Gabby, My Fierce Girl

Gabby, My Fierce Girl
Part 65



“Kenapa kau membawaku ke sini?” Gabby merasa bingung ketika George membawanya ke basement salah satu mall terbesar di Kota Helsinki.


“Ikut saja, aku ingin membuktikan padamu sesuatu yang bisa membuatmu percaya jika ucapanku tidak main-main.”


George melepaskan helemnya, lalu turun dan melepaskan helm Gabby. Ia tak membiarkan Gabby menampik usahanya itu. “Ku mohon menurutlah, aku tak ingin memaksamu hingga menyakitimu lagi,” ujarnya yang membuat Gabby membiarkan George melakukan apa yang ingin dilakukan oleh pria itu.


George mengulurkan tangannya untuk membantu Gabby turun. Namun wanita itu mengabaikan dan memilih turun dengan gayanya sendiri.


“Ayo.” George menggandeng tangan Gabby, meskipun Gabby mencoba menolak, tapi pria itu tak mau melepaskan sedikitpun.


Gabby mengernyit heran menatap tangannya yang bertautan dengan pria yang kini berhasil membuatnya bingung. Sebenarnya apa yang ingin dibuktikan oleh George di tempat umum seperti saat ini mereka berada. Meskipun malas, Gabby tetap mengikuti langkah kaki George.


Mereka masuk ke dalam mall melalui lift yang ada di basement itu. George memencet lantai empat tempat tujuannya.


“Apa kau tak bisa melepas tanganmu itu? Aku tak nyaman jika kau terus menggandengku,” tegur Gabby. Ia takut tak bisa mengendalikan perasaannya.


“Tidak,” sahut George. Ia hanya tak ingin Gabby kabur sebelum ia membuktikan sesuatu.


Gabby berdecak, “aku tak akan kabur, apa kau tak lihat semua mata selalu menatap ke arah kita? Aku seperti anak kecil yang tengah berjalan bersama pamannya.”


“Oke, berikan tasmu padaku sebagai jaminannya.” Tentu saja George tak akan mempercayai begitu saja omongan Gabby. Belajar dari yang sudah berlalu, bahwa Gabby memiliki akal licik yang bisa mengelabuhi dirinya. Ya, salah satunya saat dirinya diusir secara tidak terhormat dari apartemen Gabby.


Gabby mendesah malas. “Apa aku ini terlihat seperti seorang pembual?”


“Tidak, hanya saja kau itu wanita dengan jutaan akal licik.” George menatap datar Gabby dari pantulan cermin di dalam lift.


“Setidaknya aku bukan orang yang suka melupakan janji,” sindir Gabby. Ia melepaskan tas ranselnya dan memberikannya pada George tanpa menatap pria itu.


George menerimanya dan meletakkannya sesuai fungsinya. Ia melihat Gabby yang enggan untuk mengalihkan pandangannya. “Apa kau sangat membenciku?” celetuknya.


Keduanya terdiam, menatap satu sama lain dari pantulan cermin dalam lift.


George berkutat dengan fikirannya, mencari dimana letak kesalahannya hingga membuat Gabby begitu membencinya. Padahal ia sudah mencoba menjelaskan semuanya dengan jujur tanpa menutupi satupun.


Sedangkan Gabby, ia sedang berperang dengan hati dan pikirannya. Ia ingin menyelaraskan keduanya. Hatinya berkata masih ada rasa, tapi pikirannya terus menolak agar tak menggunakan hati lagi yang pastinya akan berujung sakit hati.


Lift terasa begitu lambat dari basement ke lantai empat. Kesunyian menemani keduanya hingga akhirnya.


Tring!


Bunyi lift sampai tujuan pun akhirnya terdengar.


“Aku tak akan menggandengmu, berjalanlah di sampingku,” ajak George. Ia tak ingin membuat Gabby semakin membencinya dengan terlalu memaksa.


Gabby berjalan mengikuti George, namun tak di samping pria itu. Tapi satu langkah di belakang.


Hingga ia mengernyit heran dengan tujuan mereka. Dari nama yang tertera pada toko itu saja ia sudah tahu berada dimana. Dan untuk apa ke sana? Ia masih tak paham. Hingga suara yang sangat ia kenal menyapa.


“Loh ... kalian kenapa disini?” Suara Diora dengan ekspresi terkejutnya membuat Gabby berfikir bahwa George mengajaknya untuk mengikuti sepasang suami istri itu.


Mendengus sebal Gabby. “Dia, memaksaku lagi.” Giginya bergemelatuk menggambarkan betapa bencinya dia dengan George.


“Kau, jangan terlalu membencinya, karena benci dan cinta itu bedanya hanya tipis,” seloroh Diora mengingatkan.


“Cih! Tak sudi,” elak Gabby lalu memilih mendekat ke sahabatnya.