Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 98



“Kau mau ke mana?” tanya Davis ketika George sudah berbalik hendak menuju keluar.


“Pergi!” jawab George dengan nada ketus dan enggan untuk berbalik.


“Gabby ke mana? Kenapa kau yang mengambil tasnya?” Kini giliran Lord yang bertanya.


Kali ini, George berbalik untuk menatap Lord dengan tajam. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa Gabby sedang di luar, menangis karena kau, Pak Tua! Namun mulutnya seolah tak bisa mengatakan hal itu.


“Jika kau perduli dan ingin tahu di mana anakmu, kau cari tahu sendiri!” seru George dengan wajah datar penuh amarahnya.


George sudah tak memperdulikan lagi respon Lord dan Davis. Kini, yang ada dalam pikirannya hanyalah Gabby. Wanita yang tengah menangis tanpa suara di luar ruangan.


Klek!


George membuka pintu, lalu menutup kembali dengan perlahan. Ingin ia banting pintu itu dengan keras, namun diurungkan ketika teringat ada Gabby yang tengah bersedih.


George berdiri di hadapan Gabby. Matanya tak suka ketika mendapati beberapa orang yang lewat melirik ke arah Gabby.


George meletakkan tas Gabby di lantai, lalu membuka jasnya. Ia berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Gabby. Ia tutupi kepala wanita itu dengan jasnya. “Kau masih sanggup berjalan? Ayo kita pergi dari sini. Kau sedang menjadi pusat perhatian. Aku akan menutupimu, kau pasti tak ingin orang lain melihat wajah sedihmu ini, kan?” bisiknya.


Gabby menjawab dengan anggukan. Ia sudah tak memperdulikan bahwa yang bersama dengannya adalah pria yang ia benci. Dirinya sedang tak sanggup untuk marah-marah ataupun berdebat dengan George.


George mengambil tas ransel yang tak terlalu besar itu, kemudian membawanya sebagaimana fungsinya. Ia lalu membantu Gabby berdiri. Ia melingkarkan tangannya di bahu Gabby, membenarkan jasnya agar menutupi wajah wanita itu.


George dan Gabby mulai mengayunkan kaki mereka bersamaan. Tangan kanan George digunakan untuk merangkul Gabby, sedangkan tangan kiri ia gunakan untuk memegang jas agar menutupi wajah Gabby dan tak terjatuh.


Sepanjang perjalanan, punggung Gabby masih terus naik turun. George merasakan sakit juga di hatinya. Ia paham betul mengapa Gabby menangis.


George membukakan pintu mobil, mempersilahkan Gabby untuk masuk ke dalam. Ia mencondongkan tubuhnya agak ke dalam untuk memakaikan seatbelt.


Sejenak, ia membuka jas yang menutupi wajah Gabby. Mata Gabby terlihat membengkak dengan kelopak yang masih terpejam. Tangannya terulur menyentuh permukaan kulit yang sudah basah itu. Ia menyeka lelehan air mata di sana dengan lembut.


George kembali merapatkan kain mahal itu. Ia membiarkan Gabby menangis kembali. Sebelum menarik tubuhnya yang sebagian di dalam mobil itu untuk keluar. Ia menyempatkan diri untuk mengelus lembut rambut yang tertutup dengan jasnya. Seolah ia sedang menyalurkan kekuatan.


Gabby bergeming. Ia tak mempermasalahkan apa yang dilakukan oleh George padanya. Karena, jujur saja ia nyaman dengan semua itu. Bahkan ia melupakan motornya.


George menutup pintu perlahan. Ia berjalan memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Segera menghidupkan mesin kendaraan roda empat itu dan melajukannya.


Sepertinya Gabby sangat sedih, karena selama perjalanan, punggungnya terus saja naik turun seolah tak ada lelahnya.


Namun, saat sudah mendekati tujuan. Perlahan Gabby mulai tenang, tapi masih keluar suara sesegukan yang mulai menghilang.


“Ternyata kau lelah juga, ku kira kau akan membuat mobilku banjir dengan tangisanmu yang tak kunjung berhenti itu,” kelakar George. Ia menyunggingkan sudut bibirnya karena senang bisa mengetahui sisi lain Gabby.