Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kemarahan Harry



Harry kembali dengan kemarahan di hati. Dia tidak menyangka jika yang menjadi adiknya adalah pria yang merebut Ainsley darinya. Semua ini gara-gara ayahnya, jika saja ayahnya tidak menjalin hubungan dengan wanita lain maka semua ini tidak akan pernah terjadi.


Harry menghentikan mobilnya karena sudah tiba, dia juga keluar dengan terburu-buru. Langkah Harry bahkan terlihat cepat masuk ke dalam rumah karena dia sudah tidak sabar untuk mencari ayahnya.


"Dad!" Harry berteriak, hingga suaranya menggelegar di dalam rumah.


"Ada apa, Harry?" ibunya berlari menghampirinya. Dia terkejut melihat wajah Harry babak belur bahkan dia juga terkejut melihat Harry begitu marah.


"Dad, keluar kau!" teriak Harry lantang.


"Ada apa Harry? Ada apa dengan wajahmu dan kenapa kau begitu marah?" tanya ibunya kagi seraya menenangkan putranya.


"Semua ini gara-gara Daddy, Mom! Kenapa dulu Mommy tidak tinggalkan saja Daddy ketika tahu dia berselingkuh?"


"Jika aku tidak memikirkan keadaanmu dan adikmu, aku pasti sudah pergi meninggalkannya!" jawab ibunya.


"Kenapa? Apa keuangan kita begitu sulit waktu itu?" tanya Harry ingin tahu.


"Bodoh, kau tidak mengerti sama sekali! Aku memikirkan masa depan kalian, lagi pula ayahmu berjanji tidak akan melakukannya lagi. Jika bercerai seorang pria akan menikah lagi dengan mudah, mereka bahkan tanpa beban dan melupakan anak mereka begitu saja, sedangkan wanita? Kami harus memikirkan anak kami, memikirkan masa depannya bahkan seorang ibu rela tidak makan demi anak-anaknya. Sebab itu aku tidak meninggalkan ayahmu dan memaafkan perbuatannya demi masa depan kalian!"


"Oke. I'm sorry, Mom," Harry mendekati ibunya dan memeluknya.


"Tidak apa-apa, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya ibunya.


"Mana Daddy?" Harry melepaskan pelukannya, dia tidak akan melepaskan ayahnya.


"Berbincang dengan kakekmu di belakang."


Harry melangkah pergi setelah tahu di mana ayahnya. Kedua tangannya kembali mengepal, emosi kembali menguasai hatinya. Langkahnya semakin cepat saat melihat sang ayah sedang berbincang dengan kakeknya.


Aland menatap Harry dengan  tatapan heran karena wajahnya yang babak belur, begitu juga dengan Carl. Apa Jager Maxton juga memukuli putranya?


"Ada apa denganmu?" tanya sang kakek.


"Semua ini gara-gara Daddy!" jawab Harry.


"Apa maksudmu?" tanya ayahnya tidak mengerti tapi tidak tanpa dia duga, Harry melayangkan tinjunya ke wajahnya.


Agatha berteriak, begitu juga dengan Carl. Harry kembali mendekati ayahnya, memberikan pukulan lagi di wajah ayahnya sambil berteriak.


"Semu ini gara-gara Daddy, gara-gara Daddy!"


"Harry, apa yang kau lakukan?" ibunya berlari untuk mencegah Harry agar tidak memukuli ayahnya lagi.


"Aku akan memukul baj*ngan ini sampai puas, Mom!"


"Harry hentikan, apa salahku?" teriak ayahnya.


"Harry, dia ayahmu!" teriak sang kakek pula.


"Aku tahu, sebab itu aku memberinya pelajaran atas apa yang telah dia lakukan! Tidak saja menyakiti perasaan Mommy, tapi dia juga membawa masalah.


"Stop, Harry. Stop!" Agatha memeluk putranya sambil menangis. Dia benar-benar tidak suka melihat putranya memukul ayahnya sendiri.


"Seharusnya aku tahu ketika aku melihatnya jika dia adalah adikku tapi kenapa kalian menyembunyikan masalah sebesar ini padaku?"


"Apa maksudmu?" tanya sang kakek.


Carl mengusap darah yang mengalir dari bibir, matanya menatap Harry dengan tajam. Harry terengah-engah, dia berusaha menahan  emosinya. Ibunya berusaha menenangkan putranya yang marah, sedangkan sang kakek dan ayahnya menunggu jawaban darinya.


"Apa maksud ucapanmu, Harry?" tanya Kakeknya lagi.


"kalian tahu? Aku benar-benar kecewa! kenapa harus dia?!" ucap Harry dengan nada kecewa karena dia benar-benar kecewa.


"Hari, apa kau bertemu dengan anak itu?" tanya ibunya pula.


"Aku sudah bertemu dengannya selama beberapa kali, Mom! Tapi aku tidak menyangka jika dialah putra Daddy!"


Laki-laki? Jadi cucunya laki-laki? Ini benar-benar kebetulan yang luar biasa. Jika Harry tidak mau menikah dengan Shelly maka cucu yang satunya itu pasti mau apalagi dia akan memberikan semua yang dia miliki pada cucunya itu. Apa pun caranya, dia harus menempati janjinya pada sahabat baiknya dulu.


"Di mana kau bertemu dengannya, Harry?" tanya sang ayah.


"Di rumah Jager Maxton!"


