Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 86



“Maaf, tuan. Saya hanya ingin menjawab pertanyaan tuan. Yang memperkerjakan Jack adalah Tuan Marvel sendiri, karena tuan merasa kasian dengan Jack yang menjadi gelandangan, memakan makanan sisa dari restoran yang pelanggannya tak menghabiskan makanan. Akhirnya tuan menawari Jack pekerjaan.” Jo menjawab pertanyaan Tuan Marvel.


Tuan Marvel menepuk jidatnya, ia tak menyangka bisa mempekerjakan orang sebodoh Jack. “Jo!” serunya.


“Ya, tuan?”


“Jelaskan padanya, apa kesalahannya.” Tuan Marvel sangat malas untuk menjelaskan kesalahan yang seharusnya sudah dimengerti dari pernyataan Jo tentang kerjasama team itu.


Jo mengangguk mengerti. “Dengarkan baik-baik dan resapi setiap katanya, Jack!” Jujur saja, ia juga kesal saat menghadapi orang yang lambat untuk berpikir ditambah sangat polos.


“Baik.” Jack mengangguk mengerti.


“Kesalahanmu adalah, karena kau tak berkoordinasi dengan Mark. Kau melakukan semuanya atas kehendak dan nalurimu sendiri, kau tak bertanya terlebih dahulu dengan Mark tentang apa yang akan kalian lakukan. Sehingga kau dan Mark tak melakukan hal yang sama! Mark ingin melindungi informasi itu dari Tuan Marvel karena ia tak ingin Tuan Marvel cemburu yang bisa membuat Tuan Marvel marah. Akibatnya akan dirasakan juga pada kalian. Mark ingin menutupi informasi itu demi keselamatan teamnya, tapi kau mengacaukannya!” jelas Jo sejelas-jelasnya. “Tuan Marvel tak akan marah jika kalian berbohong demi kenyamanan hati Tuan Marvel, asalkan tak akan ketahuan,” imbuhnya.


“Kau paham, Jack?” Tuan Marvel berseru di telinga Jack.


“Paham, tuan.” Jack menundukkan kepalanya. Ia pikir sudah benar yang ia lakukan itu, ternyata salah.


“Mark! Kau boleh menghajar Jack! Beri dia pelajaran agar tak berbuat hal bodoh yang merugikan teman satu teamnya lagi!” Tuan Marvel memberikan perintah pada Mark.


“Baik, tuan.” Mark segera melayangkan kepalan tinjunya. Ini adalah waktunya mengeluarkan semua kekesalannya dengan Jack.


Bugh! Bugh! Bugh!


Berkali-kali Jack mendapatkan pukulan dari Mark.


“Jack! Kau bisa melawan jika Tuan Marvel menyuruh orang lain memberikan hukuman. Kau tak harus berdiam diri hingga babak belur. Kecuali, Tuan Marvel yang memberimu hukuman langsung, kau tak bisa melawan!” ujar Mark di sela serangannya.


“Kau sendiri yang membuat pilihan.” Mark melayangkan pukulan terakhirnya.


Nafas Mark terengah-engah. Ia mengulurkan tangan untuk membantu Jack berdiri. “Sekarang kau sudah tahu, kan? Bagaimana bekerja dengan Tuan Marvel?”


“Ya, tapi itu bagus. Tuan Marvel hanya ingin anak buahnya saling bekerjasama, tak egois,” jawab Jack.


Tuan Marvel menaikkan sebelah alisnya. “Kau sudah puas, Mark?”


“Sudah, tuan.” Mark segera menjawab dan kembali ke posisi semula menghadap Tuan Marvel.


“Bagus, tugasmu sekarang bertambah. Ajari Jack agar dia lebih pintar!” titah Marvel. “Kau mengerti?”


“Siap, mengerti, tuan.”


“Jo, beritahu lagi pada Jack hal yang penting pada suatu team!” Kini titahnya jatuh pada sang tangan kanan.


Jo mengangguk, “dalam sebuah team, kau juga harus saling melindungi satu sama lain. Tak boleh ada kata egois!”


“Kau paham, Jack?”


Jack sedikit ragu untuk menganggukkan kepalanya. Pasalnya, ia masih ingin bertanya banyak hal. Namun diurungkan. Ia akan bertanya dengan Mark saja.


“Jo! Apakah mereka pemakai?”


Pertanyaan dari Marvel langsung membuat Mark mengeluarkan keringat dari telapak tangannya. Ia tahu hukuman apa selanjutnya yang akan didapatkannya.