
Aland kembali dengan kemarahan di hati karena dia tidak mendapatkan apa yang dia mau. Begitu kembali yang dia cari adalah putranya, semua itu gara-gara putranya. Jika saja putranya mengatakan padanya apa yang telah dia lakukan puluhan tahu yang lalu, mungkin waktu itu dia akan menutup mata dan meminta wanita jal*ng itu melahirkan anak yang dia kandung lalu mengambilnya.
Mungkin dengan demikian, dia tidak akan mengalami kesulitan seperti saat ini dan mungkin juga anak itu akan menurutinya jika dia yang membesarkan tidak seperti Harry yang selalu membangkang.
"Carl!" Aland berteriak dengan lantang mencari keberadaan putranya.
"Ada apa? Kenapa Daddy berteriak?" Carl keluar dari kamar dan begitu melihatnya, Aland menghampiri putranya dengan cepat juga dengan kemarahan di hati.
Carl menatap ayahnya dengan heran karena ayahnya terlihat begitu marah tapi belum juga dia bertanya, sebuah pukulan keras diberikan oleh ayahnya mendarat di wajahnya. Carl berteriak, sedangkan Aland terlihat menahan emosi.
"Kenapa Daddy memukul aku?!" teriak Carl tidak terima sambil memegangi wajahnya.
"kau memang pantas dipukul!" teriak Aland marah.
"Apa salahku?!" teriak Carl tidak terima.
"Apa salahmu? Kau memang baj*ngan yang pantas dipukuli!" Aland berusaha meredakan emosinya yang meledak, sedangkan Carl diam saja karena dia tahu ayahnya pasti membicarakan soal anak haramnya dengan Sayuri.
"Aku sangat kecewa padamu, Carl. Kau benar-benar mengecewakan aku begitu juga dengan Harry. Sifat burukmu turun pada Harry dan lihatlah, dia tidak jauh berbeda denganmu. Aku benar-benar kecewa pada kalian berdua!"
"Kau kecewa padaku dan Harry karena sifat kami sama. Jika anak itu adalah anakku, apa kau pikir anak itu tidak memiliki sifat yang sama denganku?!" teriak Carl tidak terima karena dia dan Harry selalu di salahkan.
"Hng, sekarang kau mengakuinya jika dia adalah anakmu!" cibir ayahnya.
"Dad, bukan itu maksudku."
"Apa?" Aland menyela ucapan putranya dan menatapnya dengan tajam.
"Kenapa kau tidak mengatakan hal ini padaku, Carl? Kenapa kau menutupi perselingkuhan yang kau lakukan? Seandainya aku tahu waktu itu, aku akan mengambil anak itu dan membesarkannya. Tapi kau? Lari dari tanggung jawab begitu saja dan lihat Harry, dia juga melakukan hal yang sama denganmu!"
"Dad, sudah aku katakan padamu, anak yang dikandung oleh Sayuri belum tentu anakku!" ucap Carl.
"Anakmu atau bukan, aku juga sudah katakan, kita akan mengetahuinya setelah aku menemukannya dan kita akan melakukan tes Dna jadi hentikan informan yang kau bayar karena aku sudah menemukan Jager Maxton. Jangan buang-buang uang lagi dan serahkan semuanya padaku!"
Setelah berkata demikian, Aland berlalu pergi, sedangkan Carl mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Jadi ayahnya sudah menemukan Jager Maxton? Tidak bisa, dia juga harus menemui pria itu. Carl keluar dari rumah, dia ingin tahu ayahnya pergi ke mana.
Sang supir yang akan memberinya petunjuk sehingga dia tidak perlu bersusah payah mencari keberadaan Jager Maxton. Ini keberuntungannya, akhirnya dia tidak perlu mencari pria itu dengan susah payah. Ternyata kecepatan informan ayahnya dalam mencari informasi berguna juga untuknya.
"Hei, kau!" Carl memanggil supir pribadi ayahnya yang saat itu sedang mencuci mobil.
"Ada apa, Tuan?" tanya sang supir.
"Kemana pria tua itu pergi hari ini?" tanya Carl dengan pelan.
"Pergi ke rumah Jager Maxton," jawab sang supir.
"Berikan aku alamatnya!" minta Carl.
Si supir memberikan alamat Jager Maxton tanpa ragu, Carl tampak tersenyum puas setelah alamat Jager berada di tangan. Sebaiknya dia bergegas karena dia akan menemui Jager Maxton hari ini juga dan memintanya untuk tidak mengatakan pada ayahnya di mana keberadaan Sayuri juga anak itu.
Carl masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru dan masuk ke dalam kamarnya. Renata melihatnya dengan heran dan mengikuti suaminya. Carl terkejut ketika istrinya menutup pintu dan hal itu semakin membuat Renata heran.
"Ada apa? Mau pergi ke mana kau?" tanyanya karena suaminya sedang mengganti pakaiannya saat itu.
"Kau sudah menemukannya?" Renata menghampiri suaminya dengan cepat.
"Tidak, bukan aku! Si tua bangka itu baru saja pergi menemuinya!"
"Apa? Bagaimana mungkin? Apa ayahmu sudah menemukan anak itu?" Renata tampak penasaran.
