Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 90



“Mau mencari di mana lagi? Seluruh lantai dan lorong sudah ku telusuri semuanya, setiap bagian di rumah sakit ini tak ada satupun yang terlewat. Tapi aku tak menemukan kuncimu,” ujar George dengan nafas yang terengah-engah. Ia baru saja selesai mengitari gedung setinggi lima lantai itu.


Karena tak menemukan kunci motor yang ia cari, Gabby akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen George. Ia ingin mencoba mencari sekali lagi di basement. Mungkin terjatuh dan tertutup oleh sesuatu.


“Aku akan mengantarmu dan membantumu mencari, tapi aku tak bisa lama. Aku harus menghandle pekerjaan Davis selama dia sakit. Jika masih tak ketemu, akan ku belikan motor baru yang sama.” George berucap selama berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke parkiran mobilnya.


“Bekerjalah jika kau sibuk, aku bisa mencarinya sendiri. Tak perlu berlebihan hingga membelikanku yang baru,” tolak Gabby.


“Terus, jika tak ketemu? Untuk apa motormu itu? Tak kau pakai?” tanya George dengan wajahnya yang menengok ke kiri melihat Gabby yang terus memandang ke depan.


Apa sebenci itu dia denganku? Hingga enggan untuk menatapku kecuali saat dia marah saja padaku. Apa aku harus membuatnya marah dulu agar dia mau menatap ke arahku? gumam George dalam hati.


“Aku akan memanggil ahli yang bisa menduplikat kunci,” jawab Gabby tetap dengan pandangan lurus ke depan.


George berdecak. “Jika ujung-ujungnya akan memanggil ahli penduplikat kunci, untuk apa kau membuang-buang waktumu dengan hal yang tak berguna?” ujarnya dengan nada dongkol.


Gabby tak langsung menjawab, hingga mereka sampai di mobil. Ia mengitari kendaraan beroda empat itu dan berhenti di samping pintu.


Gabby pun akhirnya membalas George dengan decakan pula. “Sama halnya dengan kau, untuk apa kau mencoba mendekatiku jika kau sudah tahu aku membencimu. Bukankah waktumu juga hanya terbuang sia-sia?”


Berhasil, wanita itu kini berbicara dengan menatap ke arah George.


George tak melawatkan kesempatan, ia mengunci pandangan matanya. “Karena aku yakin bisa meluluhkanmu hingga bisa ku tepati janjiku,” jelasnya.


Gabby menghela nafasnya kasar, hingga pundaknya sedikit bergerak. Janji lagi, janji lagi! Gabby sungguh bosan dengan kata janji yang diulang-ulang terus.


Pintu mobil terbuka. “Begitu juga dengan kunciku.” Ia pun memilih masuk terlebih dahulu dan membanting dengan kencang pintu itu hingga berbunyi.


George pun ikut masuk. Ia melirik Gabby yang sudah menyilangkan tangannya di dada dan memejamkan mata. Tak ada lagi percakapan antara keduanya. Selama perjalanan, mereka masih sama-sama diam.


Gabby, ia sengaja tak membuka suaranya untuk mengantisipasi jika obrolan mereka nantinya hanya akan berujung pada bertambahnya luka di hatinya.


Hingga Tesla abu-abu itu berhenti sempurna di basement tempat tujuan mereka.


Gabby segera keluar. Ia mendahului George untuk menuju ke motornya.


George langsung mengikuti Gabby dengan langkah lebarnya.


Gabby berhenti, ketika ia melihat ada seorang pria berpakaian serba hitam berdiri di samping motornya.


“Kenapa?” tanya George yang berhasil menyusul.


Gabby terus melihat ke orang berpakaian hitam itu. “Dia siapa?” tanyanya, menunjuk objek yang dimaksud dengan telunjuknya.


George mengedikkan bahunya. “Mana ku tahu. Kau buru-buru, tidak?” kelakarnya.


Gabby mencebikkan bibirnya. “Apa hubungannya buru-buru dengan pertanyaanku tentang pria itu?”


“Tentu saja ada. Jika kau tak buru-buru, aku akan bertanya terlebih dahulu padanya. Tapi, jika kau buru-buru, aku hanya bisa menjawabmu dengan tak tahu,” seloroh George.


Krik ... krik ... krik ...


Gabby diam tak menanggapi. Hanya tatapan aneh yang ia berikan pada George.


“Aku sedang mencoba membuatmu tertawa dengan melucu. Hargailah sedikit,” iba George yang merasa gagal membuat Gabby tertawa dengan candaan garingnya.


“Hahahaha.” Gabby tertawa dengan kaku karena terpaksa. “Kau lucu sekali.” Nada bicaranya pun terdengar kaku. Ia kembali memasang wajah datarnya setelah memberikan tepuk tangan tiga kali secara tak ikhlas.


Candaan garing, tak berbobot, dan tak lucu sedikitpun itu tak berlanjut ketika ada suara yang mengarah pada mereka.


“Apa rumah sakit yang kau maksud pindah ke apartemen?” Baritone itu begitu menggelegar dari balik punggung Gabby dan George, hingga membuat keduanya kompak memutar kepalanya untuk melihat sang pemilik.