Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Rasa Takut Damian



Beberapa waktu telah berlalu, perut Ainsley sudah membesar. Banyak masalah yang terjadi selama kehamilannya. Kram yang dia rasakan membuatnya mengalami pendarahan dan tentunya hal itu membuat mereka panik.


Jager yang mengawasi menantunya dengan sigap membawa menantunya ke rumah sakit saat pendarahan itu terjadi. Dia lebih takut dari pada siapa pun dan dia lebih khawatir dari pada siapa pun.


Saat kejadian itu terjadi, Ainsley tidak diijinkan pulang. Tidak saja jager yang melarang, keluarga Ainsley juga melarang. Ainsley harus menjalani perawatan di rumah sakit dan tentunya Jager melarang Damian pergi ke kantor karena dia harus menemani istrinya di rumah sakit.


Ainsley diminta berada di rumah sakit beberapa bulan sampai janinnya kuat, itu dilakukan untuk menghindari hal buruk terjadi. Walau berat dan bosan berada di rumah sakit, Ainsley tidak keberatan apalagi Damian selalu menemaninya dan keluarganya datang menjenguk silih berganti.


Dia berada di rumah sakit sampai usia kehamilannya menginjak bulan keenam. Ainsley dinyatakan boleh pulang tapi dia tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Tentunya Jager mengawasi menantunya dengan baik, seorang pelayan bahkan diperintahkan untuk mengikuti ke mana pun Ainsley pergi selama tidak ada Damian.


Walau Ainsley merasa ayah mertuanya berlebihan tapi dia tidak keberatan karena dia tahu, ayah mertuanya mengkhawatirkan dan menyayanginnya.


Ainsley sedang duduk di sebuah kursi malas yang ada di dekat kolam renang. Dia bosan berada di dalam rumah terus. Dia ingin berjemur sebentar di sana, tentunya sang pelayan berada di dekatnya.


Mata Ainsley terpejam, menikmati semilir angin yang berhembus. Ternyata berbaring di sana cukup nyaman, dia bahkan tidak menyadari Damian sudah kembali dan menghampirinya.


Ainsley terkejut saat Damian mengusap perutnya. Ainsley menegakkan duduknya sambil tersenyum.


"Bagaimana kabar kalian?" Damian masih mengusap perut istrinya dan menciumnya.


"Seperti yang kau lihat."


"Baby, Daddy sudah tidak sabar kau segera lahir!" saat Damian berkata demikian, senyum Ainsley semakin mekar.


Dia juga sudah tidak sabar menunggu bayi mereka lahir apalagi sudah banyak yang mereka lalui selama kehamilannya.


"Apa kalian sudah memilih nama untuk bayi kita?"


"Sepertinya Daddy sudah menentukannya apalagi anak kita akan menyandang namanya."


Ainsley tersenyum, tangannya sedang mengusap kepala dan memainkan rambut hitam tebal suaminya. Semoga saja rambut anak mereka seperti rambut Damian.


"Sudah berapa lama kau duduk di sini, Sayang?" Damian bergeser dan duduk di sisi istrinya.


"Aku bosan di dalam Dam-Dam, aku ingin menikmati waktu di sini."


"Baiklah, aku akan menemanimu, katakan jika kau menginginkan sesuatu."


Ainsley mengangguk dan bersandar di dada suaminya dengan nyaman. Mata Ainsley kembali terpejam, dia tampak menikmati usapan yang diberikan Damian di perutnya. Tangan Damian terkadang berhenti sejenak saat bayi mereka bergerak dan menendang. Itu momen yang tidak ingin dia lewatkan.


Menikmati kebersamaan mereka sambil merasakan pergerakan bayi mereka yang semakin aktif di dalam sana.


Ainsley memegangi perutnya saat bayinya kembali bergerak. Dia juga terlihat bergerak gelisah karena dia merasa sedikit nyeri.


"Ada apa?" Damian terlihat khawatir.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak nyaman saja dan rasanya ingin ke kamar mandi!"


"Baiklah, aku akan membawamu masuk ke dalam," Damian beranjak dan menggendong istrinya.


Ainsley kembali meringis saat bayinya kembali bergerak, rasanya ingin segera berbaring. Entah kenapa rasanya berbeda bahkan dia merasa sesuatu mengalir dan membasahi gaun yang dia kenakan.


"Astaga, Tuan!" pelayan yang selalu mengikuti Ainsley terkejut saat melihat sesuatu menetes dari bagian bawah pakaian Ainsley.


"Ada apa?" tanya Damian.


"Sepertinya Nyonya sudah mau melahirkan!" ucap si pelayan dan pada saat yang bersamaan Ainsley berkata, "Dam-Dam, perutku sakit!" ucap Ainsley sambil meringis menahan sakit.


"Jika begitu aku akan membawamu ke rumah sakit!" Damian berlari di susul sang pelayan.


Di dalam rumah, Jager terkejut saat mendengar teriakan putranya yang meminta supir mereka untuk mengeluarkan mobil. Jager keluar dari kamar, dia semakin terkejut saat melihat Damian berlari sambil menggendong istrinya.


