
Damian sedang menunggu Mayumi keluar dari kamarnya. Waktu dia kembali, Mayumi sudah tidur jadi dia tidak mau mengganggunya dan menunggu kesempatan yang tepat untuk menjelaskan pada Mayumi apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dia sangat berharap Mayumi mau mempercayainya walau itu baru dugaan saja. Dia akan meminta anak buahnya yang ada di Jepang menyelidiki hal itu dengan teliti untuk menjawab kecurigaannya benar atau tidak.
Mayumi keluar dari kamar dengan mata yang semakin membengkak. Dia sudah menangis semalaman, menangisi kekasihnya yang hilang tanpa kabar. Hanya kekasihnya yang dia punya dan dia tidak sanggup kehilangan orang yang dia cintai lagi. Damian jadi iba melihat keadaannya, tidak saja Aisnley yang iba karena dia juga jadi iba.
"Mayumi, apa kau baik-baik saja?" tanya Damian.
"Damian, apa kau sudah mendapat kabar mengenainya?" tanya Mayumi dengan wajah lesu.
"Yeah, Michael sudah mendapatkan rekaman aslinya."
"Benarkah? Lalu bagaimana dengan keadaan kekasihku?" tanya Mayumi dengan tidak sabar.
"Kau ingin tahu?" tanya Damian seraya menyeruput kopi hitamnya.
"Tentu saja aku mau tahu, apa maksud pertanyaan yang kau lontarkan?" Mayumi memandangi Damian dengan ekspresi heran.
"Aku hanya takut kau tidak sanggup mendengarnya," Damian kembali menyeruput kopinya sambil melirik ke arah Mayumi karena dia ingin melihat ekspresi Mayumi.
"A-Apa maksud perkataanmu, Damian?" wajah Mayumi berubah, perasaannya semakin takut setelah mendengar ucapan Damian.
"Apa kau akan percaya dengan apa yang akan aku katakan padamu, Mayumi?"
"A-Ada apa sebenarnya?"
"Mayumi, jika aku mengatakan padamu bahwa kekasihmu mencurigakan, apa kau akan percaya?"
"Tidak mungkin! Apa kau mencurigai kekasihku?" sela Mayumi dengan cepat. Wajahnya sudah terlihat tidak senang bahkan matanya sedang menatap Damian dengan tajam.
Damian tersenyum tipis, sudah dia duga Mayumi tidak akan percaya dan dia tahu, itu tidak akan mudah untuk Mayumi apalagi ini menyangkut satu-satunya orang yang dia cintai. Memang butuh waktu tapi dia akan berusaha meyakinkan Mayumi agar dia mau percaya padanya dan berhati-hati pada kekasihnya sendiri.
"Aku tahu akan sulit bagimu, Mayumi. Apa kau mau mendengarkannya lebih lanjut? Aku tidak akan melanjutkannya jika kau tidak mau mendengarnya."
Mayumi menunduk dan mengigit bibir, apa sebenarnya yang terjadi? Jujur dia takut untuk mendengar kelanjutan dari perkataan yang hendak Damian sampaikan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Damian? Apa kekasihku sudah tertangkap? Apa dia sudah mati?" tanya Mayumi dengan ekspresi wajah sedih. Hanya itu yang ada di dalam pikirannya saat ini, antara tertangkap dan mati di tangan Akira, hanya dua kemungkinan saja yang terjadi.
"Mayumi, kau sudah memintanya untuk tidak kembali ke Jepang, bukan?"
"Ya, aku sudah memperingatinya berkali-kali tapi entah kenapa tiba-tiba dia kembali ke sana."
"Apa kau tidak curiga?"
"Apa maksudmu, Damian?"
Damian kembali tersenyum, dia akan mengatakan hal itu pelan-pelan pada Mayumi agar Mayumi mempercayainya. Dia tahu tidak akan mudah, sebab itu sebagai teman, dia akan meyakinkan Mayumi dan mengajaknya berpikir agar Mayumi tidak menganggap jika dia sedang menipunya.
"Kau sudah memintanya untuk tidak kembali ke Jepang tapi dia masih juga kembali, apa kau tidak menaruh curiga sama sekali?"
"Tidak! Aku sangat percaya dengannya Damian, dan aku rasa dia kembali ke sana karena sebuah alasan!"
"Kau tahu Mayumi, terkadang orang yang sangat kita percaya belum tentu baik."
"Benar, apa yang dia katakan sangat benar!" ucap Jager Maxton yang menghampiri mereka saat itu.
"Orang yang kita anggap baik, orang yang sangat kita percaya terkadang orang itulah pengkhianat sesungguhnya. Aku sudah pernah dikhianati oleh sahabat paling baikku sehingga aku harus kehilangan istriku dan berpisah dari anakku dan aku tahu bagaimana rasanya jadi sebaiknya kau berhati-hati!"
"Terima kasih atas nasehatnya, Uncle," ucap Mayumi.
"Jadi, mau mendengar lebih lanjut?" tanya Damian.
"Baiklah, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi."
"Dengar, Michael sudah menemukan rekaman cctv asli saat kekasihmu tertangkap."
"Jadi dia tertangkap?" Mayumi memotong ucapan Damian dengan cepat.
