
Ketika Matthew dan yang lain sedang sibuk di kapal yang satunya, Vivian dan Marline sedang menyusun rencana mereka saat itu. Situasi yang mereka hadapi sedikit rumit karena ada sandera di dalam sana dan mereka juga tidak tahu posisi sandera dan apa yang akan menyambut mereka nanti.
Mereka harus memikirkan cara terbaik agar mereka bisa menyelamatkan sandera. Mereka harap, mereka berhasil membebaskan dua tawanan yang ada di dalam sana tanpa terluka sedikitpun sebab itu mereka harus menyusun rencana dengan matang.
"Bagaimana, kita harus tahu posisi sandera terlebih dahulu," ucap Marline.
"Bagaimana jika aku mengintai dan melihat posisi sandera," ucap James.
"Caranya?" Marline dan Vivian memandangi pria itu.
"Aku akan menyergap masuk!" jawab James tanpa ragu.
"Tidak, jangan sampai Bella menjadi janda," ucap Marline, sedangkan Vivian terkekeh.
Marline mendongak, melihat sekelilingnya. Ada satu cara untuk melihat posisi sandera dan musuh tanpa ketahuan dan dia rasa itu bukan ide yang buruk.
"Keluar kalian jika tidak aku akan membunuh Mayumi!" teriak Katsuo. Dia tidak boleh berlama karena dia tahu, musuh sedang menyusun rencana di luar sana.
"Oke Guys, kita tidak punya banyak waktu. Aku punya rencana bagus," ucap Marline.
"Apa yang kau rencanakan, Marline?" tanya Vivian.
"Aku akan naik ke lubang ventilasi itu," Marline menunjuk ke atas di mana lubang ventilasi udara berada, "Dan aku akan merangkak menuju ruangan. Saat aku sudah hampir tiba aku akan mengatakan padamu. Aku bisa melihat posisi sandera dan juga melihat perangkap yang mereka pasang dari lubang ventilasi itu lalu aku akan menghancurkan perangkapnya." jelas Marline. Ini jalan satu-satunya yang harus dia lakukan karena jika mereka muncul secara bersama-sama, maka mereka akan mati sia-sia.
"Cepat keluar!" terdengar suara teriakan Katsuo lagi.
"Baiklah, ide bagus. Aku akan pura-pura menyerah selama kau berada di dalam sana," ucap Vivian menyetujui.
"Dengar, mungkin jarak pandangku terbatas dari lubang-lubang itu jadi kau harus melihat perangkap itu berada dan setelah itu, kau harus membuat sebuah kode untuk mengatakan padaku di mana perangkap itu berada," pinta Marline.
"Serahkan padaku, kita memang harus bekerja sama dan kau James, kau berjaga di depan pintu. Kita tidak boleh menampakkan diri sekaligus. Aku ingin kau siap dan ketika kau mendengar tanda dariku, kau harus masuk menyergap!" ucap Vivian.
James mengangguk, dia akan melakukan apa yang diperintahkan. Mereka segera melakukan rencana dan membantu Marline untuk naik ke atas lubang ventilasi. Walau lubang itu sempit, tapi dia masih bisa masuk ke dalam dan merangkak menuju ruangan di mana sandera berada.
"Hati-Hati, Sweety," Michael mengingatkan istrinya.
"Tenang saja," jawab Marline sambil merangkak seperti tikus di dalam lubang, "Setelah ini aku mau makan yang banyak," ucapnya lagi.
"Akan kau dapatkan, sekarang belok ke kanan," ucap Michael. Walau dia diam saja mendengar rencana mereka, tapi dia melihat keberadaan istrinya dari alat pelacak yang selalu dibawa oleh Marline dan dia akan menuntun istrinya menuju ruangan di mana sandera berada karena memang lubang ventilasi itu memiliki banyak lorong.
Katsuo kembali berteriak karena musuh tidak juga menampakkan diri, dia bahkan mulai menghitung. Dia akan membunuh Ken jika para musuh di luar sana tidak menampakkan diri. Mayumi ketakutan, air matanya mengalir dengan deras. Dia tidak akan sanggup melihat Ken mati di depan matanya.
Siapa pun yang ada di luar sana, dia harap orang itu segera masuk dan menyerahkan diri. Memang keinginannya egois tapi dia tidak sanggup melihat Ken dibunuh di depan matanya. Dia bahkan berharap bom yang ada di tubuhnya segera meledak agar dia mati terlebih dahulu. Itu lebih baik agar dia tidak lagi melihat kematian orang yang dia cintai.
"Aku hitung sampai tiga, jika tidak ada siapa pun yang muncul, maka pria ini mati!" Katsuo sudah mengarahkan senjata apinya ke arah Ken.
Mayumi sangat ingin berteriak tapi sayang mulutnya ditutupi dengan lakban. Dia hanya menangis dan menyesali kebodohannya. Jika dia tahu akan jadi seperti ini maka dia tidak akan mempercayai ucapan wanita itu.
