Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 64



“Ada masalah?” tanya George saat ia sampai di motor milik Gabby. Ia ingin mengambil ponsel Gabby dan mencari tahu sendiri dengan si penelfon yang menyebabkan Gabby menjadi merah padam. Namun ketika ia sampai, panggilan sudah berakhir dan Gabby sudah memasukkan kembali ponselnya.


“Bukan urusanmu!” balas Gabby yang masih terbawa emosi.


Mata Gabby memicing melihat benda yang dibawa oleh George. “Untuk apa kau membeli itu?” tanyanya penasaran dengan menunjuk benda yang tak bulat sempurna.


George paham dengan arah pertanyaan itu. Ia langsung memakaikan helm yang baru saja ia beli di ruko tadi pada Gabby. Helm fullface yang sama persis dengan milik Gabby. “Untukmu,” ujarnya kemudian.


Gabby menampik tangan George yang hendak mengancingkan helm. “Aku bisa sendiri.” Ia pun melakukan dengan tangannya. “Lagi pula, kenapa kau membeli helm untukku? Aku sudah memilikinya.” Ia menepuk helm yang ada di atas tangki. “Aku tahu kau itu kaya, tapi tak perlu kau membuang-buang uangmu itu untuk membeli helm yang sama persis dengan milikku, aku jadi memiliki dua,” omelnya.


“Naik motor tak memakai helm tak akan membuat jalanan menjadi empuk, kan? Aku hanya ingin melindungi kepalamu saja jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan saat di jalan,” jelas George. “Dan ini.” Ia menepuk helm di atas tangki. “Sekarang ini milikku, aku sudah menggantimu dengan barang yang sama tanpa beda sedikitpun,” imbuhnya.


Gabby menghembuskan nafasnya malas, tak paham dengan jalan fikiran pria satu itu. Ia lebih baik menghadapi George yang dingin, ketus, dan kasar dengannya. Bukan George yang lembut dan perhatian seperti saat ini. Membuatnya menjadi bingung untuk menghadapi perasaannya sendiri. Ia ingin membentengi diri, ia tak ingin kecewa dikemudian hari lagi jika masih menaruh rasa pada George. Sebab, ia tahu betul George mencarinya hanya karena patah hati atas penghianatan mantan kekasihnya. Ia sadar dirinya hanyalah sebagai pelarian saja. Bukan pilihan utama. Suatu saat ia akan kecewa jika terlalu terlena dengan George.


“Apa yang kau fikirkan?” George membuyarkan lamunan Gabby. Pria itu sedari tadi mengamati pandangan mata Gabby yang kosong seakan ada hal yang sedang mengusik.


“Bukan urusanmu! Cepat kau tunjukkan tempat tinggalmu! Aku tak ada waktu di luar bersamamu! Waktuku sungguh berharga dan menjadi tak berkualitas jika denganmu!” omel Gabby disertai cacian karena tak ingin berlama-lama dengan George.


Gabby langsung berpegangan pada jas sisi kanan dan kiri, ia tahu akan lama dan menimbulkan perdebatan kecil jika tak berpegangan. Beberapa menit berkendara dengan George ia langsung paham.


“Dimana apartemenmu?” tanya Gabby sedikit berteriak dan mencondongkan tubuhnya agak kedepan, sebab kini keduanya menggunakan helm dan akan sulit terdengar jika berbicara biasa. Ia merasa aneh, sebab sedari tadi tak kunjung sampai.


“Apartemen La Norte,” jawab George sedikit menengok ke samping, namun pandangannya tetap ke jalan.


Gabby menepuk punggung George dengan keras. “Ini bukan jalan ke apartemenmu! Kau mau bawa aku kemana? Jangan bilang kau akan menculikku lagi?” kesalnya.


“Memangnya aku mengatakan ingin ke apartemenku?”


“Kau mengatakan untuk mengantarmu pulang! Itu sama saja ke apartemenmu!”


“Ya, tapi aku tak mengatakan akan langsung ke apartemenku. Dan mundurlah, benda kenyal milikmu terlalu menempel dengan punggungku!”


Gabby baru menyadari jika posisinya terlalu condong ke depan, karena kesal dengan George dan berdebat dengan pria itu membuatnya tak menyadarinya. Ia langsung kembali ke posisi semula.