Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Will You Marry Me?



Ainsley terbangun saat mendengar suara Damian yang sedang berbicara dengan anak buahnya yang ada di Jepang saat itu. Tentu Damian menghubungi mereka untuk mencari tahu, apakah mereka sudah menemukan kekasih Mayumi atau tidak dan seperti yang sudah dia duga, tidak mudah menemukan keberadaan pria itu.


Ainsley memutar tubuh, sial. Pinggangnya terasa nyeri, itu karena permainan panas mereka. Mereka melakukannya beberapa kali apalagi mereka tidak pergi ke mana-mana. Mereka bahkan belajar banyak hal dalam bercinta dan ya, mereka berdua tidak canggung lagi.


Senyum Ainsley menghiasi bibir, matanya tidak lepas dari Damian yang saat itu sedang duduk membelakanginya dan belum tahu jika dia sudah terbangun.


Entah kenapa dia jadi teringat dengan ucapan kakak iparnya untuk membahas pernikahan dengan Damian tapi apakah harus dia yang memulai terlebih dahulu?


Sebaiknya dia lihat keadaan, dia juga ingin tahu, apakah Damian akan membahas hal ini dengannya nanti?


Ainsley kembali memejamkan mata, jika Damian mengajaknya menikah, dia juga tidak keberatan apalagi dia sudah sangat yakin pada pria itu. Itu sebabnya dia mau menyerahkan diri. Senyum Ainsley kembali mekar tapi dia terkejut saat usapan lembut dia dapatkan di pipi.


"Kenapa kau tersenyum sendiri?" Damian sudah berbaring di dekatnya dan memandangi wajahnya.


"Tidak apa-apa, siapa yang kau hubungi?"


"Anak buahku," Jawab Damian, tangannya tidak henti memberikan usapan di wajah Ainsley.


"Bagaimana, apa mereka sudah mendapat petunjuk?" tanya Ainsley.


Damian menggeleng dan membaringkan diri di samping Ainsley. Anak buah yang dia utus sudah berusaha tapi mencari satu orang yang hilang secara tiba-tiba bukanlah perkara mudah.


"Apa semuanya baik-baik saja?" Ainsley mendekatinya dan memeluknya.


"Ya, aku hanya iba dengan Mayumi. Aku harap dia bisa merelakan kekasihnya karena aku punya firasat buruk mengenai hal ini."


"Sepertinya kau harus berbicara dengannya setelah kita kembali."


"Kau benar," Damian mencium dahi Ainsley, dan mengusap rambutnya.


"Aku akan menjelaskan pelan-pelan padanya setelah kita kembali."


Ainsley mengangguk dan memejamkan mata, Mayumi sudah menceritakan padanya apa yang sedang dia alami dan sebagai seorang teman, dia juga prihatin.


"Jadi, apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya Ainsley.


"Ke makam ibuku, aku akan mengenalkanmu padanya."


"Wah, aku jadi tidak sabar. Apa dia akan merestui hubungan kita?"


"Tentu saja, kau gadis pertama yang akan aku kenalkan padanya. Ibuku pasti senang dan setuju."


"Benarkah aku yang pertama akan kau kenalkan?" Ainsley tampak tidak percaya.


"Yes, karena aku serius padamu!"


Ainsley tersenyum, selain mengenalkan dirinya pada ibunya, apa Damian juga akan membahas pernikahan di hadapan ibunya nanti? Dia sangat berharap Damian melakukan hal itu, dia ingin tahu seberapa seriusnya Damian terhadap diriinya.


Mereka berdua masih berbaring, Damian memberikan ciuman-ciuman lembut di wajah Ainsley, sedangkan Ainsley menikmatinya. Pagi seperti itu tidak boleh dilewatkan bahkan mereka enggan beranjak. Walaupun mereka masih memiliki banyak waktu tapi mereka ingin menikmati setiap momen kebersamaan mereka selama di Jepang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, Ainsley sudah berada di dalam gendongan Damian karena mereka akan mandii bersama. Sebelum menikmati keindahan kota Tokyo, mereka akan mengunjungi makam terlebih dahulu.


Kereta express adalah transportasi yang mereka gunakan untuk pergi ke sebuah prefektur di mana makam ibu Damian berada.


Mereka tiba di sana saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mereka sudah berada di makam Sayuri saat itu, Ainsley dan Damian sudah berdiri di depan makan.


