
Damian bergerak, menuju ruangan di mana Ainsley berada. Tentunya sesuai dengan arahan Michael. Di atas sana, Michael sibuk dengan laptopnya. Tidak saja mencari posisi adiknya tapi dia juga harus mencari ruang kontrol dari dua kapal tersebut dan tidak hanya itu, dia juga mencari keberadaan Mayumi.
Dia terlihat sibuk dengan beberapa komputer yang menyala. Tentu helikopter itu dilengkapi dengan fasilitas canggih sehingga dia bisa melacak lokasi dengan mudah. Setelah memberitahu lokasi keberadaan Ainsley yang saat itu masih bersenang-senang kepada Damian, Michael mencari ruang kontrol kapal.
Dia menyelusuri setiap ruangan sampai akhirnya dia menemukan ruangan itu dan memberitahu kakak dan juga kakak iparnya.
Matthew melangkah maju, sambil menembaki musuh yang terlihat. Ruang kontrol berada di dua lantai di atasnya jadi dia bergerak naik seorang diri karena anak buah yang mengikuti mereka, memasang bom di setiap ruangan yang telah dia lewati. Entah kenapa dia merindukan pedangnya, seharusnya dia membawanya.
Suara tembakan terdengar dari dua kapal yang terus bergerak ke laut lepas karena saat itu, Vivian dan Marlyn juga menyerang musuh yang mereka lihat.
"Babe, bagaimana keadaan di sana?" tanya Matthew pada istrinya seraya menaiki anak tangga.
"Tidak perlu khawatir," jawab Vivian sambil mengintai musuh.
"Baiklah, aku sedang bergerak menuju ruang kontrol," ucap Matthew.
"Aku juga akan segera ke sana setelah aku membereskan yang di sini," jawab Vivian dan setelah itu dia keluar dari persembunyian untuk menembak musuh.
Suara dentingan peluru terdengar, karena dia dihujani musuh dengan timah panas. Saat itu Marline dan Vivian sedang bersembunyi, mereka berada di sisi yang berlawanan. Mereka harus menyelesaikan musuh yang ada di sana terlebih dahulu jika tidak Vivian tidak bisa bergerak menuju ruang kontrol.
"Ini benar-benar membuang waktu kita, Marline," ucap Vivian.
"Jadi?" Marline mengisi peluru senjata apinya.
"Aku keluar untuk mengelabui mereka dan setelah itu kau dan tembak!"
Marline mengangguk, mereka saling pandang. Senjata api sudah terangkat, mereka berdua mengangguk dan dalam hitungan ketiga, Vivian keluar dari persembunyian mereka. Timah panas kembali menghujaninya, Vivian berlari untuk menghindari peluru.
Peluru-Peluru itu menghujani Vivian sampai membuatnya harus berlari naik ke atas tembok dan bersalto ke udara untuk menghindari peluru. Marline keluar dari persembunyian, tanpa musuh sadari mendapat tembakan dari Marline karena mereka fokus pada Vivian.
Marline melangkah maju sambil menembak, begitu juga dengan Vivian. Kini mereka yang menguasai arena karena musuh tidak menyangka mendapat serangan mendadak dari Marline.
Suara tembakan yang terus terdengar membuat katsuo waspada, pria itu masih berada di dalam ruangan di mana Mayumi berada, berbicara dengan Akira untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang sedang menyerang mereka.
"Aku tidak tahu!" teriak Akira saat Katsuo bertanya padanya.
"Bukankah kau bilang kita hanya melawan organisasi Black King yang kecil?" tanya Katsuo pula.
"Aku tidak tahu, sebaiknya kita bersiap dan jika keadaan terdesak, bunuh Mayumi!" ucap Akira. Pria itu mengumpat, dia merasa gadis yang dia tangkap bukan orang sembarangan. Seharusnya Sherly mengatakan padanya siapa gadis itu sebenarnya tapi sayang, Sherly juga tidak tahu.
Setelah para musuh sudah bersih, Marline dan Vivian berpencar. Vivian pergi ke ruang kontrol, sedangkan Marline dan James pergi ke ruangan di mana Mayumi berada. Mereka harus melewati banyak ruangan dan melawan musuh, mereka akan terus bergerak karena ruangan di mana Mayumi disekap, berada empat lantai di atas mereka.
Suara tembakan dari dua kapal terus terdengar, Matthew bergerak cepat menuju ruang kontrol begitu juga dengan Vivian. Mereka menembaki setiap musuh yang terlihat. Mereka akan mematikan mesin kapal secara bersama-sama nantinya.
Akira dan katsuo sedang bersiap, mereka akan menghadapi siapa pun musuh mereka nanti. Pedang yang mereka bawa dikeluarkan, benda tajam itu tampak berkilau siap meminum darah.
Mereka bersama dengan beberapa anak buah, Akira memerintahkan salah satu dari anak buahnya untuk melihat siapa musuh yang akan mereka lawan, karena dia curiga tidak hanya Damian Maxton yang harus mereka hadapi saat ini.
Damian terus bergerak menuju lokasi di mana Ainsley berada. Suara tembakan terdengar tiada henti dan hal itu membuatnya semakin khawatir karena Ainsley sedang melawan musuh seorang diri. Walau dia tahu Ainlsey jago menembak dan bela diri, tapi dia tetap mengkhawatirkan keselamatan istrinya.
