
Semua mata tertuju pada George menunggu jawaban dari pria itu. Namun yang ditunggu seolah merasa tak terusik dengan tatapan ketiga orang yang berada lima meter di depannya.
Davis dan Diora menatap penuh harap agar George mau diajak foto bersama sebagai kenang-kenangan bahwa persahabatan mereka sangatlah kental.
Sedangkan Gabby menatap penuh penolakan. Ia tak ingin memiliki kenang-kenangan sedikitpun yang diabadikan, terlebih dengan George, orang yang telah mematahkan hatinya.
“Apa?” tanya George tanpa berniat mendekat.
“Kau mau tidak, foto berempat?” Diora mengulangi pertanyaannya.
“No!” tolak George singkat, padat, dan tanpa mau dibantah.
Seperti dugaan Gabby, pria itu memang tak akan mau berfoto. Ia menganggukkan kepalanya pelan pertanda ‘good, keputusan yang bagus’ seraya bibirnya mengulas senyum smirk.
Melihat ekspresi Gabby, George langsung berubah fikiran. “Oke, aku mau.” Ia pun akhirnya berjalan mendekat.
Ekspresi Gabby berubah menjadi masam dan sekarang berganti George yang melayangkan senyum smirk untuk Gabby pertanda ‘kau kalah lagi.’
Shit! umpat Gabby yang menyadari dirinya tengah diejek oleh George. Namun bukan Gabby namanya jika dia tak bisa menjatuhkan harga diri seorang pria, apa lagi hanya seorang George. Ia pun membalas dengan senyum penuh arti.
Membuat George memudarkan senyum smirknya dan menduga-duga rencana apa yang akan diperbuat oleh Gabby.
“Oke, kita berfoto di sana.” Diora antusias sekali menunjuk tengah-tengah jalan yang bisa memperlihatkan kebersihan, kerapian, dan keunikan Desa Adat Penglipuran. “Aku akan meminta tolong dengan orang itu untuk memotret kita.” Ia menunjuk turis mancanegara yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Terserah kau sajalah,” sahut Gabby tak bersemangat.
“Dia mau,” ujar Diora memberikan informasi seraya mendekat ke rombongannya.
Mereka pun berjalan menuju tempat yang ingin dijadikan objek berfoto. Gabby berjalan dengan malas menuju tempat itu, sedangkan George sangat menikmati ekspresi kekalahan Gabby yang seperti saat ini.
“Jangan senang dulu kau, kau kira bisa menang dariku?” bisik Gabby saat George berada di dekatnya.
Kini dua pasang sahabat itu sudah siap untuk berpose. Pose awal Gabby dan Diora berdiri, sedangkan George dan Davis jongkok di bawahnya. Lalu mereka berganti-ganti gaya hingga kini Gabby dan Diora berdiri di tengah, sebelah kiri Diora ada Davis dan sebelah kanan Gabby ada George.
“Oke, ready?” tanya wanita yang akan memotret dan dijawab anggukan oleh Diora. Hanya Diora saja yang sangat antusias di sana.
“Waktu kekalahanmu akan tiba,” bisik Gabby tepat di telinga George.
Hembusan nafas Gabby langsung membuat tubuh George meremang. Lehernya begitu geli menggelitik.
Gabby melayangkan senyumannya untuk George dan merapatkan dirinya pada pria di sampingnya itu. Tangannya ia lingkarkan pada pinggul George. Sengaja ia tak memberikan jarak dengan George. Hingga sesuatu yang kenyal dan padat menempel pada lengan kekar pria itu.
George mematung, entah mengapa tubuhnya sungguh tak bisa menolak hal itu. Ia begitu menerima semua sentuhan yang secara tiba-tiba itu.
Wisatawan yang melihat George cekikikan dan menahan tawanya. Bahkan wanita yang hendak memotret mereka pun dibuat tertawa.
“Maaf, tuan. Sesuatu di celanamu sepertinya sedang mengeras, terlihat jelas di kamera ada yang menonjol.” Wanita yang hendak memotret dua pasang sahabat itu akhirnya membuka suaranya setelah ia menguasai dirinya agar tak tertawa terbahak-bahak. Ia menunjuk celana George sebagai pertanda.