
Mereka berdua berada di dalam kamar, tanpa ada yang tahu. Bagi Anna ini seperti sebuah kesempatan untuk tahu lebih banyak tentang Harry tapi bagi Harry, ini kesempatan untuk meminta Anna berhenti mengikutinya apalagi gadis itu memanfaatkan bakat untuk mendekati ibunya karena dia masih berpikir Anna yang mendekati ibunya terlebih dahulu.
"Sampai kapan kau akan terus mengejarku, hah?!" tanya Harry sinis dengan nada tidak senang.
"Sampai kau jatuh cinta padaku, seharusnya kau tahu hal itu!" jawab Anna, tidak ada sedikit keraguan pun di wajahnya.
"Berhentilah, aku tidak mungkin jatuh cinta padamu! Untuk apa kau mendekati ibuku? Apa kau sengaja melakukan hal ini agar kau bisa datang ke rumahku dan mengenal semua keluargaku?"
"Wow, jadi kau berpikir demikian?"
"Tidak perlu berpura-pura, aku tahu akal licikmu!"
Anna tersenyum, dia tidak membela diri. Jika Harry berpikir demikian, maka biarkan dia berpikir demikian. Lagi pula apa yang dikatakan Harry tidak benar, dia juga tahu penjelasan yang diberikan nanti tidak akan dipercaya oleh Harry.
"Jangan perlihatkan senyummu, aku tidak suka!"
"Jangan terlalu membenciku, Harry," Anna melingkarkan kedua tangannya ke leher Harry, "Nanti rasa benci yang kau rasakan menjadi cinta," ucapnya lagi.
"Tidak mungkin dan lepaskan tanganmu!" Harry berusaha menyingkirkan tangan Anna yang melingkar di lehernya.
"Jangan salah paham padaku, aku tidak mendekati ibumu demi tujuanku. Aku?"
"Tidak perlu berbohong!" Harry melangkah menjauh, dia tidak akan percaya dengan apa yang gadis itu ucapkan.
Anna tersenyum, sudah dia duga jika Harry tidak akan mempercayainya. Dia tahu tidak akan mudah, tapi dia akan terus berusaha.
"Baiklah, anggap apa yang kau pikirkan tentang aku adalah benar," Anna mendekati sebuah lemari dan melihat sesuatu di sana.
Harry hanya melihatnya dengan ujung matanya, kini dia menyadari sesuatu. Sial, apa dia sudah gila membawa wanita itu ke dalam kamarnya?
"Sekarang, keluar dari kamarku!" usir Harry, jangan sampai keluarganya tahu jika mereka berdua saling mengenal.
"Nanti, aku belum mendapat celah dari mana aku bisa menyelinap masuk nanti malam," ucap Anna bercanda.
"Apa kau sudah gila?" Harry menghampirinya dan meraih lengannya.
"Sebentar, ijinkan aku melihat foto itu terlebih dahulu," Anna berusaha menahan tangan Harry saat pria itu menarik lengannya.
"Jangan bercanda, aku tidak mau keluargaku salah paham!" Harry kembali menarik tangannya dengan sekuat tenaga karena dia ingin Anna segera keluar dari kamarnya.
"Hei, jangan tarik!" pinta Anna.
Harry tidak peduli, dia bahkan semakin menarik Anna dengan kekuatan yang dia punya tapi tanpa dia sadari Anna kehilangan keseimbangan. Anna berteriak, tanpa sengaja tangan Anna meraih pintu lemari yang dia buka. Mata Harry melotot, saat lemari mulai tumbang karena tertarik oleh Anna. Lemari itu memang tidak besar karena lemari itu hanya berisi beberapa buku dan pajangan saja.
"Awas!" kini Harry yang berteriak, dengan cepat dia menarik Anna ke dalam pelukannya, sedangkan dia menghadang lemari menggunakan punggungnya.
Bunyi benda jatuh terdengar, Anna berteriak karena dia jatuh ke atas lantai sehingga kepalanya terbentur lantai. Anna terkejut melihat keadaan Harry karena lemari itu menimpa Harry dan pria itu menghadang lemari itu untuk dirinya.
"Oh my God, Harry," dia tampak khawatir.
"Harry, suara apa itu?" teriak sang ibu.
"Tidak ada apa-apa, Mom," jawab Harry dengan cepat. Karena sibuk, Renata kembali ke dapur.
"Apa kau baik-baik saja?" Anna berusaha keluar dari himpitan tubuh Harry yang sedang menahan lemari dengan susah payah. Dia harus segera menyingkirkan lemari yang sedang menimpa Harry. Dia bahkan tidak peduli tangan dan kakinya yang tergores potongan kaca pecah, keadaan Harry lebih mengkhawatirkan.
Dengan sekuat tenaga, Anna mengangkat lemari kayu yang lumayan berat. Tangannya bahkan tergores pecahan kaca yang tersisa di lemari. Karena buku dan pajangan yang ada di balik kaca jatuh secara tiba-tiba, sebab itu kaca lemari jadi hancur berantakan.
"Apa kau baik-baik saja, Harry?" Anna menghampiri Harry setelah selesai mengangkat lemari dari atas tubuh Harry.
"Keluar!" ucap Harry.
"Tapi kau terluka," Anna ingin menyentuhnya tapi Harry menepis tangannya.
"Aku bilang keluar, aku tidak ingin ada yang melihatmu berada di dalam kamarku sehingga keluargaku salah paham jadi keluar!"
"Baiklah, aku minta maaf jika aku sudah keterlaluan. Aku akan meminta adikmu membawakan obat untukmu," ucap Anna.
