Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Aku Hanya Butuh kesempatan



Kedua pengawal yang mencari keberadaan Anna masih berusaha, sudah hari ketiga tapi mereka tidak melihat putri majikan mereka lagi sejak hari itu. Mereka sudah mengintai di sekitar cafe, tapi Anna tidak terlihat lagi di tempat itu.


Sepertinya mereka harus melapor, mungkin mereka bisa mendapat petunjuk dari sang majikan yang menginginkan putrinya pulang. Salah satu dari mereka sudah menghubungi, ayah Anna menjawab panggilan dari pengawalnya dengan cepat karena dia ingin tahu bagaimana dengan pekerjaan mereka.


"Ada apa?"


"Tuan, kami kehilangan jejak dan tidak melihat Nona Anna di mana pun!" jawab sang pengawal.


"Bodoh, pergi cari di rumah sahabatnya. Dia pasti ada di sana!"


"Apa kami harus mendatangi semua sahabatnya?"


"Pergi cari Carolina, dia pasti ada di sana!"


"Baik, Tuan!"


"Satu hal lagi, jika kalian melihat Anna mendekati seorang pria, pukul pria itu sampai babak belur dan beri ancaman agar pria itu menjauhi Anna. Apa pun yang terjadi, jangan sampai Anna pulang membawa pria yang dia sukai!" perintah ayah Anna, dia harus mencegah agar Anna tidak bisa menolak pernikahan yang sudah dia siapkan untuk putrinya itu.


Mereka segera bergerak, setelah tahu di mana mereka dapat menemukan Anna. Mereka tahu siapa yang dimaksud oleh majikan mereka karena Carolina memang sahabat baik Anna dan memang saat ini Anna menginap di rumah sahabatnya itu.


Anna sedang membuat makanan yang akan dia bawa nanti dan akan dia berikan pada Harry. Biasanya dari makanan turun dari ke hati, sebab itu dia akan mencoba. Apa pun akan dia lakukan untuk menarik perhatian pria itu tapi biasanya yang paling berkesan adalah perbuatan yang membuat sang pujaan hati kesal. Tentu dia tidak akan kehabisan akal untuk membuat Harry kesal.


Sang sahabat Carolina memperhatikan apa yang sedang dia lakukan, dia bahkan geleng kepala melihat perjuangan Anna.


"Sampai kapan kau akan mengejarnya?" tanya Carolina.


"Sampai dia menyukaiku dan sampai waktuku habis!"


"Jika dia tidak menyukaimu bagaimana? Apa kau benar-benar akan menculiknya dan memaksanya menikahimu?"


"Rencananya begitu," jawab Anna dengan santai.


"Hei, apa kau sudah gila?" Carolina kembali menggeleng.


"Tentu saja, tapi aku harap dia menyukaiku sebelum waktu yang aku miliki habis."


"Baiklah, aku akan mendukungmu. Sini aku bantu," ucap Carolina seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Hei, cuci tangan!" ancam Anna.


"Kenapa? Tanganku bersih," Carolina melihat kedua tangannya yang bersih.


"Cepat cuci!" perintah Anna sambil melotot.


"Oke, aku cuci!" Carolina menggerutu, kesal.


Mereka berdua sibuk tanpa tahu jika dua pengawal yang diutus oleh ayah Anna sudah mengintai rumah itu. Mereka akan menangkap Anna begitu mereka melihatnya. Kali ini tidak boleh lepas, Anna harus segera mereka bawa pulang.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh saat Anna sudah selesai, dia segera bergegas mandi karena dia ingin pergi ke kantor Harry. Dia tidak takut di usir karena dia punya cara sendiri untuk menghadapi pria itu.


Harry sangat lega karena si pengganggu tidak terlihat hari ini. Setidaknya harinya aman, semoga saja Anna tidak datang lagi mengganggunya tapi sayangnya Anna sudah siap berangkat untuk mengacaukan harinya. Makanan sudah di siap, Anna juga sudah mau berangkat.


Setelah berpamitan dengan sahabatnya, Anna keluar dari rumah dengan wajah berseri. Anna berjalan menuju halte bus dengan riang tapi senyum di wajahnya tiba-tiba hilang ketika melihat dua pengawal ayahnya mencegat langkahnya. Anna terkejut, sial. Mereka begitu cepat mengetahui keberadaannya, pasti semua ini ulah sang ayah.


"Nona, kali ini kau tidak akan bisa kabur lagi," ucap salah satu pengawal ayahnya.