Damian berlari dengan cepat, menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Kapal yang besar dan memiliki beberapa lantai, memperlambatnya apalagi dia juga harus menembaki musuh yang terlihat. Semoga dia tidak terlambat apalagi suara tembakan sudah terhenti karena saat itu, peluru senjata api Ainsley sudah habis dan kini, gadis itu berada di dalam ruangan dengan pisau di tangan dan dia terkepung oleh anak buah Akira yang memiliki senjata api lengkap.
Dua orang dari mereka maju ke depan senjata api yang mengarah ke depan. Mereka mendapat tugas untuk menyerbu masuk ke dalam dan melumpuhkan gadis yang ada di dalam sana. Aba-Aba sudah diberikan, mereka mulai bergerak masuk, sedangkan Ainsley berdiri di balik pintu dengan sebuah kursi lipat yang terbuat dari besi.
Kursi itu berada di sampingnya dan bisa dia gunakan sebagai senjata karena dia tidak akan menang menggunakan pisau kecilnya. Dua orang yang akan menyergap melangkah semakin mendekati pintu, kursi di tangan juga sudah terangkat karena dia akan memukul mereka menggunakan benda itu.
Mereka berteriak, sedangkan yang lain menembak bahkan menyergap masuk ke dalam ruangan untuk menembaki Ainsley. Gadis itu berlari dan melompat ke sebuah meja untuk bersembunyi tapi sayangnya lengannya membentur lantai dengan keras dan dia rasa lengannya terkilir.
"Sial!" Ainsley bersembunyi sambil memegangi lengannya.
Dia benar-benar terpojok, karena musuh masuk menyergap. Sepertinya dia tidak punya pilihan selain menyerah. Lagi pula dia yakin, dia akan tetap selamat.
"Keluar, jika tidak kami tembak!" ucap seseorang yang ada di sana.
Ainsley mengintip sambil memegangi lengannya yang keseleo. Sial! Seharusnya dia bertempur di atas ranjang dengan Damian di malam pernikahan mereka tapi dia harus menghabiskan malamnya di atas kapal itu.
"Keluar!" teriak salah satu musuh lagi.
"Oke, aku menyerah," Ainsley keluar sambil mengangkat tangan dan pada saat itu, puluhan senjata api mengarah ke arahnya.
"Letakkan kedua tanganmu di belakang kepala!"
Ainsley hendak mengangkat tangan tapi tanpa sengaja dia melihat Damian berdiri di balik pintu dan memberikannya sebuah kode agar dia berpura-pura mengikuti permintaan musuh. Ainsley tersenyum, akhirnya yang dia tunggu datang.
"Sekarang!" teriak musuh lagi.
Ainsley mengikuti perintah, mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di belakang kepala. Salah seorang mendekatinya dengan hati-hati karena dia akan menangkap gadis itu. Semua fokus ke Ainsley dan tampak waspada, mereka takut gadis itu memiliki senjata tersembunyi tapi bukan gadis itu yang harus mereka waspadai. Yang harus mereka waspadai adalah pria yang ada di luar sana.
Ainsley tampak tersenyum, matanya fokus ke pintu. Saat musuh yang hendak menangkap Ainsley semakin mendekat, Damian keluar dari balik pintu dengan senjata api yang sudah siap ditembakan.
"Jangan sentuh istriku!" ucapnya.
Sontak semua melihat ke arah pintu tapi Damian sudah melangkah masuk dan menembaki kepala mereka dengan pistol kedap suaranya. Ainsley juga tidak tinggal diam, dia menendang musuh yang mendekatinya dan merebut senjata apinya.
Suara tembakan terdengar, keadaan mulai terbalik. Musuh yang tadinya mengepung Ainsley, kini tidak berdaya karena mereka tidak menduga akan mendapat serangan tiba-tiba. Mereka tidak bisa lari, tidak bisa bersembunyi karena mereka mendapat serangan dari dua arah. Saat mereka hendak menembak, Damian dan Ainsley sudah melubangi kepala mereka terlebih dahulu.
Para musuh sudah bersimbah darah di atas lantai, Ainsley membuang senjata apinya dan berlari menghampiri Damian. Dia bahkan melompat masuk ke dalam pelukan suaminya tanpa ragu.
"Kenapa kau begitu lama?" tanya Ainsley.
"Sorry, apa kau baik-baik saja?" Damian melihat istrinya dengan teliti dan tampak lega karena tidak menemukan satu luka pun di sana.
"Tenang saja, hanya tanganku yang terkilir."
"Apa sakit?" Damian terlihat khawatir.
"Jangan dipikirkan, kita harus bergegas," Ainsley mendekati musuh yang sudah mati lalu mengambil senjata apinya.
"Tidak perlu khawatir, adikku dan kakak iparmu sedang menyelamatkan Mayumi."
"Aku senang mendengarnya tapi bukan itu saja yang harus kita khawatirkan," ucap Ainsley.
"Apa maksudmu?" tanya Damian.
"Ayo bergegas, malam pernikahan kita masih panjang, Dam-Dam!" ajak Ainsley seraya mengangkat dua senapan yang dia ambil.
Mereka keluar dari ruangan, sedangkan saat itu Matthew dan Vivian sudah berada di ruang kontrol. Mereka sedang berusaha mematikan mesin kapal dengan bantuan Michael.
Di ruangan lain, Akira tampak begitu marah saat tahu hampir semua anak buahnya yang ada di kapal sudah mati. Dia segara menghubungi Katsuo tapi tiba-tiba saja mesin kedua kapal itu mati. Benda itu tidak bergerak sedikitpun. Akira berusaha menghubungi kapten kapal tapi sang kapten sudah mati. Pria itu begitu murka, apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang harus mereka lawan?