Marline masih merangkak di lubang ventilasi, dia berada di dua lorong yang bercabang. Dia belum memberi aba-aba pada Vivian karena dia belum sampai. Michael membantu istrinya dan menunjukkan jalan, siapa pun akan menjadi buta dan tidak tahu jalan di lorong yang sempit itu. Sambil membawa senjata apinya, Marline kembali merangkak mendekati ruangan dan kini dia mendengar suara tembakan peringatan yang diberikan oleh Katsuo.
"Sedikit lagi," ucap Merline sambil berbisik karena dia sudah melihat lubang penghubung ventilasi yang ada di dalam ruangan.
"Good luck, jangan lupa kode perangkapnya!" ucap Merline, kini dia merangkak dengan hati -hati.
Katsuo kembali berteriak, dia benar-benar marah. Dia akan membunuh Ken tanpa ragu, sedangkan Mayumi semakin ketakutan.
"Setelah aku membunuhnya, lalu kau, Mayumi!" ucap Katsuo.
"Hmmm!" Mayumi berusaha memberontak.
Katsuo sudah menekan pelatuk senjata apinya. Mayumi semakin ketakutan tapi pada saat itu, pintu terbuka dan Vivian masuk ke dalam sambil mengangkat tangan.
"Jangan tembak, aku menyerah!" ucap Vivian dan begitu dia masuk, dia disambut oleh puluhan senjata api dari anak buah Katsuo.
"Cih, hanya seorang wanita!" ucap katsuo mencibir.
"Jangan tembak ... Jangan tembak!" Vivian pura-pura takut dan menyerah tapi matanya melihat ruangan itu dengan teliti. Bom yang ada di tubuh Mayumi tidak luput dari pandangannya, Vivian mengumpat dalam hati, itu bom yang bisa langsung meledak jika diaktifkan dan mereka menghadapi situasi yang gawat.
Marline sudah berada di posisi, dia bahkan membuka sedikit penutup lubang ventilasi dengan hati-hati. Itu dia lakukan agar dia bisa melihat apa yang ada di dalam ruangan itu.
"Maju!" perintah Katsuo, kini senjata apinya sudah mengarah ke arah Vivian.
Marline berusaha membidik pria itu tapi sulit, sepertinya dia harus meminta Vivian untuk memancing pria itu agar dia bisa melihat target dengan mudah.
"Pancing dia Vivi, aku tidak bisa membidik tangannya!" pinta Marline.
"Cepat maju!" Katsuo kembali memberi perintah.
Vivian melangkah dengan hati-hati, dia benar-benar harus fokus. Jangan sampai dia terkena jebakan yang terpasang di dalam ruangan itu.
Katsuo masih memintanya untuk melangkah maju. Jarak antara Vivian dengan kabel perangkap tidak jauh lagi. Katsuo sangat berharap wanita itu mengenai perangkap. Mayumi semakin ketakutan saat melihat langkah Vivian yang sudah mendekat dan tentunya sebagai mantan agen, Vivian dapat membaca ekspresi takut yang ditunjukkan oleh Mayumi.
Vivian menghentikan langkah, hal itu membuat Katsuo kesal.
"Cepat maju!" perintahnya dan, Doorr ... sebuah tembakan dia lepaskan ke arah Ken. Timah panas yang dia lepaskan mengenai kaki Ken.
Teriakan Ken tertahan karena mulutnya di tutupi lakban. Mayumi juga berteriak, dia sangat berharap Vivian semakin melangkah maju agar wanita itu mengenai jebakan yang ada tapi sayangnya Vivian sengaja karena dia sedang melihat perangkap.
"Aku akan maju!" ucap Vivian. Sebuah kode dia buat dengan jari dan itu adalah kode di mana perangkap itu berada dan kode itu dia tunjukkan untuk Marline.
Dari lubang ventilasi, senjata Marline sudah mengarah ke arah gulungan kawat yang ada di dinding. Beruntungnya dia dapat melihat benda itu. Sebelum menembak, Marline melihat gulungan kawat itu dan ternyata bukan perangkap itu yang harus mereka waspadai. Dia bisa melihat kawat itu lumayan tinggi dan kawat itu mengarah ke tubuh pria yang sedang digantung.
"Hati-Hati, bukan perangkap itu yang harus kita waspadai!" ucap Marline.
Vivian diam, jika bukan perangkap itu, berarti yang harus mereka waspadai adalah bom yang berada di tubuh Mayumi. Sial, jika begini, mereka harus merubah rencana secara mendadak karena mereka tidak tahu di mana pemicu bom itu berada.
Vivian kembali membuat kode, dia harap Marline mengerti dengan kode yang dia buat agar Marline bisa memberi tahu Michael mengenai kode itu.
Lah, kok jadi rumit gini 😬padahal gak pengen yang rumit-rumit malah jadi rumit 😓