
Anna sedang bersiap-siap, hari ini dia harus pergi ke rumah Harry. Setelah memberi pelajaran pada Marco, dia benar-benar puas tapi bukan berarti pria itu akan menyerah. Dia tidak akan mempermasalahkan perlakuan Anna terhadapnya semalam.
Marco bahkan sudah berdiri di depan pintu apartemen Anna dengan makanan yang dia buat. Dia harus menunjukkan pada Anna jika dia benar-benar menyukai gadis itu dan tidak akan menyerah hanya karena Anna melemparinya dengan telur busuk. Jika dia marah maka Anna akan menganggapnya tidak serius dan dia tidak mau pria bernama Harry itu menang tapi dia tidak perlu khawatir, karena dua penjahat yang dia bayar mengatakan jika mereka akan menjalankan rencana mereka hari ini.
Suara ketukan pintu terdengar, Anna melangkah menuju pintu dengan terburu-buru. Apa Harry datang menjemputnya? Dia harap demikian tapi sayangnya, ketika pintu terbuka, air muka Anna yang ceria terlihat berubah menjadi tidak senang saat melihat yang ada di depan pintu adalah Marco.
"Untuk apa kau datang?" tanya Anna dengan nada tidak senang.
"Aku minta maaf padamu, Anna. Aku tahu aku salah jadi maafkan aku," ucap Marco, dia harus menunjukkan pada Anna jika dia benar-benar merasa bersalah.
"Tidak perlu basa basi, Marco. Sebaiknya berhenti melakukan hal ini karena sekeras apa pun kau berusaha, aku tidak akan pernah menyukaimu!" ucap Anna sinis.
"Aku tidak akan berhenti, Anna. Saat ini aku memang berusaha menunjukkan rasa sukaku agar kau bisa menerima cintaku karena walau kau menolak, kau akan tetap menikah denganku nantinya!"
Mata Anna melotot, dia memang harus tetap menikahi Marco jika dia gagal mendapatkan Harry tapi dia tidak akan pernah mau menikah dengan pria itu. Jika dia gagal, maka dia akan pergi yang jauh tanpa sepengetahuan siapa pun. Saat ini dia yakin dia bisa mendapatkan Harry apalagi hubungan mereka sudah semakin dekat.
"Selama aku masih bisa berusaha maka aku tidak akan menyerah jadi jangan ganggu aku! Waktu yang aku miliki masih banyak jadi sebelum waktu yang diberikan oleh ayahku habis maka jangan muncul di depan mataku!" Anna hendak menutup pintu, tapi Marco menahannya dengan cepat.
"Aku tidak akan tinggal diam, Anna. Aku akan menyingkirkan sainganku jadi aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sebelum hari pernikahan kita di mulai. Aku ingin saat pernikahan kita di mulai, sudah ada cinta di hatimu untukku!"
"Berhentilah, perasaan itu tidak akan pernah ada karena bagiku kau adalah sahabatku dan sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Jangan coba-coba menyakiti Harry demi tujuanmu karena aku tidak akan memaafkan dirimu jika sampai kau melakukan hal itu!" setelah mengatakan hal itu, Anna melangkah pergi, sebaiknya dia pergi.
"Aku sudah harus pergi jadi sebaiknya kau keluar!" ucap Anna lagi.
"Baiklah, tapi sebelum pergi makan dulu ini. Aku membuatkannya untukmu," Marco menghampiri Anna dan memberikan makanan yang dia bawa.
"Sudah kau katakan, berhentilah Marco," pinta Anna lagi.
"Tidak, Anna!" Marco tersenyum, dia sudah bertekad untuk mendapatkan gadis itu.
"Semua yang kau lakukan akan sia-sia karena aku tidak memiliki perasaan untukmu."
"Perasaan itu akan tumbuh setelah kita menikah!"
Anna diam, dia sudah kehabisan kata-kata. Dia harap Marco tidak melakukan apa pun dan melukai Harry. Apartemen bukan tempat aman untuk berduaan dengan Harry tapi dia ingin mengajak Harry makan malam. Dia akan melihat situasi terlebih dahulu dan semoga saja keinginannya untuk menghabiskan waktu berdua dengan Harry dapat terwujud.
"Pergi, Marco!" pinta Anna.
"Baiklah, aku pergi!" Marco melangkah pergi tapi sebelum keluar dari pintu, dia melihat Anna sejenak. Anna harus menjadi miliknya apa pun yang terjadi dan dia tidak akan mengijinkan siapa pun mengambil Anna darinya termasuk pria yang bernama Harry itu.
Marco masuk ke dalam apartemen, dia berdiri di depan pintu dan belum juga beranjak. Dia memang sengaja karena dia ingin mendengar Anna pergi. Setelah berdiri beberapa menit, terdengar suara pintu ditutup dan langkah kaki, dia yakin itu Anna.
