Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 96



Sedangkan di dalam ruang rawat Diora. Gabby terus melihat interaksi antara Diora dan seorang wanita paruh baya. Ada perasaan senang karena sahabatnya akhirnya bertemu kembali dengan Mamanya, dan juga ada kegetiran mengingat wanita paruh baya itu adalah orang yang dicintai oleh Papanya.


Meskipun Papa Gabby belum memperkenalkan Natalie, tapi dilihat dari interaksi Diora dengan wanita paruh baya itu sudah membuat Gabby yakin bahwa wanita itulah yang dicintai oleh Papanya. Wanita itulah yang membuat Papanya tak pernah bisa melihat ketulusan hati mendiang Mama Gabby.


Di saat Gabby masih terus mengamati kedua wanita beda generasi itu. Ia dibuat dongkol dengan keduanya.


Pasalnya, mereka menyudutkan Gabby agar segera menikah juga. Ditambah, mereka mengatakan bahwa George terlihat menyukai dirinya. Semakin kesal dirinya. Dilihat dari segi manapun, di mata Gabby, George tak terlihat menyukainya. Selalu saja janji yang dibahas jika berdua dengannya. Memuakkan!


Gabby tetap dengan pendiriannya yang tak ingin menikah. Ia dengan tegas mengatakan hal itu pada Diora.


“Jika kalian hanya ingin mendoktrin pikiranku agar mau menikah, maka kalian sedang membuang-buang waktu!” berang Gabby, tangannya mengepal menahan gejolak amarah agar mulutnya tak mengeluarkan kata-kata kasar yang mungkin bisa melukai hati orang lain. “Aku pergi dulu!” pamitnya.


Gabby sudah tak kuat berada di dalam ruangan itu. Selain dengan pembahasan yang membuatnya kesal, juga di dalam sana ada Mama Diora. Wanita yang menyebabkan Mamanya tak pernah dilihat oleh Papanya. Meskipun ia tahu Mama Diora tak salah, namun hatinya tetap saja sakit mengingat bagaimana Mamanya tak dicintai oleh Papanya.


Gabby berdiri, tak lupa ia menggeser kursinya ke belakang dengan kasar hingga terdengar suara gesekan kaki-kaki kursi dengan lantai. Wajahnya sudah merah padam. Ia pun langsung melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Diora dan Natalie—Mama Diora yang menatap kepergiannya.


Bertepatan dengan Gabby membuka pintu, ketiga pria yang baru saja mengobrol di cafe itu datang.


Manik mata Gabby tak sengaja langsung bertemu dengan dua bola dengan sorot mata elang milik George.


Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia marah denganku? Seharusnya aku yang marah dengannya karena dia mengatakan tak ingin menikah, sedangkan aku mengajaknya menikah. gumam George saat melihat betapa besar amarah Gabby.


“Pulang!” Gabby enggan menatap Papanya, ia terus saja melangkahkan kakinya ke depan.


George tak ikut Lord dan Davis masuk. Ia memilih menyusul Gabby. Lagi pula, untuk apa dirinya masuk jika yang berada di dalam ruangan itu semuanya berpasangan.


“Tunggu!” seru George berharap Gabby memelankan langkah yang sedikit berlari itu.


Gabby reflek menampik tangan yang dengan tak sopan menarik dirinya. Ia berdecak saat melihat wajah pria menyebalkan itu. “Untuk apa kau mengikutiku?” Ia kembali berjalan.


George mengikuti di sampingnya. “Kau mau kemana dengan keadaan emosi seperti ini?” tanyanya.


“Bukan urusanmu! Urus, urusanmu sendiri!” tampik Gabby dengan wajah yang tak bersahabat.


“Mulai sekarang, urusanmu adalah urusanku juga.” Dengan percaya dirinya, George mengatalan hal itu.


“Cih! Memangnya siapa kau?” Lirikan tak mengenakkan dilayangkan oleh wanita dengan kuncir kuda itu.


“Aku? George Gabriel Giorgio, calon suamimu,” jawabnya bangga.


Membuat Gabby menghentikan langkahnya tepat setelah sapai di tempat parkir motornya, diikuti dengan George yang juga berhenti.