
Harry benar-benar kesal, kenapa lagi-lagi pria itu? Apa dia tinggal di apartemen yang sama dengan Anna? Setiap kali dia datang, pria itu juga datang. Sepertinya tebakannya benar apalagi setelah melihat makanan yang Marco bawa. Rasanya tidak terima pria itu berada di dekat Anna.
"Kenapa lagi-lagi kau?" ucap Harry dengan nada sinis dan dia terlihat tidak senang.
"Seharusnya itu ucapanku, kenapa lagi-lagi kau yang datang?!" Marco tak kalah sinisnya.
"Aku mau datang atau tidak, tidak ada hubungannya denganmu!" jawab Harry dingin.
"Tentu saja ada! Anna gadis yang aku sukai dan kau, mendekati gadis yang aku sukai jadi sebaiknya kau berhenti mendekati Anna!" ucap Marco tanpa ragu. Pria itu harus tahu jika Anna adalah gadis yang dia inginkan. Dia juga ingin pria itu tahu diri dan menjauhi Anna.
"Lucu sekali, Anna hanya gadis yang kau sukai. Dia bukan istri dan juga bukan pacarmu jadi siapa saja berhak untuk mendekatinya dan kau tidak memiliki hak sama sekali untuk melarang pria mana pun untuk mendekati Anna!" ucap Harry, dia tidak akan kalah dari pria itu.
"Kau? Kau hanya parasit yang ada di antara kami! Seharusnya kau tahu siapa dirimu yang tidak pantas sama sekali dengan Anna!" Marco semakin kesal, kenapa pria itu begitu sulit disingkirkan?
"Hng, ucapan yang sudah basi!" cibir Harry, "Jika aku tidak pantas, apa kau pikir kau pantas?" tanya Harry sambil mencibir.
"Tentu saja aku jauh lebih pantas di bandingkan dirimu!" ucap Marco dengan nada tinggi.
"Jika begitu sebaiknya kita bersaing secara sehat! Jika kau merasa pantas maka tunjukkan pada Anna. Dia mau memilih aku atau memilihmu itu tergantung dirinya!" setelah berkata demikian, Harry menutup pintu dengan kencang.
Marco benar-benar marah, beraninya pria itu menutup pintu di hadapannya? Sup yang dia bawa di lempar begitu saja, dia akan memberikan pelajaran pada pria itu karena dia benar-benar menantang dirinya. Marco memutar handle pintu dengan kemarahan di hati tapi sayangnya Harry sudah mengunci pintu dan berlalu pergi.
"Baji*ngan! Buka pintu ini!" teriak Marco marah.
Harry diam saja, sebaiknya dia membawa Anna pergi. Sangat berbahaya bagi Anna jika dia masih tinggal di sana. Marco bisa melakukan apa saja jika dia sudah kalap dan merasa tidak bisa mendapatkan Anna. Jangan sampai hal yang tidak diinginkan terjadi, bagaimanapun mereka harus waspada.
Marco masih berteriak di luar sana, dia benar-benar tidak terima diabaikan. Pria itu tidak akan dia lepaskan, sepertinya dia harus mencari dua orang yang lebih ahli dari pada kedua penjahat itu. Seorang pembunuh bayaran mungkin bisa dia gunakan, pria itu akan mati hanya dalam satu kali tembakan.
Marco kembali ke rumah, dengan kemarahan di hati. Pria itu baik-baik saja berarti kedua pecundang itu gagal. Lebih baik dia tidak menghubungi mereka karena berisiko. Mungkin saat ini mereka sudah berada di kantor polisi jadi jangan sampai para polisi itu tahu jika dia yang membayar kedua pecundang itu.
Rencana jahat kembali dia susun, bagaimanapun caranya dia harus menyingkirkan Harry. Kali ini tidak akan membuatnya cacat tapi dia ingin Harry mati dengan cara yang mengenaskan. Cara ini lebih baik dari pada membuatnya cacat. Melenyapkannya sehingga Anna tidak bisa mengejarnya lagi. Seharusnya dia memerintahkan seseorang melakukan hal ini dengan cepat.
Niat Harry membuat bubur tidak jadi, semangkuk sereal sudah berada di tangan. Lebih baik cepat membawa Anna pergi, dia khawatir pria itu berbuat nekad saat Anna sedang tidak berdaya. Harry masuk ke dalam kamar dan menghampiri Anna yang sedang menggigil di bawah selimut, rasanya ingin memiliki sebuah pemanas ruangan saat ini.
"Anna, bangunlah. Makan serealmu terlebih dahulu dan minum obat," ucap Harry.
"A-Aku tidak punya obat, Harry," ucap Anna.
"Jika begitu makan serealnya dan setelah itu kita pergi!"
"Pergi?" Anna memandanginya. Apa Harry mau membawanya ke rumah sakit?
"Aku tidak mau ke rumah sakit!" ucapnya.
"Tidak, Anna! Pergi dari sini, kau tidak boleh tinggal di sini lagi!"
"Pergi? Kenapa?" tanya Anna tidak mengerti.
"Dengar," Harry naik ke atas ranjang dan mendekatinya.
"Tidak aman untukmu tinggal di sini sendirian. Sebaiknya kau tidak tinggal di sini lagi," ucapnya.
"Di sini aman, Harry. Penjagaan juga ketat. Tidak akan ada pencuri dan penjahat yang bisa masuk ke dalam apartemen ini."
