Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Sama-Sama Ingin Tahu



Mata Jager Maxton tidak lepas dari putranya pagi itu, karena perkataan Damian membuatnya berpikir yang tidak-tidak sehingga dia tidak bisa tidur sama sekali. Damian cuek saja, dia pura-pura tidak memperhatikan ayahnya yang melihat ke arahnya sejak tadi.


Dia tahu ayahnya masih penasaran tapi dia sangat senang bisa menggoda ayahnya. Kapan lagi hal seperti itu akan terjadi?


Mata Jager masih tidak lepas dari putranya, dia hendak bertanya untuk menuntaskan rasa penasarannya tapi sayang, saat itu Mayumi menghampiri mereka.


"Ohayou," sapa Mayumi. Gadis itu terlihat tidak bersemangat, matanya bahkan terlihat membengkak. Itu karena dia terlalu banyak menangis, menangisi kekasihnya yang belum ditemukan sama sekali.


"Bagaimana keadaanmu, Mayumi?" tanya Damian.


"Buruk, kau bisa melihat sendiri," Mayumi menarik kursi dan duduk di sampingnya.


"Jika kau tidak enak badan sebaiknya tidak pergi ke kantor. Beristirahatlah di rumah, aku akan berusaha menemukannya jadi kau tidak perlu khawatir."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jager karena dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kekasihnya hilang, Dad."


"Apa? Bagaimana bisa?" Jager terlihat terkejut, kenapa tidak ada yang mengatakan hal itu padanya?


Mayumi menunduk, wajahnya kembali terlihat sedih. Dia juga tidak tahu kenapa bisa padahal dia sudah berkali-kali memperingati kekasihnya untuk tidak kembali ke Jepang tapi entah kenapa, kekasihnya yang saat itu ada di Korea memutuskan kembali ke Jepang.


"Aku sedang meminta bantuan Michael untuk mencari keberadaan kekasihnya jadi nanti siang aku akan pergi mencarinya dan menanyakan apa dia sudah menemukan rekaman cctv aslinya apa belum." ucap Damian.


"Apa kau yakin dia bisa menemukan kekasihku, Damian?" tanya Mayumi. Dia sangat berharap, kekasihnya bisa segera ditemukan.


"Percayalah Mayumi, kami pasti akan membantumu. Aku juga sudah mengutus beberapa orang pergi ke sana untuk mencari keberadaannya."


"Tidak perlu khawatir, serahkan pada mereka," ucap Jager pula.


"Thanks, lagi-lagi aku merepotkanmu dan aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik dirimu juga dapat mengenal orang-orang baik seperti kalian," air mata Mayumi mengalir, dia benar-benar merasa takut, gelisah dan juga khawatir.


"Sudah, segera sarapan, jangan sampai kau sakit!" ucap Jager.


"Thanks, Uncle," Mayumi berusaha tersenyum.


"Tidak perlu berterima kasih, kau benar-benar membuatku teringat dengan ibu Damian dulu. Aku harap kalian tetap berteman apa pun yang terjadi seperti aku dengan ibunya dulu," pinta Jager Maxton.


"Pasti Uncle, kalian begitu baik dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian," jawab Mayumi.


"Bagus, sekarang sarapan. Kau tidak perlu pergi ke kantor dan beristirahatlah di rumah."


Mayumi mengangguk, mereka menikmati sarapan bersama-sama. Dia bahkan menanyakan keadaan Ainsley dan juga kencan yang mereka lakukan pada Damian. Mayumi terlihat senang saat tahu jika kencan mereka berjalan dengan lancar, akhirnya Damian bisa mendapatkan gadis yang dia sukai sejak lama.


Damian berangkat ke kantor setelah selesai sarapan. Siang ini dia sudah berjanji akan mengajak Ainsley makan siang bersama dan setelah makan, dia akan pergi mencari Michael untuk mencari tahu apa dia sudah menemukan keberadaan kekasih Mayumi atau tidak.


Ternyata siang itu tidak Damian saja yang akan menemui Ainsley, karena seorang pria juga akan mencari Ainsley seperti yang dia lakukan. Seikat bunga sudah berada di tangan, Harry ingin menemui Ainsley dan mengajaknya makan siang bersama juga ingin meminta maaf padanya atas tindakan Shelly.


Dia harap Ainsley tidak marah lagi dan tidak hanya itu saja, dia juga mau menanyakan perihal pria yang membawa Ainsley waktu itu.


Harry sudah memikirkannya selama berhari-hari, dia benar-benar tidak bisa diam menunggu kakeknya menemukan anak haram ayahnya apalagi seorang pria yang baru saja dia temui sedikit mirip dengannya. Dia harap itu hanya kebetulan saja dan dia juga berharap apa yang ayahnya katakan benar adanya jika anak itu tidak ada.


Harry segera pergi, dia tidak menghubungi Ainsley terlebih dahulu karena dia tahu, Ainsley pasti tidak mau menjawab telepon darinya. Lebih baik dia datang secara tiba-tiba dan memberikan kejutan untuk Ainsley.


Saat itu, Ainsley masih bekerja. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum Damian datang. Walaupun perusahaan itu milik ayahnya tapi dia tetap harus bertanggung jawab sebagai karyawan apalagi dia menerima gaji seperti yang lain.


