Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 54



George membuka matanya, ia merasa kepalanya sangat berat. Tangannya memegang bagian tubuh itu dengan sedikit meringis. Kesadarannya belum kembali seutuhnya.


Beberapa kali George mengerjapkan matanya memcoba mengumpulkan nyawanya. Pandangannya mengedar ke kanan dan ke kiri. Kini ia menyadari bahwa dirinya sudah di usir dengan cara tak terhormat oleh Gabby. Dan artinya, kali ini ia kalah.


George tersenyum getir ketika melihat secarik kertas yang tadi sempat ditinggalkan oleh Gabby di atas tubuhnya. “Salah besar kau melawan anak mafia! Pergilah sejauh mungkin dari hidupku! Beruntung aku hanya membuatmu tidur, bukan membunuhmu! Hal yang mudah bagiku menghilangkan nyawamu, tapi aku masih memiliki belas kasihan padamu! Terlebih aku tak ingin mengotori tanganku sendiri. Tanganku terlalu suci!” Begitulah kiranya isi pesan dari Gabby.


George membawa secarik kertas itu, dia anggap itu sebagai surat cinta diatas kebencian seorang Gabby untuknya.


“Jangan panggil aku George Gabriel Giorgio jika langsung menyerah begitu saja!” ujarnya. Dengan perlakuan Gabby padanya malah membuatnya semakin tertantang untuk memenangkan hati Gabby. Meskipun itu akan sulit.


George berdiri, menatap sejenak pintu apartemen Gabby sebelum akhirnya ia beranjak ke basement. Ia pun beranjak pergi menuju sebuah tempat yang akhirnya membuat dirinya berada di situasi saat ini. Danau buatan, tempat pertama kali ia bertemu dengan Gabby.


George duduk seorang diri di kursi besi bercat hitam itu, fikirannya mengingat kejadian empat belas tahun silam.


...........


...Flashback on...


Empat belas tahun yang lalu, kala itu George berusia dua puluh tahun. Ia baru menginjak semester pertama di Harvard University. Libur musim seminya saat itu ia gunakan untuk pulang ke Finlandia. Pasti Papa dan Mamanya sangat menantikan kehadirannya.


Ia kembali dengan hati yang gembira, sebab di rumah itu banyak kehangatan yang didapatkan dari orang tuanya. Dengan senyumnya yang lebar, ia memasuki rumah mewah keluarga Giorgio. Ia tak memberitahukan kepulangannya terlebih dahulu, sebab ingin memberikan kejutan.


Namun bukannya orang tuanya yang terkejut akan kehadirannya, tapi dirinya lah yang dikejutkan akan bunyi benda-benda yang berjatuhan.


Suasana rumahnya sungguh sepi, hingga pertengkaran kedua orang tuanya terdengar jelas di telinganya. Entah kemana perginya asisten rumah tangganya itu, ia tak melihat satupun ada di sana.


“Aku mau kita bercerai! Aku sudah tak tahan lagi hidup denganmu, berpura-pura bahagia di depan semua orang! Menutupi semua perselingkuhanmu dengan wanita yang seharusnya menjadi teman putramu sendiri!” Suara Mamanya sangat lantang dan tanpa keraguan.


Plak!


Bunyi tamparan terdengar jelas, Mamanya lah yang mendapatkan cap tangan itu.


“Jaga ucapanmu itu! Jangan menuduhku sembarangan! Aku tak pernah berselingkuh darimu!” Papanya memberikan pembelaan. Ia tak mungkin bercerai dari istrinya, orang yang ia cintai. Namun memang nafsunya di luar begitu sulit untuk di kendalikan, terlebih istrinya mulai aktif kembali menjadi seorang artis yang sering bepergian setelah George—putranya memilih kuliah di Amerika.


Pyar!


Vas bunga mendarat sempurna di kepala Papanya. “Berani kau menamparku! Wajahku ini adalah aset untukku mencari uang!”


“Berhenti dari dunia hiburan, apa kurangnya aku? Aku bahkan bisa mencukupi seluruh kebutuhanmu! Hartaku banyak dan tak akan habis!”


“Ini bukan hanya sekedar uang, namun pencapaian! Sedari dulu kau tahu aku ingin menjadi orang terkenal dengan bakatku sendiri! Bukan dengan uangmu!”


“Inilah mengapa aku sampai mencari kepuasan di luar, ambisimu yang terlalu besar itu perlahan menghancurkan rumah tangga kita!”