Diora ikut menghentikan makan mereka. Matanya menatap khawatir pada Gabby.
Gabby mengangguk. “Lebih sakit dari kemarin,” ujarnya.
“Kita ke rumah sakit,” ajak George. Ia langsung membopong Gabby untuk menuju ke mobilnya.
“Aku akan menyiapkan segala keperluannya.” Diora bergegas menuju kamar Gabby di bawah. Semenjak hamil tua, Gabby sudah tak tidur di kamar atas.
...........
“Bagaimana, Dok? Apa sudah saatnya melahirkan?” tanya George harap-harap cemas saat Dokter selesai memeriksa jalan lahir sang calon bayi.
George mengangguk mengerti.
Dokter itu lalu pamit untuk keluar dan memberikan arahan agar memencet tombol pemanggil Dokter yang tersedia di dalam ruangan itu jika Gabby kembali merasakan kontraksi.
“Sakit sekali?” George seolah teriris melihat Gabby yang biasanya kuat, kini terlihat sangat kesakitan dengan wajah yang terus bercucuran peluh.
Menggigit bibir bawahnya, Gabby menganggukkan kepalanya memberikan jawaban. Ia hanya bisa meringis kesakitan.
“Sabar, ya? Maafkan aku yang sudah membuatmu merasakan sakitnya menjadi ibu hamil yang akan melahirkan,” sesal George.
Gabby menghirup nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan melalui mulutnya. Ia sedang mencoba menetralkan rasa sakit yang luar biasa seperti saat ia mengikuti senam yoga untuk ibu hamil.
Davis dan Diora masuk membawakan keperluan Gabby dan calon bayinya.
“Belum lahir juga?” tanya Diora seraya meletakkan tas jinjing yang ia bawa.
“Belum, harus menunggu beberapa jam lagi kata Dokter,” jelas Gabby masih dengan posisinya saat diajarkan oleh instruktur yoganya.
“Kenapa lama sekali? Saat istriku melahirkan, sepertinya cepat, tak selama ini,” kelakar Davis.
George menatap sahabatnya dan berdecak. “Istrimu melahikan dengan operasi caesar. Gabby ingin normal,” sahutnya.
Davis dan Diora lalu duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. Sedangkan George membantu Gabby untuk turun dari ranjang dan hendak menjalankan anjuran Dokter.
Disaat George meraih tangan Gabby, pintu terbuka dari luar. Semua yang berada di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan mereka untuk menatap ke sana dan melihat siapa orang yang datang.