Tidak ada yang tahu identitasnya sampai saat ini, kecuali Harry yang mencari tahu karena penasaran.


Seorang rekan kerjanya masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Ainsley sambil membawa berkas yang harus Ainsley kerjakan.


"Ainsley, di bawah ada seorang pria tampan mencarimu," ucap rekan kerjanya.


"Oh ya?" Ainsley terlihat senang karena dia pikir Damian sudah datang.


"Kau terlihat senang, siapa dia?"


"Pacarku!" jawab Ainsley sambil tersenyum.


Ainsley tersenyum, kebersamaan mereka semalam teringat kembali. Sebaiknya dia bergegas karena dia tidak mau membuat Damian menunggu tapi sayangnya, wajah cerianya berubah menjadi kesal ketika melihat ternyata yang menunggunya adalah Harry.


Harry tersenyum ketika melihat Ainsley, ternyata gadis itu masih mau menemuinya.


"Bukankah sudah aku katakan, jangan mencari aku lagi?!" ucap Ainsley dengan ketus.


"Aku ingin minta maaf padamu, Ainsley. Ini untukmu," Harry memberikan bunga yang dia bawa tapi Ainsley tidak mau mengambilnya.


"Kenapa kau selalu mengganggu aku, Harry? Aku lelah! Aku tidak mau membuat tunanganmu semakin membenciku jadi berhentilah. Apa kau tidak mengerti ucapanku? Kau sudah lihat sendiri jika aku sudah punya pacar jadi jangan ganggu aku lagi!"


"Ainsley, bolehkah aku tahu, siapa pria itu?" tanya Harry. Dia memang ingin tahu mengenai masalah ini. Semoga saja Ainsley mau mengatakan padanya siapa pria itu.


"Untuk apa kau tahu?" Ainsley menatap Harry dengan penuh selidik.


"Aku hanya ingin tahu jadi katakan padaku, siapa pria yang mengaku menjadi pacarmu itu?!"


"Siapa yang mengaku?" Damian mendekati mereka dengan cepat. Dia tidak menyangka jika pria itu datang lagi hari ini bahkan membawa seikat bunga.


"Dam-Dam!" Ainsley berlari ke arahnya dan memeluknya tanpa ragu.


Harry mencengkeram buket bunga dengan erat. Hatinya terasa panas saat melihat mereka berpelukan dengan mesra bahkan Damian mencium pipi Ainsley tanpa ragu.


"Maaf lagi-lagi aku terlambat, apa dia mengganggumu lagi?" tanya Damian sambil mengusap kepala Ainsley.


"Tidak apa-apa, kau tidak terlambat. Dia saja yang selalu datang mengganggu aku!"


"Ainsley, bukan begitu maksudku. Aku datang ke sini untuk minta maaf padamu atas perbuatan Shelly waktu itu," ucap Harry sambil menahan kekesalan di hatinya.


"Aku sudah memaafkannya, jadi pergilah!"


"Tidak, sebelum aku berbicara dengannya!" Harry menatap Damian dengan tatapan tajam.


Semakin di lihat mereka semakin mirip, apa maksudnya ini?


Damian juga melihatnya dengan tajam, waktu itu dia tidak terlalu memperhatikan. Ternyata apa yang dikatakan oleh Ainsley benar, diperhatikan baik-baik wajah mereka memang memiliki sedikit kemiripan.


"Ayolah Harry, jangan mempermalukam dirimu!" ucap Ainsley.


Harry tidak memperdulikannya, dia menghampiri Damian dan berdiri di hadapannya. Mereka berdua saling pandang, sedangkan Ainsley memandangi mereka secara bergantian. Kenapa dia merasa mereka berdua bagaikan kakak adik?


"Tell me, who are you?" tanya Harry.


"Untuk apa kau tahu?" tanya Damian pula.


"Tinggal kau jawab, apa susahnya!" Harry tampak semakin kesal. Rasanya ingin memukul pria itu tapi jika dia lakukan maka Ainsley akan semakin membencinya.


"Kau sendiri siapa? Untuk apa kau menanyakan siapa aku?" Damian sengaja tidak mau memberi tahu namanya karena ada yang sedang mencari ayahnya. Informan selalu ada di mana-mana jadi dia tidak boleh sembarangan menyebut namanya karena dia bisa mencelakai ayahnya.


"Kau!" Harry semakin emosi, kedua tangannya sudah mengepal.


"Harry, pergilah. Tidak seharusnya kau berada di sini," pinta Ainsley


"Ainsley, aku hanya ingin tahu siapa dia."


"Untuk apa, Harry? Jika kau ingin tahu beri kami alasan bagus maka kami akan mengatakan padamu apa yang ingin kau tahu!" ucap Ainsley.


Harry diam saja, tidak bisa menjawab. Tidak mungkin bukan dia mengatakan pada Ainsley jika dia ingin tahu siapa pria itu karena dia ingin mencari anak haram ayahnya?


Harry melangkah mundur, sial! Sepertinya dia harus mencari tahu siapa pria itu secara diam-diam. Lebih baik dia pergi karena dia tidak mau Ainsley semakin membencinya.


"Nanti aku akan kembali lagi!" ucapnya dan setelah itu, Harry melangkah pergi.


Mata Damian tidak lepas darinya, entah kenapa dia juga jadi ingin tahu, siapa pria itu?