"Ainsley mau melahirkan, Dad!" jawab Damian seraya berlari melewati ayahnya.


"Segera bawa dia ke rumah sakit. Aku akan mengabari yang lain dan mengambil perlengkapan yang Ainsley perlukan!" Jager pun bergerak cepat, dia meminta sang pelayan mengambil semua yang dibutuhkan oleh Ainsley.


Mobil sudah siap, Damian membawa istrinya yang semakin terlihat kesakitan ke dalam mobil dan segera meminta sang supir untuk segera jalan.


"Bertahan sebentar lagi, Sayang," Damian mencium dahi istrinya untuk menenangkanya.


"Sakit, Dam-Dam," ucap Ainsley seraya memegangi perutnya.


"Sebentar lagi, Sayang. Tahan sebentar lagi," Damian memeluknya erat, tidak tega melihat istrinya yang kesakitan seperti itu.


Dia meminta supirnya untuk menjalankan mobil lebih cepat agar mereka segera tiba di rumah sakit.


"Sa ... kit!" ucap Ainsley lagi.


"Bertahanlah," Damian kembali mengulangi ucapannya.


Rasa sakit yang Ainsley rasakan semakin menjadi, dia merasa pakaian bagian bawahnya sudah basah semua. Itu karena air ketubannya sudah pecah.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, mereka tiba di rumah sakit. Damian segera membawa istrinya tanpa membuang waktu. Dia berlari memasuki rumah sakit, dia juga berteriak agar istrinya segera di tangani. Dia sudah tidak punya waktu untuk membawa Ainsly ke rumah sakit keluarganya, sebab itu dia hanya bisa membawa Ainsley ke rumah sakit terdekat agar segera di tangani.


Kabar itu membuat Kate heboh, dia segera mengajak Albert untuk bergegas pergi ke rumah sakit. Tentu Alice dan Jacob tidak mau ketinggalan. Tanpa perlu komando mereka sudah menungu di dalam mobil. Hal itu sedikit membuat Albert dan Kate terkejut saat mereka hendak naik ke atas mobil karena kedua tua bangka itu sudah menunggu.


"Cepat!" ucap Jacob, dia terlihat tidak sabar.


"Sejak kapan Daddy dan Mommy masuk ke dalam mobil?" tanya Albert heran.


"Tidak perlu banyak bertanya, segera berangkat! Aku harus tiba terlebih dahulu sebelum Ainsley melahirkan. Si tua bangka itu tidak boleh mendahului aku!" ucap Jacob.


Albert dan Kate saling pandang, apa maksud ucapan ayahnya? kenapa tercium aroma persaingan dari nada bicara ayahnya?


"Daddy tidak sedang melakukan taruhan, bukan?" tanya Albert curiga.


"Tentu saja tidak, untuk apa aku taruhan?"


"Lalu?" Albert semakin penasaran dan sengaja tidak menyalakan mobil sedari tadi.


"Sudah aku katakan jangan bertanya dan segera jalan!" ucap ayahnya kesal.


Albert terkekeh dan menyalakan mesin mobil, dia hanya ingin menggoda ayahnya saja. Mobil mulai berjalan menuju rumah sakit, selama di perjalanan Kate menghubungi kedua putranya dan memberi mereka kabar jika Ainsley akan melahirkan.


Tentu mereka akan menyusul tapi setelah mereka selesai dengan pekerjaan mereka dan tentunya mereka akan pergi dengan istri mereka nanti.


Jager sudah tiba, dia mencari keberadaan putranya dengan terburu-buru. Dia harap menantunya baik-baik saja dan tidak mengalami kesulitan dalam proses persalinan.


Di dalam ruang bersalin, Ainsley merintih kesakitan. Dia sedang berusaha melahirkan bayinya tapi terasa sulit. Damian terlihat frustasi, dia tidak sanggup melihatnya tapi dia tidak bisa meningggalkan istrinya.


"Terus dorong, Nyonya," pinta dokter yang menanganinya.


Ainsley berusaha tapi sia-si, dia bahkan sudah kehabisan tenaga.


"Bagaimana ini, Dam-Dam," ucap Ainsley di tengah napasnya yang memburu.


"Berusahalah, Sayang," Damian menggengggam tangan istrinya dan mencium dahinya sesekali. Hanya itu yang bisa dia lakukan, dia sunggguh tidak berdaya. Jika bisa digantikan maka dia akan menggantikan istrinya dengan senang hati tapi dia hanya bisa melihat dengan rasa takut luar biasa.


Di luar sana, Jager cemas luar biasa karena belum ada kabar sama sekali bagaimana keadaan menantunya. Kate dan yang lain pun sudah tiba, mereka bergegas tapi mereka hanya mendapati Jager seorang diri di depan ruangan dan terlihat cemas luar biasa.


Mereka pun menunggu karena Jager berkata belum ada kabar mengenai Ainsley. Mereka semua terlihat begitu cemas, apa yang sebenarnya terjadi?