Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 103



“Argh ...!”


George mengerang kesakitan. Prediksinya meleset. Ternyata Gabby sangat licik mengecoh dirinya.


Tadinya, George berpikir akan mendapatkan tinjuan, karena Gabby sudah terlihat hendak melayangkan kepalan tangan padanya. Ternyata, tidak!


Gabby sengaja mengangkat tangannya sejajar dengan kepalanya, karena ia tahu jika George memperhatikan tangannya yang mengepal dan pastinya ingin menangkis agar pria itu tak kalah darinya.


Namun, disaat ia berpura-pura hendak meninju wajah tampan George, lututnya bergerak menyerang buah yang ada di bawah sana. Buah berharga milik pria bermulut sampah itu.


George tak siap dengan serangan dari bawah itu, karena ia terfokus hendak menangkis tangan Gabby.


Hingga kini, ia terkulai di lantai. Meringkuk memegangi bagian bawahnya.


“Argh ... telur kembar siamku!” teriak George.


Kini giliran Gabby yang menertawakan pria itu. Ia berjongkok, menepuk pundak George yang terus bergerak melawan rasa sakitnya.


“Satu sama.” Gabby menjulurkan lidahnya mengejek George. “Kau pikir, aku mudah ditindas dan dibodohi? Enak saja! Aku akan membalas siapapun yang menyerangku atau melukaiku,” ujarnya.


Tangan kanan George menyentuh lantai, membantu tubuhnya untuk duduk. Dengan posisi itu, ia tetap memegangi buah yang paling ia sayangi itu.


Kini, Gabby dan George sejajar. Mereka saling beradu pandang. “Jika semua yang melukaimu kau balas. Kenapa kau tak membalas Papamu yang sudah membuatmu menangis?”


Gabby memilih berdiri untuk menghindari sorot mata yang mengintimidasinya itu. “Berbeda, dia Papaku, orang tuaku satu-satunya. Setidaknya aku bisa berbakti dengannya. Bagaimanapun dia memperlakukanku, aku tetaplah anaknya.”


“Jika kau ingin membalas semua yang melukaimu, maka artinya jangan kau beri pengecualian. Termasuk Papamu! Kau sudah mencoba menjadi seperti apa yang dia minta, mengapa kau tak mencoba memintanya memperlakukanmu seperti apa yang kau inginkan?”


“Kau sedang kesakitan, aku akan memanggilan dokter untuk datang ke sini.” Gabby memilih tak menjawab pertanyaan George. Daripada ia kembali bersedih jika mengingat ketidakadilan yang ia dapatkan dari Papanya.


Gabby memilih meninggalkan George. Ia menemui awak kapal untuk membantu memindahkan George ke kamar. Kemudian ia meminta awak kapal lainnya untuk menghubungi dokter yang bisa datang sekarang juga ke kapal yang ia tumpangi saat ini.


Wanita itu tak ke dalam kamar untuk melihat George. Ia memilih duduk di tepi kolam renang yang ada di kapal itu, sembari menunggu dokter datang. Ia tak ingin hanya berdua dengan George, sebab ia tak mau mendapatkan pertanyaan yang tak bisa ia jawab lagi.


...........


Terlihat dari kejauhan, ada sesuatu yang semakin mendekat ke arah kapal. Gabby berangsur mendekat ke pembatas untuk memastikan apa itu.


Dari jauh, hanya terlihat seperti sebuah titik cahaya lampu. Namun setelah mendekat, ternyata itu adalah speed boat yang mengangkut dokter yang akan memeriksa kondisi George.


“Nona, dokter sudah datang.” Salah satu pelayan di kapal itu memberitahu Gabby.


Gabby menjabat tangan sang dokter dan membawa dokter itu menuju kamar di mana sang pasien berada.


“Silahkan masuk.” Gabby membukakan pintu.


Dokter itu pun mengangguk dan tersenyum kepada Gabby.


Terlihat di atas ranjang, George masih meringkuk. Ia mengetahui kedatangan Gabby dengan dokter itu.


“Langsung periksa saja, dok!” titah George yang sudah ingin memastikan telur kembar siamnya baik-baik saja.


Gabby memberikan kursi untuk dokter duduk.


Dokter itu meletakkan tasnya, dan membenamkan pantatnya di kursi. “Apakah ada keluhan?”


“Ya! Senjata laras panjang dengan telur kembar siam milikku, baru saja terkena serangan.” George menjelaskan keluhannya pada Dokter, namun matanya menatap tajam Gabby.


Gabby tak terusik, ia justru menyunggingkan senyum kemenangannya. Lidahnya menjulur mengejek.


“Apa kau akan tetap di situ? Apa kau ingin melihat senjataku yang kau serang tadi?”


“Dih! Untuk apa aku melihatnya, palingan juga seperti anak jagung,” hina Gabby.


“Enak saja! Kau belum melihatnya, jika kau sudah melihatnya, ku pastikan kau akan pingsan melihat senjata laras panjang dengan telur kembar siamku!” George tak terima miliknya dihina.


Gabby mengejek dengan mulutnya yang komat kamit. Ia melenggang keluar, tak ingin menodai matanya. Tak lupa, pintunya ia tutup kembali.


Di dalam kamar, George mulai diperiksa kondisi anunya oleh dokter laki-laki itu.


“Apa dia baik-baik saja, dok?” tanya George setelah pemeriksaan selesai.


“Kondisinya tak buruk, tuan,” jawab sang Dokter.


Jawaban itu terdengar ambigu di telinga George, ia harus memastikan sesuatu. “Apakah milikku masih bisa memproduksi kecebong?”


Dokter itu terkekeh dengan pertanyaan pasiennya. “Tenang saja, tuan masih bisa mengeluarkan itu.”


Akhirnya George bisa bernafas lega. Masa depannya tak akan terancam.