
Marvel mengelus pundak Gabby untuk memberikan kekuatan. Ia tak mengeluarkan sepatah katapun, menunggu Gabby menyelesaikan kalimatnya.
“Aku memilih orang yang mencintaiku. Aku akan hidup bahagia bersama dengannya.” Aku akan mencoba mencintainya juga.
Kini giliran Marvel yang berbicara dengan batu nisan. “Aku akan terus mencoba membahagiakan anakmu, meskipun banyak kekurangan yang aku miliki. Aku akan menghujaninya dengan cinta dan kasih sayangku setiap harinya. Aku tak akan membuatnya bersedih.”
Setelah puas berbicara dengan batu nisan, Marvel dan Gabby kembali ke mobil. Gabby teringat jika Diora sudah melahirkan. Ia menggigit bibir bawahnya untuk membuat keputusan. Apakah akan menjenguk atau tidak. Ia masih belum siap jika bertemu dengan Papanya. Belum siap menerima kenyataan yang ada.
Marvel melihat gerak gerik Gabby. Ia bahkan belum menjalankan mobilnya karena terfokus dengan Gabby yang terlihat menggigiti bibir bawah.
“Apa ada yang mengusik pikiranmu?”
Pertanyaan Marvel membuat Gabby kembali tersadar. “Ah, tidak. Aku hanya sedang berpikir saja.”
“Apa yang kau pikirkan?”
Gabby ragu, namun akhirnya ia mengatakan juga. Mungkin dengan bercerita dengan Marvel akan membantunya menentukan pilihan.
“Datang saja, sekaligus kita memberitahukan perihal pernikahan kita,” cetus Marvel.
Akhirnya, Gabby memutuskan untuk ke rumah sakit bersama Marvel. Mau tak mau, suka tak suka, dia memang harus menampakkan wajahnya ke depan semua orang lagi. Ditambah, mereka adalah keluarga. Dan juga, George sudah menemukannya.
...........
“Kau masuklah dulu, aku ingin ke toilet.” Marvel sudah menahan hajatnya sedari berada di pemakaman. Kali ini ia sudah tak tahan lagi.
“Kenapa kau selalu bermasalah perutnya? Apa kau diare? Apa kita perlu berobat? Sekalian saja, selagi kita berada di rumah sakit.” Gabby merasa khawatir. Sebab, ini sudah yang ketiga kalinya Marvel ingin buang air besar.
“Baiklah. Aku tak tahu pasti di mana ruang rawat Diora. Jadi, nanti kau tanya saja pada resepsionis.”
Marvel mengangguk. Mereka keluar bersamaan dari mobil. Namun tujuan mereka berbeda. Marvel langsung mencari toilet, sedangkan Gabby menuju resepsionis untuk bertanya ruangan Diora.
Saat ia hendak menuju resepsionis, George datang bertepatan juga dengan Lord dan Natalie yang sampai di sana.
“G2?”
Gabby memutar tubuhnya saat merasa ada seseorang yang memanggilnya. “Papa?”
Lord langsung menghampiri anaknya yang sudah lama tak ia lihat itu. Ia segera memeluk tubuh semampai anaknya.
Gabby mematung sejenak, ia sungguh tak menyangka jika Papanya akan memeluknya sangat erat. Sepertinya, ini adalah pelukan pertama mereka selama Gabby hidup. Beberapa detik kemudian, ia baru membalas pelukan itu.
“Kau dari mana saja? Aku dan George mencarimu selama sembilan bulan ini,” cecar Lord setelah melepaskan pelukannya.
Gabby terpaku tak percaya, Papanya dan George mencarinya? Ia kira semuanya tak akan perduli dengan kepergiannya. Ia beralih menatap George yang berdiri tegak tanpa ekspresi, kemudian beralih ke Papanya lagi.
“Aku menemani Marvel untuk penyembuhan putus obatnya.”
Mendengar kata Marvel, Lord malah menjadi gusar. Entah apa yang membuatnya gusar, padahal Gabby sudah jelas masih hidup di depan matanya dan tak terlibat masalah juga.
Mereka berempat pun akhirnya ke ruang rawat Diora. Lord dan Natalie masuk terlebih dahulu, sedangkan George dan Gabby baru beberapa saat setelah itu.
“Kau pergi kemana saja selama ini?” Pertanyaan dari Diora langsung menyambut Gabby.