"Aku rasa tidak, Dia pasti tidak mendapatkan apa pun dari Jager Maxton!"
"Baiklah, dengarkan aku!" Renata menarik suaminya agar menjauh dari pintu karena dia tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Jika ayahmu belum tahu di mana keberadaan anak juga wanita itu, berarti kita harus memanfaatkan keadaan dan kali ini kau tidak boleh gagal!"
"Apa maksudmu, Renata?" Carl memandangi istrinya dengan serius, sepertinya istrinya punya rencana.
"Dengar, Carl. Aku tidak mau anak itu menjadi penghalang Harry jadi jangan sampai ayahmu menemukannya terlebih dahulu. Kau kenal dengan Jager Maxton, bukan? Dulu kalian adalah rekan bisnis jadi aku rasa dia pasti akan mengatakan padamu di mana keberadaan model jal*ng itu bersama anaknya. Tanyakan padanya di mana mereka secara baik-baik lalu singkirkan setelah tahu. Cukup bayar pembunuh bayaran untuk melakukannya, kau tidak perlu mengotori tanganmu!" ucap Renata.
"Kau benar, aku memang ingin pergi menemuinya untuk berbasa basi lalu menanyakan keberadaan Sayuri. Aku akan berbicara dengannya dan membujuknya agar dia berpikir, aku ingin menemui Sayuri untuk minta maaf padanya sehingga dia mengatakan padaku di mana Sayuri dan anak itu berada!"
"Benar, ayahmu menginginkan anak itu dan kita harus melenyapkannya sebelum ayahmu bertemu dengannya. Aku harap kali ini kau berhasil karena semua ini terjadi akibat kesalahan yang telah kau lakukan!"
"Percayalah padaku," Carl memegangi kedua bahu istrinya.
"Kali ini aku tidak akan mengecewakanmu seperti yang aku lakukan puluhan tahun lalu. Maafkan aku Renata, aku telah membuatmu dan anak-anak kecewa."
"Bagus jika kau tahu kesalahanmu, sekarang lakukan apa yang aku katakan, aku tidak mau putraku ada saingan!" ucap istrinya.
Carl mengangguk, dia pergi tanpa sepengetahuan ayahnya. Tentu dia pergi ke rumah Jager maxton bermodalkan alamat yang diberikan oleh supir pribadi ayahnya. Dia yakin Jager pasti akan mengatakan padanya di mana keberadaan Sayuri karena mereka bagaikan teman lama.
Saat itu Jager masih marah, orang yang seharusnya tidak muncul, tiba-tiba datang. Dia tidak keberatan Aland Windstond mencari keberadaan Damian, mungkin saja pria itu ingin bertemu dengan cucunya sebelum mati dan dia juga tidak keberatan jika dia ingin bertemu dengan Damian tapi ucapan Aland benar-benar membuatnya marah.
Jika memang menganggap Damian sebagai anak haram, untuk apa Aland Windstond mencari keberadaannya? Mereka bisa berpura-pura menganggap anak yang dikandung oleh Sayuri tidak ada apalagi dulu Carl sudah meminta Sayuri untuk menggugurkan anak itu tapi kenapa sekarang mereka mencari Sayuri dan Damian setelah puluhan tahun berlalu?
Walau Aland berkata dia ingin memberikan apa yang dia punya pada Damian tapi dia sangat ingat, Carl memiliki seorang putra dan seorang putri. Sepertinya dia mencium akan terjadi perebutan harta antara Damian dan anak Carl yang lain. Jager harap, Damian tidak melibatkan diri dan tidak menginginkan harta itu apalagi semua yang dia punya, sudah dia berikan pada Damian.
Rasanya sudah tidak sabar menunggu kepulangan Damian karena banyak yang ingin dia bicarakan tapi dia tidak ingin meminta Damian kembali apalagi dia tahu, Damian sedang bersama dengan Ainsley saat ini. Sebaiknya dia menunggu dan menenangkan emosinya terlebih dahulu.
Jager mengambil gelas teh yang ada di atas meja, dia hendak meneguk isinya tapi seorang anak buah yang menghampirinya dengan terburu-buru membuat Jager menghentikan niatnya. Matanya menatap anak buahnya dengan heran, sedangkan anak buah itu menghampirinya untuk memberi laporan.
"Bos, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap sang anak buah.
"Siapa? Kenapa hari ini begitu banyak tamu?" Jager terlihat tidak senang.
"Carl Windstond!"
Begitu mendengar nama Carl, gelas diletakkan dengan kasar, Jager bahkan beranjak dari tempat duduknya dan matanya memancarkan api kemarahan. Setelah Aland Windstond, sekarang Carl Windstond, beraninya baj*ngan itu datang menemuinya?
"Biarkan dia masuk! Hutangnya pada Sayuri puluhan tahun lalu, harus dia bayar hari ini!" ucap Jager seraya menggulung lengan bajunya.
"Baik, Bos!" anak buahnya berlalu pergi, untuk mempersilahkan Carl Windstond masuk ke dalam.
Jager menunggu dengan kemarahan di hati, beraninya pria itu datang? Hari ini dia akan menegakkan keadilan untuk sayuri dan juga untuk Damian.