"Yes, tapi kau harus tahu, sepertinya dia sengaja melakukan hal itu."
"Apa maksudmu, Damian? Untuk apa dia melakukan hal itu?" tanya Mayumi dengan ekspresi tidak percaya.
"Tidak, tidak mungkin!" Mayumi menunduk, air matanya bahkan mengalir. Dia sungguh tidak percaya kekasihnya melakukan hal seperti itu. Apa kekasihnya berkomplot dengan Akira dan katsuo? Tapi untuk apa? Mereka bahkan tidak saling mengenal.
"Ini rekaman cctv-nya, kau bisa melihatnya jika kau punya waktu," Damian memberikan flashdisk yang berisi rekaman saat kekasih Mayumi dibawa pergi.
"Setelah melihatnya, kau bisa menyimpulkannya sendiri Mayumi, apa aku menipumu atau tidak."
"Akan aku lihat nanti," Mayumi mengambil flashdisk tersebut, jujur saja tidak percaya.
"Bagus, aku hanya ingin kau berhati-hati."
"Pasti," Mayumi berusaha tersenyum, dia akan mencari tahu kebenarannya karena dia tidak percaya. Dia sangat mengenal kekasihnya, dia yakin jika kekasihnya kembali ke Jepang karena ada yang mau dia lakukan apalagi keluarganya memang masih ada di Jepang. Mungkin saja dia kembali untuk bertemu dengan keluarganya tapi tanpa sengaja justru tertangkap oleh anak buah Akira dan katsuo.
Semoga saja apa yang dikatakan oleh Damian tidak benar karena dia hanya punya kekasihnya saja, jika sampai kekasihnya mengkhianatinya, lalu siapa lagi yang dia miliki selain Damian? Hanya Damian sahabatnya yang paling baik, yang mau membantunya. Selain bergantung pada Damian dia benar-benar tidak memiliki siapa pun lagi.
"Damian, kenapa kau tidak mengajak Ainsley datang?" tanya ayahnya.
"Tidak, Dad."
"Kenapa? Apa kau tidak mau berpacaran di rumah? Apa kau takut Daddy mengintip?"
Damian terkekeh, kenapa sih ayahnya selalu penasaran? Jager memang penasaran karena dia ingin tahu gaya berpacaran putranya yang tidak memiliki pengalaman sama sekali.
"Dad, aku dan Ainsley mau pergi hari ini," ucapnya.
"Wah, apa kalian ingin pergi kencan?" Jager terlihat senang dan bersemangat.
"Tidak karena Ainsley ingin mengajak Mayumi ikut serta."
"Apa?! Kenapa harus bertiga, kencan macam apa itu?" protes Jager.
"Aku tidak akan ikut, Damian. Aku tidak mau mengganggu kencan kalian," tolak Mayumi.
"Nah, itu baru benar!" ucap Jager.
"Tidak apa-apa, Mayumi. Ainsley yang ingin mengajakmu."
"Tapi?" Mayumi tampak tidak enak hati, sedangkan jager menggerutu dalam hati.
Tidak bisa, mereka tidak boleh pergi kencan bertiga. Pertama, di antara Mayumi atau Damian pasti salah satu dari mereka akan menjadi nyamuk dan yang kedua, hubungan mereka tidak akan ada kemajuan sama sekali nantinya. Jager menyeruput tehnya, sepertinya dia harus turun tangan.
Mereka menikmati sarapan mereka pagi itu dan ketika hari sudah siang, Damian sudah bersiap-siap karena sebentar lagi dia akan pergi menjemput Ainsley. Tentunya dia juga meminta Mayumi untuk bersiap-siap tapi ternyata tidak mereka saja yang sedang bersiap-siap.
Tanpa sepengetahuan Damian, ayahnya juga bersiap-siap. Kali ini dia akan ikut, dia akan menemani Mayumi agar tidak mengganggu kencan mereka nanti. Dia harus bertindak agar kencan putranya berhasil, peran cupid-nya harus dia mainkan dan sekarang saatnya melakukan peran itu.
Damian keluar dari kamar, dia berjalan menuju dapur untuk meneguk segelas air. Matanya melihat jam yang melingkar di tangan, sudah waktunya mereka pergi karena dia tidak mau membuat Ainsley menunggunya terlalu lama.
"Mayumi, apa kau sudah siap?" tanya Damian sambil sedikit berteriak.
"Almost," jawab Mayumi.
Damian mengambil kunci mobilnya dan tidak lama kemudian, Mayumi keluar dari kamar dan terlihat ceria.
"Aku sudah selesai," ucapnya.
"Aku juga!" terdengar suara Jager Maxton.
Damian melihat ayahnya dengan ekspresi heran, kenapa ayahnya sudah terlihat rapi?
"Dad, kau mau pergi ke mana?" tanya Damian dengan ekspresi curiga.
"Tentu saja ikut kalian!"
"What?" Damian terkejut, apa tidak salah?
"Ayo cepat, aku sudah tidak sabar!" Jager berjalan ke arah pintu dengan terburu-buru.
Mayumi dan Damian saling pandang, sepertinya hari ini mereka akan melewati hari yang luar biasa.