"kenapa? Jangan harap bisa menangkap aku dengan mudah!" Anna melangkah mundur, rumah Carolina sudah tidak aman lagi untuk dia tempati.


"Ikut kami baik-baik, kami tidak mau menyakiti Nona!"


"Sayang sekali, ini bukan hari keberuntungan kalian!" Anna memutar langkah, dia berlari dengan cepat.


"Kepung!" terdengar seseorang berteriak demikian.


Mereka berpencar, mengejar Anna dari dua arah. Anna menoleh dan tampak panik melihat dua pengawal sang ayah mengepung dirinya tapi dia tidak kehabisan akal untuk menghindari kejaran mereka.


"Nona, jangan sampai kami melakukan kekerasan!" sang pengawal berteriak.


"Coba saja jika kalian bisa!" Anna juga berteriak.


Salah satu pengawal itu memberi kode pada rekannya, lari mereka semakin cepat bagaikan seorang atlit pelari. Mereka mendekati Anna dari dua sisi yang berlawanan, mereka akan mengepung Anna dan menangkapnya. Anna masih terus berlari, dia terlihat panik karena kedua pengawal itu semakin mendekat.


"Kenapa kalian tidak memberi aku waktu!" teriak Anna, dia berlari bagaikan orang gila. Semoga makanan yang dia bawa tidak hancur berantakan.


Kedua pengawal itu semakin dekat, dekat dan sudah siap menangkap tangannya tapi tanpa mereka duga, Anna berlari menyeberangi jalan yang sedang padat dengan kendaraan. Anna benar-benar nekat, dia berlari sambil menghindari kendaraan besar yang melintas bahkan dia tidak peduli mendengar makian dari pada pengendara yang terpaksa menghentikan mobil mereka secara mendadak.


Anna terlihat lega setelah dia berada di sisi jalan, jangan sampai dia mati tertabrak hanya karena mengejar cintanya. Bagaimana jika sampai dia mati? Jika demikian dia akan menjadi hantu gentayangan yang akan menempel di belakang Harry dan menakuti semua wanita yang mendekatinya.


Anna terengah-engah, tapi sialnya dia belum bisa bernapas lega karena dua pengawal ayahnya sudah berlari menyeberangi jalan melewati kendaraan yang kacau akibat ulahnya. Anna memaki dan kembali berlari, dia tidak boleh tertangkap, tidak karena ini terlalu cepat.


Sebuah mobil taksi yang melintas diberhentikan oleh Anna, dia bahkan mencegat mobil itu agar berhenti. Sang supir sangat marah tapi Anna tidak peduli, dia meminta supir itu segera membawanya pergi setelah menunjukkan uang seratus dolar.


Kedua pengawal ayahnya terlihat kesal karena mereka kembali gagal. Sepertinya mereka harus merubah strategi untuk menangkap target mereka. Secara diam-diam mungkin harus mereka lakukan agar target bisa mereka dapatkan.


Setidaknya hari ini aman dan ini baru hari ketiga. Masih ada dua puluh tujuh hari dan dia tahu semakin hari perjuangannya akan semakin berat.


Anna memperbaiki penampilannya saat sudah akan tiba di kantor Harry. Dia tidak mau terlihat kacau di depan pria yang dia sukai. Setidaknya pria itu harus melihat kecantikan yang dia miliki.


Taksi yang dia tumpangi sudah berhenti, Anna melangkah memasuki kantor Harry dengan penuh percaya diri. Para karyawan yang sudah terlanjur percaya gosip tampak berbisik-bisik ketika melihat kedatangannya. Wanita itu pasti datang sesuai permintaan si bos untuk melakukan terapi.


Anna tampak heran saat dia disambut dengan baik, itu wajar karena mereka menyangka Anna datang untuk memberikan terapi dan menyembuhkan penyakit si bos.


Walau heran tapi Anna senang-senang saja karena dia tidak mendapat kendala apalagi seseorang sedang mengantarnya ke atas.


Pintu ruangan dibuka, Anna dan karyawan yang mengantarnya masuk ke dalam. Anna tersenyum tapi Harry tampak tidak senang melihatnya.


"Sir, dokter terapimu sudah datang," ucap sang karyawan.


"What?" Harry tampak tidak mengerti, matanya melihat ke arah Anna yang juga terlihat tidak mengerti dengan ucapan si karyawan.


"Apa maksudmu? Sejak kapan wanita gila ini menjadi dokter terapiku?!" Pertanyaan Harry semakin membuat si karyawan salah paham dan menganggap jika gosip mengenai bosnya adalah benar.


