Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Keputusan Ainsley



Ainsley diam saja, padahal dia bisa melawan Mayumi dengan mudah. Dia sengaja karena dia ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh Mayumi sehingga gadis itu mengancam dirinya. Bagaimanapun gadis itu sahabat baik suaminya dan dia tahu apa yang sedang dihadapi oleh Mayumi, entah kenapa dia curiga Mayumi melakukan hal itu karena terpaksa.


Hanya sebuah pisau dibawah leher, bukan masalah sulit tapi ancaman yang diucapkan oleh Mayumi, itu yang harus dia pikirkan baik-baik.


"Apa maumu, Mayumi? Kenapa kau melakukan hal ini?' tanya Ainsley.


"Jangan banyak bertanya, sebaiknya kau ikut denganku jika tidak, aku akan meledakkan bom yang ada di ruang pesta. Kau tahu akibatnya, bukan? Sebagian keluargamu akan mati!" ancam Mayumi.


Bom? Inilah yang harus dia pikirkan. Entah bom jenis apa yang diletakkan oleh Mayumi, yang jelas dia harus waspada karena dia tidak mau keluarganya menjadi korban. Bom itu bisa saja langsung meledak jika Mayumi nekat menekan pemicunya karena selain meletakkan benda tajam di bawah lehernya, satu tangan Mayumi juga sedang memegang pemicu bom bahkan jari jempolnya sudah berada di atas tombol benda itu.


Sebaiknya dia mengajak Mayumi bicara baik-baik karena dia ingin tahu kenapa Mayumi mengancamnya. Dia bisa melihat ketakutan dari wajah Mayumi yang terpantul dari cerimin, bahkan dia bisa merasakan tangan Mayumi yang gemetar.


"Ada apa, Mayumi? Apa terjadi sesuatu padamu?" Ainsley bersikap tenang, bagaimanapun jika dia langsung melawan maka situasi akan semakin memburuk.


"Tidak perlu banyak bertanya, ikut aku sekarang!" Mayumi menekan pisau yang ada di leher Ainsley hingga benda tajam itu menggores kulit leher Ainsley.


"Ayo kita bicara baik-baik Mayumi, aku bisa membantumu. Kau tidak akan untung apa pun jika kau membunuhku!"


"Benar, aku memang tidak akan membunuhmu karena Akira menginginkan dirimu!"


"Apa maksudmu? Apa kau ingin menangkapku untuk melakukan pertukaran?" tebak Ainsley karena dia sudah tahu garis besar permasalahan yang terjadi.


"Aku tidak punya pilihan, aku harus melakukan hal ini jika tidak Ken akan mati!" tangan Mayumi semakin gemetar, waktunya sudah hampir habis tapi dia belum bisa membawa Ainsley.


Dengan perlahan, Ainsley menyentuh tangan Mayumi yang sedang memegang pemicu bom. Dia harus mengambil benda itu terlebih dahulu dan berbicara dengan Mayumi karena dia tahu, semua tidak akan berakhir baik jika Mayumi melakukan hal itu. Keluarganya tidak akan melepaskan Mayumi, begitu juga dengan Damian.


Dia tidak mau Mayumi menerima kemarahan mereka apalagi dia tahu, Mayumi terpaksa melakukan hal itu demi kekasihnya yang disandera oleh musuh.


"Bagaimana jika kita bicarakan hal ini baik-baik Mayumi, tindakan yang kau ambil ini sangat berbahaya."


"Aku tidak punya waktu lagi berbicara denganmu!" Mayumi kembali menekan pisaunya.


"Dengarkan aku Mayumi, sekalipun kau membawaku kepada Akira, dia tidak akan melepaskanmu dan juga kekasihmu. Kau juga tidak akan bisa keluar dari sini secara hidup-hidup. Apa kau pikir kau bisa mengancamku dengan bom yang kau letakkan?"


"Jangan banyak bicara!" ucap Mayumi, dan dia menangis.


Ainsley masih berusaha menenangkan Mayumi, dia akan berbicara dengan gadis itu secara baik-baik agar Mayumi tahu, jika dia akan membantunya membebaskan kekasihnya.


"Semua ini tidak berguna Mayumi, percayalah. Kedua kakakku pencipta bom, kau tidak akan bisa meledakkan benda itu. Saat kau melangkahkan kakimu keluar sambil menyanderaku, tidak ada satu pun keluargaku akan tinggal diam. Salah satu kakak iparku penembak jitu, sebelum kau keluar dari pintu, kepalamu sudah berlubang dan jika kau berhasil membawaku pergi, keluargaku akan menemukanmu dengan mudah dan membawamu dengan mudah pula karena kakak iparku yang satunya lagi ahli strategi."


