
“Tidak,” jawab Gabby singkat dan datar. Ia kembali menatap ke depan setelah menjawabnya.
“Tapi matamu sembab dan kau juga menggunakan pakaian serba hitam seperti orang yang datang ke pemakaman,” balas Diora yang masih belum puas dengan jawaban Gabby.
Gabby memakai kaca matanya kembali untuk menutupi mata sembabnya. “Aku kurang tidur,” alasannya. “Dan masalah pakaian? Aku memakainya karena selepas dari sini, aku ingin pergi ke suatu tempat. Aku malas harus berganti-ganti pakaian,” imbuhnya.
“Tapi, kau terlihat tak senang.”
George menunggu jawaban dari Gabby, ia sebenarnya bisa saja membantu menjawab. Namun ia tak ingin ikut campur. Ia hanya mengamati saja.
“Papaku mencintai Mamamu,” jawab Gabby mencoba sebiasa mungkin menanggapinya. “Tak ada alasan untukku tak senang. Lagi pula, tak ada hubungannya warna pakaian dengan suasa hati,” elaknya kemudian.
George sedikit kecewa sesungguhnya dengan jawaban Gabby, seharusnya wanita itu mengutarakan isi hatinya. Bukannya menutupi terus. Namun ia tak bisa ikut campur dengan keputusan Gabby.
“Acara akan dimulai.” George sengaja menghentikan cecaran Diora kepada Gabby. Hanya itu yang bisa ia bantu.
Tapi memang upacara pengucapan janji suci akan dimulai.
Suasana menjadi hening dan khusyuk. Semuanya mendengarkan dengan seksama janji yang diucapkan oleh Lordeus dan Natalie.
Semuanya berdiri memberikan tepuk tangan. Hanya wajah Diora, Natalie, dan Lord saja yang terlihat bahagia. Sedangkan Gabby, George, dan Davis hanya memasang wajah datar.
Diora memeluk Gabby dengan hati gembira. “Akhirnya kita bersaudara, Gab. Aku sangat senang.”
Gabby tak langsung membalasnya, namun beberapa saat kemudian ia baru membalas. “Ya, aku juga,” lirihnya.
Gabby mencoba tersenyum saat Diora melepas pelukan dan menatapnya. Ia sedang pura-pura bahagia.
Lordeus dan Natalie menghampiri ke empat orang itu.
Marvel tak datang, sebab ia sedang mengurus untuk memantau anak buahnya yang tengah beroperasi. Ia ingin menghabiskan stok di gudangnya, daripada ia berhenti dan membuang stoknya. Lebih baik ia menghabiskannya terlebih dahulu, baru berhenti. Lumayan untuk menambah uangnya.
Ucapan selamat dan doa diberikan oleh George, Diora. Sedangkan Davis mengajak mereka untuk pesta barbeque nanti malam di penthouse miliknya.
Seorang pelukis yang handal, bisa menyelesaikan lukisannya dalam waktu singkat. Tarifnya sangat mahal. Namun Gabby tak memperdulikannya, yang ia ingin hanya lukisannya sesuai apa yang dia mau.
Gabby kembali masuk ke dalam membawa bingkai berukuran besar yang ditutupi oleh kertas berwarna coklat. “Ini, bukalah.” Ia memberikannya pada Lord.
Lord menyobek kertas pembungkus itu. Membalikkan lukisannya agar dia bisa melihat gambar apa itu.
“Apa maksudmu?” Lord meninggikan suaranya setelah melihat lukisan itu.
“Simple, agar kau tetap mengenang Mamaku, orang yang mencintaimu dalam diam!” Entah keberanian darimana, Gabby bisa menyuarakan isi hatinya pada Papanya. “Bukankah itu lukisan yang indah? Ada Mamaku, kau, dan Mama Diora. Keduanya istrimu, kau tak boleh pilih kasih.” Ia menekankan katanya pada kalimat terakhirnya. Seolah ia tengah menyindir Papanya agar tak pilih kasih dengannya juga.
Lord, entah mengapa ia tak suka dengan lukisan itu. Ia bahkan sudah tak ingat dengan Mama Gabby yang sudah meninggal. Ingin sekali ia membuangnya karena tak ingin mengenang masa lalu, namun Mama Diora sudah mengambilnya.
“Lukisan yang indah, terima kasih sudah memberikan kami hadiah. Pasti Mamamu sangat senang karena putrinya sangat perduli dengannya hingga mambuat lukisan ini, agar kami selalu mengenangnya dan tak melupakannya,” ujar Natalie tulus. Ia memeluk Gabby dan menepuk pundak anak tirinya itu. “Kau anak yang baik,” bisiknya.
Gabby mematung, ia tak membalas pelukan itu. Hingga Natalie melepaskannya.
Gabby melihat jarum jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku permisi, ada urusan penting yang harus aku lakukan,” pamitnya. Ia berbalik menuju ke arah pintu.
“Jangan lupa, nanti malam ke penthouseku,” teriak Diora mengingatkan.
Gabby memberikan isyarat tangan ok tanpa berbalik. Ia tengah menangis dalam diam, entah mengapa ia begitu sakit melihat ekspresi Lord yang terlihat tak suka dengan hadiahnya.
Davis, Diora, dan George pun ikut pamit pulang. Davis dan Diora akan menyiapkan untuk pesta barbeque, sedangkan George ingin menyusul Gabby yang sudah dipastikan sedang bersedih.
Kini tinggallah Lord dan Natalie.
“Apa putrimu tak suka dengan pernikahan kita? Kenapa dia menggunakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam juga? Seperti datang ke pemakaman,” tanya Natalie.
“Tidak, dia memang suka warna hitam. Itulah karakternya, kuat,” jawab Lord memandang penuh cinta seolah mengatakan bahwa tak ada yang tak menyetujui pernikahannya.