Sang karyawan menunduk, sepertinya dia salah bicara. Bosnya pasti malu karena dia tidak mau ada yang tahu penyakit impoten yang sedang dia derita.


"Sorry, Sir. Aku permisi," sang karyawan berlalu pergi dengan terburu-buru.


"Hei, bawa dia pergi!" perintah Harry tapi pintu sudah tertutup karena karyawannya sudah keluar.


Mata Harry menatap Anna dengan tajam, trik apa lagi yang dimainkan oleh wanita itu?


"Apa maksudnya ini?" tanya Harry dengan dingin.


"Aku tidak tahu, sungguh," jawab Anna seraya mendekatinya.


"Untuk apa kau datang? Bukankah sudah aku katakan jika aku tidak mau bertemu denganmu lagi?"


"Ayolah, sudah aku katakan aku tidak akan menyerah. Aku datang untuk memberikan makanan yang aku buat," makanan diletakkan di atas meja, Harry semakin terlihat tidak senang.


"Bawa pergi, aku tidak sudi memakannya!" ucapnya dingin.


"Aku akan memaksa," Anna cuek saja sambil mengeluarkan makanan yang dia buat.


"Jangan keterlaluan, aku tidak segan padamu sekalipun kau wanita!"


"Aku hanya ingin kau mencicipi makanan buatanku, please. Jika kau tidak mau maka aku akan mengatakan pada semua orang jika aku sedang hamil anakmu dan kau tidak mau bertanggung jawab!"


"Apa?" Harry benar-benar tidak percaya mendengarnya. Jangan sampai dia dianggap baji*ngan dan jangan sampai dia dianggap seperti ayahnya.


"Jangan mengancamku!" teriaknya marah.


"Ayolah, aku hanya ingin mengambil perhatianmu tanpa harus melakukan keributan. Ijinkan aku menunjukkan padamu jika aku benar-benar menyukaimu dan biarkan aku berusaha. Jika nanti ternyata kau tidak juga menyukai aku maka aku tidak akan mengganggumu lagi."


Harry memandanginya sejenak, apa wanita itu serius dengan ucapannya?


"Please, aku hanya butuh kesempatan," pinta Anna memohon.


Harry menghembuskan napas, baiklah. Dia rasa juga sia-sia mencegah wanita itu, dia juga merasa semakin dia menolak, wanita itu akan semakin nekat seperti yang pernah dia lakukan.


"Baiklah, berikan makanannya!"


"Terima kasih," Anna tersenyum, usahanya tidak sia-sia.


Makanan yang dia buat sudah terhidang, Anna terlihat senang saat Harry mulai mencicipi makanan itu. Dahi Harry tampak berkerut, Anna jadi heran melihatnya.


"Kenapa? Apa tidak enak?" tanya Anna.


Harry hanya melotot, makanan super asin saja begitu bangga. Jika dia lanjutkan maka dia bisa terkena penyakit darah tinggi.


"Ck, seharusnya aku tidak membiarkan Carolina membantu," ucapnya.


"Kenapa? Siapa Carolina?" Harry mengambil yang lain dan memakannya.


"Dia sahabat baikku. makanan ini pasti jadi tidak enak karena dia tidak cuci tangan," ucap Anna, sedangkan Harry mulai berhenti mengunyah.


"Kenapa?" Harry kembali menatap wanita itu dengan tajam.


"Setiap hari yang dia mainkan hanya milik pacarnya, sepertinya makanan ini sudah terkontaminasi!" jawab Anna asal.


"Brruussshhhhh!!!!" Makanan yang ada di mulut Harry menyembur keluar, dia bahkan mual dan ingin muntah. Harry berlari menuju kamar mandi, sedangkan Anna berteriak, "Aku hanya bercanda!"


Harry memaki dan mencuci mulutnya, sial. Dia semakin mual. Selera makannya langsung hilang, Anna benar-benar begitu mudah menghancurkan harinya.


"Harry, aku hanya bercanda," Anna mengetuk pintu, Harry mengusap wajah kasar. Dia sudah tidak sabar, gadis itu berhenti mengejarnya.


Jangan bandingkan kisah ini dengan kisah Damian dan Ainsley ya, di kisah itu fellnya hilang akibat kebanyakan bab yang ditolak. Aku bahkan merasa jika itu kisah paling gagal yang aku tulis karena kisah itu terasa hambar. Semoga saja kisah ini tidak mengecewakan kayak kisah Damian dan Ainsley.