
Gabby mengangguk memberikan jawaban. “Iya, aku akan menemanimu.” Tangan kirinya yang tak di genggam oleh Marvel, ia gunakan untuk menepuk-nepuk punggung tangan pria itu. Memberikan keyakinan sekaligus menenangkan.
Marvel menghela nafasnya lega. Kedua tangannya reflek merengkuh tubuh wanita yang duduk di sampingnya itu. Rasa bahagianya tak bisa dibendung lagi.
Lama, Gabby tak membalas karena terlalu terkejut dengan Marvel yang begitu berlebihan. Padahal, dulu pria itu tak pernah semanis ini dengannya. Hingga akhirnya tangannya mengulur menepuk beberapa kali punggung Marvel.
Marvel selalu bersikap biasa saja dengan Gabby dan penolakan-penolakan wanita itu. Namun, setelah kemunculan George di hidup Gabby lagi, membuat Marvel begitu takut kehilangan wanita pujaan hatinya.
Dulu, Marvel merasa tak akan ada pria lain yang berani masuk ke dalam kehidupan Gabby karena sifat angkuh dan galak yang dimiliki Gabby. Sehingga ia tak takut ada saingan.
Tapi, sekarang saingannya muncul, yaitu George. Orang yang ia tahu menjanjikan akan menikahi Gabby, dan ia pun melihat Gabby ada perasaan dengan George.
Marvel mengurai pelukannya setelah puas menuangkan kebahagiaannya.
Sedari tadi, adegan romantis itu ditonton oleh sang terapis. “Nona, kau beruntung memiliki orang yang sangat mencintaimu. Jangan sia-siakan orang yang begitu tulus denganmu. Atau, kau akan menyesal nantinya,” ujarnya. Ia melihat reaksi Gabby sedari tadi. Ia melihat ada keraguan pada Gabby, sehingga ia menyimpulkan bahwa antara Marvel dan Gabby sedang terjadi cinta sepihak.
Gabby hanya menjawab dengan senyuman kaku. Namun otaknya kembali aktif memikirkan ucapan terapis itu.
Apa aku sungguh akan bahagia dengan Marvel? Apa Marvel akan bahagia hidup denganku meskipun aku tak mencintainya? Mengapa begitu sulit menerimanya? Ayolah Gabby, kau jangan bodoh hanya karena cinta! Apa yang kau lihat dari pria bermulut sampah itu hingga kau sulit membuka hati untuk pria setulus Marvel? gumam Gabby dalam Hati.
“Baiklah, jadi kapan Tuan Marvel siap untuk mulai penyembuhan?”
Marvel mengibas-ibaskan tangannya di depan wajah Gabby yang tengah termenung dengan tatapan kosong. Tak ada jawaban, ia pun menepuk pundak Gabby, hingga membuat wanita itu terperanggah.
“Ada apa?” tanya Gabby bingung.
Gabby memutar-mutar bola matanya untuk berpikir. “Em ... aku belum tahu, aku akan memberikanmu kabar jika aku sudah tak ada urusan di kota ini.”
Sebenarnya, ada perasaan yang tak enak pada Marvel ketika Gabby menjawab dengan ragu. Tapi ia mencoba untuk menerima keputusan itu.
“Aku akan memulainya ketika Gabby sudah siap.” Marvel menjawab pertanyaan terapisnya yang belum sempat ia jawab.
Terapis itu mengangguk mengerti. “Baiklah, hubungi saya jika memang sudah siap. Ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi nomor yang tertera.” Ia memberikan selembar kertas berukuran kecil.
Marvel pun menerimanya dan menyimpan ke dalam dompetnya. “Terima kasih.”
Selesai sudah konsultasi itu. Gabby dan Marvel meninggalkan pusat rehabilitasi.
Di dalam mobil, hanya ada Gabby dan Marvel saja, karena Jo sengaja tak diajak. Marvel hanya ingin berdua saja.
Selama perjalanan, Gabby lebih banyak diam dengan mata yang kosong seolah banyak pikiran.
Marvel tak tahu apa yang sedang mengganggu Gabby. Tapi ia takut jika yang mengusik Gabby adalah terkait kegundahan hati.
“Hubungi aku, kapanpun kau siap untuk menemaniku. Saat itu juga kita langsung berangkat. Ingat, kau tak bisa merubah keputusanmu,” ujar Marvel saat mobilnya berhenti di lampu merah.
Gabby tak menjawab, ia hanya beradu pandang dengan Marvel, mengangguk, dan mengulas senyum yang membuat Marvel menjadi lega.