"Apa?" Carl terkejut. Kedua tangannya mengepal, jadi pria itu tahu di mana anak Sayuri dan mempermainkannya saja? Entah kenapa dia jadi teringat dengan ucapan Jager Maxton saat itu.


"Karena kau tidak mau mengakuinya jadi dengarkan baik-baik. Anak itu memang bukan anakmu, aku yang tidur dengan Sayuri terakhir kali!"


"Sial!" umpat Carl kesal setelah mengingat ucapan Jager Maxton.


Ternyata Jager berkata demikian untuk menipunya dan bodohnya dia percaya begitu saja. Ternyata anak itu ada bersama dengan Jager, tidak heran mengingat persahabatan Sayuri dan Maxton. Seharusnya dia curiga, Maxton pasti membantu Sayuri dan mengaku jika dia ayah dari bayi yang dikandung oleh Sayuri sehingga Sayuri melahirkan anak itu.


"Ada apa, hng? Kau bilang anak itu tidak ada? Sekarang kau sudah tidak bisa menyangkal lagi, bukan?" ucap istrinya dengan sinis.


"Hei, dia belum tentu putraku, bukan? Walau Harry bertemu dengannya, dari mana Harry tahu jika anak itu adalah adiknya?" Carl masih berusaha menyangkal.


"Tidak perlu menyangkal, Dad! Wajah kami sedikit mirip, Jager juga sudah mengatakan jika dia adalah putramu. Bagaimana kau bisa menyangkalnya lagi?" tanya Harry. Matanya menatap sang ayah dengan tatapan tajam.


"Mirip belum tentu dia putraku!"


"Oh, sepertinya dia putra Uncle," cibir Harry.


"Diam, tidak perlu ribut lagi!" sela Aland.


Aland mendekati Harry ini, ini benar-benar kabar baik. Dia akan pergi menemui anak itu dan berbicara dengannya. Bagaimanapun anak itu adalah cucunya.


"Harry, besok antar Kakek menemui anak itu," pinta sang Kakek.


"Untuk apa, Kakek? Apa setelah ini kau akan menendangku jika anak itu mau dengan Shelly?"


"Kau sudah tahu hal itu, seharusnya kau tidak bertanya lagi. Aku juga ingin bertemu dengannya untuk tes Dna, apa benar dia putra ayahmu atau bukan!"


"Hng!" Harry tersenyum sinis. Apa Kakeknya pikir pria itu mau?


"Dengar Kakek, aku jamin seratus persen dia tidak akan mau menerima tawaran kakek!" ucapnya.


"Kenapa, ha? Dia pasti tidak akan menolak apa yang akan aku berikan untuknya!"


"Silahkan Kakek mencoba!"  Harry memutar langkahnya, dia rasa sudah selesai.


"Harry, besok antarkan aku menemuinya!" teriak sang kakek.


Harry tidak peduli, dia berlalu pergi begitu saja. Agatha menatap ayah mertuanya dengan tajam, tidak bisa. Sepertinya dia harus mengajak suaminya untuk pergi menemui anak itu terlebih dahulu dan bernegosiasi dengannya sebelum Harry membawa si tua bangka itu menemui anak haram itu.


Agatha memberi kode pada suaminya, karena ada yang hendak dia bahas. Mereka berlalu pergi meninggalkan Aland, sedangkan Harry masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu dengan kasar. Rasanya ingin berteriak dengan keras dan memukul sesuatu untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Kenapa harus pria itu yang menjadi adiknya?


Mereka benar-benar sibuk dengan urusan mereka, Harry menenangkan emosinya, ayah dan ibunya sedang menyusun rencana begitu juga dengan Aland, dia sedang memikirkan tawaran yang hendak dia berikan pada Damian. Mereka benar-benar tidak menyadari jika Shelly mencuri dengar semua yang mereka bicarakan.


Shelly bersembunyi di balik dinding saat ini, kini dia tahu semuanya. Seringai menghiasi wajah Shelly, ternyata anak haram itu adalah laki-laki dan jika dia tidak salah tebak, dialah pria yang menjadi saingan Harry. Senyum Shelly semakin lebar, akhirnya yang dia harapkan terjadi dan kesempatan itu datang. Dia akan memanfaatkan hal ini dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya.


Dia akan pergi mencari pria itu, mengajaknya bekerja sama untuk menyingkirkan Harry. Dia juga akan menawarkan bantuan pada pria itu untuk mendapatkan semua harta keluarga Windstond, dia juga akan menghasutnya agar pria itu balas dendam dan menghancurkan keluarga Windstond yang sudah membuangnya. Jangan salahkan dia jadi licik dan kejam, tapi salahkan Harry yang sudah membuangnya.


#Sebenarnya aku benar-benar down karena level aku turun dari Diamond jadi Platinum.



Aku harap Level Diamond aku cepat balik karena itu sangat berarti bagi aku. Pencapaian yang aku dapat dengan susah payah.


Mungkin kalian kecewa sama aku dan ada yang ninggalin aku tapi percayalah, dibandingkan kalian aku orang yang paling kecewa.


Aku berusaha mengumpulkan mood untuk menuntaskan kisah ini demi kalian tapi satu hal, gak bakal ada adegan hot seperti yang kalian harapkan. Apa kalian akan ninggalin aku karena hal ini padahal ini kebijakan dari apk?


Terima kasih yang masih setia, aku mau melanjutkan kisah ini karena aku sudah berpikir dengan keras dan semua ini untuk pembaca setia aku walau aku bagaikan dihempaskan jatuh. love you all 😘😘#