"Anna, yang aku khawatirkan bukan penjahat atau pencuri. Tapi aku mengkhawatirkan Marco!"
"Ada apa dengannya?" Anna semakin penasaran dan ingin tahu.
"Aku khawatir dia gelap mata, aku takut dia berbuat nekad dan melakukan sesuatu di saat keadaanmu sedang tidak berdaya seperti ini. Aku tidak ingin menuduh, tapi tidak ada salahnya mengambil antisipasi. Aku takut dia memperkosamu agar kau menjadi miliknya. Dalam keadaanmu yang seperti ini, apa kau bisa melawan?"
Anna diam, memikirkan ucapan Harry. Memang benar dia tidak bisa melawan, bahkan jika Harry hendak berbuat jahat padanya saat ini dia tidak bisa melawan sama sekali.
"Tapi aku harus tinggal di mana?" tanya Anna. Matanya menatap Harry, mereka tidak mungkin bisa menemukan apartemen hanya dalam hitungan jam.
"kau punya rumah sendiri?" Anna terlihat tidak percaya.
"Tentu saja aku punya!" jawab Harry. Dulu dia bahkan tinggal dengan Sherly di rumah itu tapi semenjak hubungannya dengan Sherly sudah tidak harmonis, dia lebih memilih pulang ke rumah keluarganya.
"Baiklah, bereskan barangku, aku akan menghabiskan serealnya!" ucap Anna.
"Berani memerintah aku?" Harry menatapnya tajam.
"Ups, sebagai bonus aku akan meraba tubuhmu," ucap Anna sambil tersenyum lebar.
"Tidak perlu, sepertinya aku harus memakai baju besi agar tanganmu tidak bisa menyentuh apa pun!"
Anna tertawa, sedangkan Harry membantunya untuk duduk di atas ranjang. Sereal diberikan, Anna menikmatinya sambil memperhatikan Harry membereskan barang-barang miliknya. Karena dia kabur dari rumah jadi barangnya tidak banyak.
"Apa hanya ini saja?" tanya Harry.
"Hm, barang-barangku yang di kamar mandi."
Tanpa berkata apa-apa, Harry masuk ke dalam kamar mandi dan mengambil barang-barang milik Anna. Dia juga keluar untuk mengambil beberapa barang sesuai dengan permintaan Anna. Semua sudah selesai, sebuah koper sudah terisi penuh.
Anna juga sudah mengganti bajunya, mereka sudah siap pergi tapi sebelum itu Anna menghubungi pemilik apartemen dan mengatakan jika dia hendak mengembalikan kunci. Beruntungnya dia menyewa tempat itu hanya untuk satu bulan sehingga dia tidak terlalu berat meninggalkan tempat itu.
Setelah selesai berbicara dengan pemilik apartemen, mereka bersiap untuk pergi tapi sialnya saat itu Marco memergoki mereka. Marco sangat heran, apalagi Anna sedang membawa koper.
"Kau mau pergi ke mana, Anna?" tanya Marco seraya mendekatinya.
"Aku mau pulang," dusta Anna.
"Pulang? Kau pasti berbohong!" Marco tampak tidak percaya karena dia yakin Anna tidak mungkin pulang.
"Dia akan pulang ke rumahku, apa kau keberatan?" tantang Harry.
"Apa?" Marco terkejut, matanya menatap Harry dengan tajam.
"Apa benar, Anna?" tanya Marco, kini matanya melihat ke arah Anna.
"Untuk apa menipumu?" ucap Harry sebelum Anna menjawab.
"Mulai sekarang dia akan tinggal denganku, dia akan tidur denganku dan dia bisa meraba tubuhku sesuka hatinya!" ucap Harry tanpa pikir panjang. Anna tersenyum mendengarnya, akan dia ingat dan Harry tidak bisa mengelak saat dia mau meraba tubuhnya.
Marco semakin kesal, apa yang akan mereka lakukan berdua nanti?
"Anna, jangan pergi. Dia hanya ingin memanfaatkan dirimu saja! Dia tidak mungkin mencintaimu seperti aku mencintaimu jadi jangan pergi bersama dengannya!" Marco harap Anna mempercayai ucapannya.
"Harry tidak mungkin melakukan hal itu, Marco. Aku percaya padanya."
"Jadi kau lebih percaya pada pria yang baru kau kenal dari pada aku yang sudah lama mengenalmu?" teriak Marco tidak terima.
"Terus terang, aku lebih takut padamu karena Marco yang saat ini berdiri di hadapanku, tidak aku kenal sama sekali!"
Marco diam saja. Anna takut dengannya, kenapa? Dia tetap Marco, dari dulu sampai sekarang dia tidak berubah sama sekali.
"Ayo kita pergi, Harry. Kepalaku semakin sakit," ucap Anna.
"Anna, jangan mengikutinya!" pinta Marco, dia tidak terima Anna tinggal dengan pria itu.
Anna tidak menghiraukan permintaannya, kebencian semakin tumbuh besar di hati Marco. Kedua tangan sudah mengepal erat, matanya tidak lepas dari Anna dan Harry yang sudah melangkah pergi. Anna benar-benar sudah terpengaruh oleh baji*ngan itu. Dia tidak akan pernah membiarkan pria itu menang, tidak akan.
Marco masuk ke dalam apartemen, dengan kebencian yang semakin tumbuh dengan subur. Tidak lama lagi dia akan mengambil Anna kembali, tunggu saja dan pada saat itu tiba, pria yang bernama Harry sudah harus mati.