"Okasan," Damian membungkukkan badan, memberi hormat kepada ibunya. Ainsley mengikutinya dengan terburu-buru, jujur dia belum terbiasa.


Sebuah foto wanita cantik menempel di batu nisan dan itu adalah foto Sayuri saat masih muda.


"Ibumu cantik," bisik Ainsley sambil memandangi foto ibu Damian.


"Tentu saja, dia seorang model."


"Kenapa kau tidak mengikuti jejaknya?"


"Aku lebih mengagumi ayahku," jawab Damian karena dia memang mengagumi sosok Jager Maxton sejak kecil.


Damian memandanginya sambil tersenyum, Damian juga meraih tangan Ainsley dan menggenggamnya.


"Mom, aku datang ke sini untuk mengenalkan pacarku padamu," ucap Damian.


Ainsley membungkuk, memberikan penghormatan pada ibu Damian.


"Dulu aku berjanji pada Mommy akan membawa gadis yang benar-benar aku sukai dan mengenalkannya pada Mommy dan sekarang aku menepati janjiku," kedua tangan Ainsley digenggam dengan erat, mata Damian tidak lepas dari makam ibunya.


"Kenalkan Ainsley Smith pacarku Mom, gadis yang aku cintai dan dia adalah calon istriku."


"What?" Ainsley terkejut mendengarnya.


Damian berpaling, memandangi Ainsley sambil tersenyum.


"Apa kau keberatan, Ainsley?" tanyanya.


"Tidak, bukan begitu. Aku pikir kau?" ucapan Ainsley terhenti karena tiba-tiba saja Damian melepaskan tangannya.


Damian mengambil sesuatu dari saku celana, sesuatu yang sudah dia siapkan sebelum mereka datang, sesuatu yang akan dia gunakan untuk mengikat Ainsley.


"Oh my God, Dam-Dam," Ainsley menutup mulut, dia sedikit melangkah mundur sedangkan Damian berlutut di hadapannya.


"Ainsley, di depan makam ibuku aku ingin melamarmu agar ibuku bisa melihatnya. Will you marry me?" Damian mengangkat cincin yang sudah dia siapkan di hadapan Ainsley.


"To be my wife?" Damian kembali bertanya.


Ainsley mengigit bibir, ini benar-benar kejutan. Dia tidak menyangka Damian akan melamarnya di hadapan ibunya dan dia tidak akan menolak karena dia tidak ragu dengan pilihannya.


"Of course, i will," jawab Ainsley.


Damian tersenyum dan bangkit berdiri. Cincin dikeluarkan karena dia akan memakaikan cincin itu di jari manis Ainsley.


"Aku kira kau tidak mau membahas hal ini," ucap Ainsley saat Damian sedang mengenakan cincin di jari manisnya.


"Membahas apa?"


"Pernikahan? Aku kira kau akan diam saja dan tidak mau membahasnya."


"Tentu tidak, Aku mencintaimu Ainsley, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak melakukan hal ini walau aku sempat ragu karena aku takut aku tidak pantas untukmu."


"Masih memikirkan ucapan Harry?" tanya Ainsley ingin tahu.


"Tidak!!" Damian memeluk Ainsley dan mencium pipinya.


"Tadinya aku ingin melamarmu terlebih dahulu sebelum kita melakukan hal itu tapi aku mengacaukan rencanaku sendiri," ucapnya.


"Tidak apa-apa, hasilnya sama saja, bukan?"


"Kau benar," jawab Damian seraya memberikan kecupan lembut di bibir Ainsley.


"Ibumu melihat!"


"Tidak apa-apa, Mommy sedang menutup matanya," ucap Damian.


Ainsley tertawa, kedua tangannya sudah melingkar di leher Damian begitu juga dengan tangan Damian yang sudah melingkar di pinggangnya.


"I love you, Ainsley," ucap Damian dan setelah itu, Damian mencium bibir Ainsley dengan mesra.


Dia akan mengatakan pada ayahnya nanti jika dia sudah melamar Ainsley, ayahnya pasti akan senang mendengarnya.


Mereka masih berdiri di depan makam, Ainsley bersandar di bahunya dan terlihat bahagia. Dia sungguh tidak menyangka Damian menyiapkan kejutan manis untuk melamarnya.


Sepertinya mereka harus menyiapkan pesta pernikahan setelah kembali. Keluarga mereka pasti akan senang tapi sayangnya, masalah besar sudah menanti mereka nanti.