Langkah kaki sudah tidak terdengar, Marco melangkah menuju meja di mana ponselnya berada. Dia harus mencari tahu, apa dua orang yang dia bayar sudah mulai menjalankan tugas mereka?
"Ada apa. Bos?"
"Apa kalian sudah menjalankan rencana?" tanya Marco pula.
"Bagus! Buat dia cacat seumur hidup dan jika bisa hancurkan wajahnya, patahkan kedua tangan dan kakinya!" perintah Marco dengan kemarahan di hati.
"Tidak perlu khawatir, serahkan pada kami!"
Marco mematikan ponselnya, seringai menghiasi wajah. Hari ini, Harry akan mendapatkan ganjaran yang setimpal dan besok, Anna tidak akan mengejar pria itu dan Anna akan menjadi miliknya.
Tidak ada yang tahu rencana yang dia jalankan, Anna pergi ke rumah Harry dan sangat heran karena Harry tidak ada di rumah. Padahal dia sangat ingin bertemu dengan Harry tapi dia disambut oleh Renata seorang diri. Itu karena putrinya sudah dijemput oleh suaminya, sedangkan suaminya pergi mengantar ayahnya ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan.
"Apa Harry tidak ada di rumah, Nyonya?" tanya Anna basa basi.
Renata tersenyum, sepertinya hubungan Anna Cedric dan putranya mulai dekat. Itu bagus, mungkin saja mereka bisa memiliki hubungan spesial. Dia harap demikian, usia Harry juga sudah tidak muda, sebentar lagi usianya akan menginjak tiga puluh enam tahun jadi tidak ada salahnya dia dekat dengan seorang wanita. Dia harap Harry segera menikah seperti Damian.
"Dia bilang ada pekerjaan penting yang tidak bisa dia tinggalkan dan dia juga berkata akan segera kembali jika dia bisa tapi dia tidak janji."
Anna berusaha tersenyum, padahal dia sedikit kecewa karena dia pikir akan bertemu dengan Harry hari ini tapi tidak apa-apa, besok dia akan mencari Harry di kantornya tapi sebelum itu dia ingin berkirim pesan dengan Harry terlebih dahulu.
"Harry, aku sudah berada di rumahmu," Anna mengirimkan pesan demikian.
Saat itu,Harry benar-benar sibuk tapi suara ponsel yang berbunyi mengalihkan perhatiannya. Harry meraih ponselnya dan membaca pesan yang dikirimkan oleh Anna. Harry tersenyum, tanpa membuang waktu Harry segera menulis pesan jawaban untuk Anna.
"Jika begitu bantu ibuku mencuci dan memasak!" godanya.
Anna tersenyum saat membaca pesan yang dikirimkan oleh Harry, selagi ibu Harry mengambil minuman jadi tidak ada salahnya berkirim pesan dengan Harry sebentar.
"Apa ini berarti aku cocok menjadi calon menantu ibumu?"
"Ck, jangan mengkhayal. Kerja yang benar!"
Senyum Anna semakin lebar saat membaca pesan Harry tapi dia tidak sempat membalasnya karena ibu Harry sudah kembali. Renata sangat heran melihat gadis itu senyum-senyum sendiri tapi dia tidak bertanya karena dia tidak mau ikut campur.
Harry menunggu balasan pesan dari Anna tapi sayangnya Anna sudah tidak membalas pesannya. Harry berdecak kesal dan mengambil ponselnya, dia hendak menghubungi Anna tapi sayangnya seseorang menghubunginya saat itu. Karena yang menghubunginya bukan orang lain, jadi Harry menjawabnya tanpa ragu.
"Bisa, kapan?" Harry bertanya pada orang yang sedang menghubunginya.
"..."
"Tentu bisa, jam tujuh malam aku akan menemuimu," ucap Harry lagi.
Sebuah bar sudah ditentukan, mereka akan bertemu di sana. Harry kembali bekerja, dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya hari ini. Tanpa dia sadari, waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Harry segera bergegas karena dia harus pergi ke bar. Semoga saja dia tidak terlambat.
Mobil sudah jalan, Harry sibuk dengan ponselnya karena dia harus menghubungi ibunya dan memberinya kabar. Harry tidak tahu jika dua orang yang diutus oleh Marco sedang mengikutinya dari kejauhan. Mereka membawa mobil dan mengikuti dari mobil satu ke mobil lain agar tidak dicurigai dan memang saat itu jalanan lumayan padat sehingga supir Harry tidak curiga sama sekali.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, Harry sudah tiba di bar. Sepertinya dia terlalu cepat tapi tidak masalah karena dia akan menunggu. Harry berjalan dengan santai tanpa sadar jika bahaya sedang mengintai karena dua orang yang sedang membawa tongkat kayu di tangan sedang mengikutinya. Misi mereka untuk membuat Harry cacat total, akan segera terlaksana.