"Tidak perlu!" Harry beranjak dan berlalu pergi.
Anna diam saja, mungkin dia memang sudah keterlaluan. Tapi dia tidak menyangka Harry akan menariknya secara tiba-tiba, dia juga tidak sengaja menarik lemari itu. Ringisan Anna terdengar, kini dia baru merasakan sakit akibat goresan kaca di kaki dan tangannya.
Sebaiknya segera diobati, beruntungnya dia selalu membawa obat di dalam tasnya. Anna keluar dari kamar Harry, dia segera berjalan menuju ruang tamu dengan terburu-buru untuk mengambil tasnya. Tidak ada siapa pun di sana jadi dia bisa mengobati lukanya. Sepertinya dia harus pamit pergi setelah ini.
Dia tidak peduli, tapi darah yang terdapat di atas lantai membuat langkahnya terhenti. Matanya mengikuti bercak darah itu sampai menuju pintu dan bisa dia tebak, itu pasti darah yang terdapat di kaki Anna. Apa luka di kakinya parah?
Harry menghela napas, sial. Kenapa dia jadi merasa bersalah? Seharusnya dia tidak menarik Anna dengan kekuatannya. Harry keluar dari kamar, dia mencari Anna di ruang tamu yang sedang mengobati lukanya sendirian.
"Ikut aku," ucapnya.
"Ke mana?" Anna memandanginya dengan tatapan heran.
"Mengobati lukamu."
"Terima kasih tapi aku baik-baik saja, aku akan pulang setelah ini."
"Ck!" Harry mendekati Anna dan meraih tangannya. Anna terkejut tapi dia diam saja saat Harry membawanya kembali ke dalam kamarnya. Renata melihat mereka dengan tatapan heran, padahal dia ingin mengajak Anna untuk makan siang tapi melihat mereka berdua, Renata tidak jadi memanggil Anna bahkan dia mulai curiga jika sesungguhnya mereka berdua sudah saling mengenal.
Di dalam kamar, Harry meminta Anna untuk duduk di sisi ranjang, sedangkan dia mengambil kotak P3K yang ada di kamar mandi. Anna diam saja, gadis itu tersenyum saat Harry kembali dan mendekatinya.
"Bagaimana punggungmu?" tanya Anna.
"Tidak apa-apa," Harry berlutut di bawah kaki Anna dan meletakkan kotak P3K yang dia bawa ke atas lantai.
"Aku minta maaf, aku akan mengganti lemari itu nanti."
"Hanya lemari, tidak perlu dipikirkan" ucap Harry seraya mengobati luka yang ada di kaki Anna.
Anna meringis saat Harry membersihkan lukanya dengan alkohol. Walau sakit tapi sesungguhnya dia sangat senang. Matanya bahkan tidak lepas dari Harry yang sedang sibuk mengobati lukanya yang terdapat di kaki. Senyumnya bahkan menghiasi wajah tanpa henti sampai membuat Harry heran ketika memandanginya.
"Kenapa kau tersenyum, apa rasa sakit yang kau rasakan ini begitu menyenangkan?"
"Bukan begitu, aku bukan senang karena rasa sakitnya," jawab Anna.
"Lalu?" Harry berpaling dan memakaikan plester di luka Anna.
"Aku senang karena kau perhatian padaku."
"Tidak perlu berlebihan!"
Anna kembali tersenyum, mungkin bagi Harry ini berlebihan tapi baginya ini suatu kemajuan. Dia tidak menyangka akan mendapat keuntungan seperti ini, dia bisa semakin dekat dengan Harry walau melalui sebuah tragedi.
Harry sudah selesai di bagian kaki, kini dia duduk di sisi ranjang untuk mengobati luka yang ada di tangan Anna. Anna memberikan tangannya dengan senang hati, matanya bahkan tidak lepas dari wajah tampan Harry.
"Mau melihat aku sampai kapan?" tanya Harry cuek.
"Melihatmu sampai seumur hidupku!"
"Kau gadis yang aneh dan nekat!"
"Tentu saja, aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan dirimu," jawab Anna tanpa ragu.
"Sebaiknya berhenti karena kau akan menyia-nyiakan waktumu saja!"
"Kenapa? Katakan padaku seperti apa gadis yang kau sukai? Mungkin aku bisa berubah menjadi gadis yang kau sukai," ucap Anna.
"Aku tidak suka stalker!"
"Aku bukan stalker, aku baru saja mencalonkan diri beberapa hari yang lalu dan karena kau tidak suka maka mulai sekarang aku sudah mengundurkan diri dan menjadi mantan stalker!"
Harry tersenyum tipis, gadis itu cukup menarik tapi bukan berarti dia tertarik.
"Sudah selesai," ucapnya.
"Thanks," Anna melihat luka yang sudah diobati dan ditempeli dengan plester.
"Bagaimana dengan lukamu?" Anna meraih tangan Harry untuk melihatnya.
"Tidak perlu khawatir, tidak sebanyak dan separah lukamu."
"Aku benar-benar minta maaf," Anna mendekati Harry dan memberikan sebuah ciuman di pipi, "Itu sebagai tanda terima kasihku!" setelah berkata demikian, Anna beranjak pergi, keluar dari kamar karena dia tahu Harry tidak suka dia berada di dalam kamarnya.
Harry diam saja, matanya melihat Anna yang berjalan keluar dari kamarnya. Dia tahu Anna tidak mungkin menyerah dan dia tahu gadis tidak akan berhenti. Selama masih di batas wajar maka akan dia biarkan karena dia tahu, Anna tidak akan berhenti begitu saja.