"Lalu aku harus bagaimana, aku harus bagaimana?" pisau yang ada di tangan Mayumi terjatuh, gadis itu bahkan menangis terisak.


"Sebaiknya kita bekerja sama, Mayumi," jawab Ainsley seraya mengambil pemicu bom dari salah satu tangan Mayumi. Dia bahkan melihat pemicu itu, ternyata hanya bom biasa.


"Bekerja sama, maksudmu?"


"Sekarang katakan padaku, kenapa kau melakukan hal ini?"


"Tidak, katakan padaku kenapa kau harus membawaku dan kenapa Akira menginginkan diriku?"


"Aku tidak tahu, wanita itu yang mengatakan hal ini padaku," jawab Mayumi.


"Wanita, siapa?" tanya Mayumi ingin tahu.


"Aku tidak tahu, tapi dia pernah bersama dengan saudara Damian."


Ainsley diam, berpikir. Apa yang dimaksud oleh Mayumi adalah mantan Harry? Tapi kenapa  mantan Harry bisa mengenal Akira? Entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres. Apa semua itu dilakukan karena mantan Harry dendam dengannya?


Sepertinya tidak sesederhana yang dipikirkan, dia rasa ada konspirasi lain. Sebaiknya dia mengikuti permainan. Lagi pula kakaknya dapat menemukannya dengan mudah. Dia juga tidak boleh membuat posisi Mayumi semakin terancam, menyusup markas musuh untuk mencari tahu adalah hal yang harus dia lakukan saat ini.


"Please, ikut denganku. Aku tidak punya banyak waktu lagi," pinta Mayumi memohon.


"Berapa waktu yang kau punya?" tanya Ainsley.


"Lima menit," Mayumi melihat jam, "Tidak, aku sudah tidak punya waktu lima menit lagi!" ucapnya lagi dan dia terlihat ketakutan.


"Jika begitu ayo kita pergi!" ajak Ainsley.


"Apa maksudmu?" tanya Mayumi tidak mengerti.


"Akira menginginkan aku, bukan? Maka dia akan mendapatkannya!"


"Tidak, itu berbahaya! Dia tidak akan melepaskan kita walau kau menyerahkan diri!"


"Kau tahu hal itu akan terjadi, lalu kenapa kau mau menyandera aku dan menyerahkan aku?"


"Maaf ... Maaf!" Mayumi kembali menangis, Ainsley semakin tidak tega.


"Sudahlah, aku sudah berjanji akan membantumu maka aku akan membantumu tapi kau harus tahu, Damian pasti akan sangat kecewa padamu. Mari kita selesaikan semuanya malam ini juga dan kita bebaskan kekasihmu," Ainsley mengulurkan tangan. Jika dia yang diinginkan oleh Akira maka dia akan menjadi umpan.


"Tapi ini berbahaya!"


"Apa kau mau bertaruh? Kita lihat siapa yang akan hancur malam ini!" tanya Ainsley dengan seringai di wajah.


Mayumi menelan ludah, siapa sebenarnya Ainsley? Kenapa dia merasa gadis itu tidak takut sama sekali?


"Let's go, kita keluar tanpa mencurigakan. Jika kau menyanderaku, maka kau akan mati sia-sia begitu juga dengan kekasihmu!"


Mayumi mengangguk, itulah kenapa mereka keluar tanpa terlihat mencurigakan. Mereka keluar dan melewati para penjaga tanpa ada yang curiga. Walau sesungguhnya Mayumi was-was dan matanya tidak lepas dari keluarga Ainsley dan para penjaga, entah kenapa dia merasa jika gadis yang menjadi istri Damian itu bukan orang biasa.


Tidak ada rasa takut, Ainsley terlihat santai saat pisau yang dia letakkan menggores lehernya. Jika gadis biasa, dia yakin akan ketakutan tapi Ainsley? Tidak menunjukkan rasa takut sama sekali. Sebuah mobil van berhenti setelah mereka keluar, itu adalah anak buah Akira.


Ainsley pura-pura menjadi sandera Mayumi agar musuh tidak curiga ketika mereka berada di dalam mobil. Lagi pula Ainsley sangat yakin, kakaknya akan menemukannya dengan mudah. Dia memang sengaja menjadi umpan, agar musuh tahu, siapa yang akan mereka lawan dan yang pasti, darahnya sudah mendidih dan dia sudah tidak sabar, merenggangkan ototnya.