
Ainsley sedang bersiap-siap karena hari ini mereka akan menghadiri pesta untuk merayakan pernikahan Harry dan Anna. Itu hanya sekedar pesta karena mereka sudah mengucap janji sebelumnya. Pernikahan mendadak yang mereka lakukan tentu sudah merubah semuanya apalagi Harry sudah tidak mau berpacaran yang menghabiskan banyak waktunya.
Cukup sekali dia menjalin hubungan begitu lama dengan Sherly yang akhirnya kandas, sebab itu dia tidak ragu untuk menikahi Anna di situasi yang sedang kacau karena dia merasa itu adalah kesempatannya dan hari ini, mereka akan merayakan pernikahan mereka yang sudah terjadi di situasi yang kacau.
Damian masuk ke dalam dengan sepasang flat shoes di tangan. Ainsley duduk di sisi ranjang, memakai sarung tangannya. Mereka akan berangkat sebentar lagi saat Ainsley sudah selesai.
"Bagaimana keadaanmu?" Damian berjongkok di kaki istrinya untuk memakaikan sepatu.
"Aku baik-baik saja."
"Jika perutmu nyeri lebih baik kita tidak pergi."
"Tidak apa-apa, Dam-Dam. Aku sudah minum Vitamin, aku akan mengatakan padamu jika perutku nyeri."
"Baiklah," setelah memakaikan sepatu untuk istrinya, Damian beranjak untuk mengambil sebuah mantel.
"Kita akan berangkat setelah kau siap."
"Aku sudah siap, Dam-Dam."
"Baiklah," Damian menghampiri istrinya dan membantunya untuk berdiri, mantel dikenakan karena dia tidak mau Ainsley kedinginan karena terkena angin malam.
Mereka segera berangkat setelah mereka sudah siap, tentu Jager juga pergi. Bagaimanapun hubungan mereka dengan keluarga Damian sudah membaik jadi tidak ada salahnya pergi untuk merayakan pesta pernikahan Harry.
Di tempat lain, Anna tak kalah semangatnya. Dia sudah terlihat cantik dengan gaun hasil rancangannya sendiri. Sebuah kalung pemberian ibu mertuanya melingkar indah di leher, dia sudah tidak sabar pesta mereka segera di mulai.
Setelah kaki ayahnya sembuh, mereka mempertemukan kedua orangtua mereka. Briant yang tadinya sangat ingin putrinya menikah dengan seorang politikus merubah pandangannya. Ternyata tidak harus menikah dengan politikus baru bisa bahagia.
Seorang pengusaha seperti Harry juga bisa memberikan kebahagiaan untuk putri mereka apalagi Anna tidak akan kekurangan apa pun. Kesalahan yang dia lakukan sudah membuka matanya, mereka bahkan tidak tahu saat Marco pergi. Mereka mendengar semua itu dari Anna.
Malam ini pesta itu akan semakin mempererat hubungan mereka. Setidaknya Harry ingin memberikan pesta pernikahan untuk Anna. Walau mereka sudah tidak perlu mengikrarkan janji suci tapi pesta itu diadakan agar orang-orang tahu jika mereka sudah menikah.
Pesta sudah akan dimulai, Harry masuk ke dalam ruangan untuk memanggil istrinya. Anna sedang duduk di sisi ranjang, dia sibuk membaca pesan dari ponselnya dan juga sibuk menulis sesuatu karena saat itu dia berkirim pesan dengan Marco.
"Apa kau sudah siap, Anna?" tanya Harry.
"Apa sudah akan di mulai?" Anna meletakkan ponselnya dan berpaling untuk melihat Harry yang melangkah mendekatinya.
"Sepuluh menit lagi."
Anna beranjak saat Harry sudah berdiri di dekatnya. Anna merapikan dasi kupu-kupu Harry dan mengusap dadanya dengan sentuhan nakal.
"Kau terlihat luar biasa, Harry," pujinya.
"Kau juga, Anna," Harry memeluk pinggang istrinya dan merapatkan tubuh mereka berdua.
"kau terlihat luar biasa," pujinya.
"Aku sudah tidak sabar pesta ini cepat berakhir, Harry. Aku ingin kau segera melepaskan gaun ini," Anna menggoda suaminya dengan sentuhan jarinya.
"Dasar cabul!" satu sentilan di dahi Anna dapatkan.
"Auw, jangan sentil dahi!" Anna memegangi dahinya dan tampak cemberut.
"Itu aku lakukan supaya otak cabulmu cepat bersih!" Harry memberikan kecupan di dahinya istrinya.
"Ck, supaya tidak cabul lagi sebaiknya kau menuruti fantasi liarku!"
"Hei, kenapa kita jadi membahas otak cabulmu yang semakin kumat?"
Anna tertawa dan memeluk suaminya dengan erat, dia senang Harry menerima dirinya yang cabul. Semua orang memiliki kekurangan dan dia rasa penyakit cabulnya yang semakin kumat adalah kekurangan yang terdapat pada dirinya.
"Pestanya sudah akan dimulai, ayo kita keluar."
Pesta itu semakin ramai saat Albert dan Kate datang, tidak saja mereka, Matthew dan Michael juga datang ke acara itu. Mereka hadir karena itu acara pesta yang diselenggarakan oleh Kakak Damian. Ainsley dan Damian juga sudah tiba, mereka bergabung dengan yang lainnya dan tentunya mereka jadi pusat perhatian bagi beberapa pengusaha yang hendak menjalin kerja sama dengan mereka.
Anna mendekati Marline yang saat itu sedang bersama dengan Vivian dan Ainsley. Dia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah membantunya saat itu.
"Hai, Guys. Boleh aku bergabung?"
"Tentu saja boleh. Selamat untukmu, Anna," ucap Ainsley.
"Terima kasih, aku juga ingin berterima kasih pada kalian yang sudah membantu," ucap Anna.
"Tidak perlu sungkan, sekarang kita sudah jadi keluarga."
"Kau benar. Sebagai ucapan terima kasihku, aku akan membuatkan sebuah rancangan gaun untuk kalian," ucap Anna tanpa ragu.
"Apa itu gratis?" tanya Marline tiba-tiba.
"Tidak, kau harus bayar!" sela Vivian dan Ainsley.
Marline hendak protes tapi ucapan Anna bagaikan angin segar.
"Tentu saja gratis," ucap Anna.
"Yes, kalian dengar. Gratis!" Marline tersenyum lebar, sedangkan Ainsley dan Vivian menggeleng.
Anna tidak mengerti tapi ya sudah, dia memang ingin membuatkan sebuah rancangan gaun untuk mereka nanti tanpa harus membayar sebagai rasa terima kasihnya pada mereka.
Mereka terlihat serius, membicarakan rancangan gaun yang mereka inginkan. Anna berlalu pergi saat Harry memanggilnya. Dia berjanji akan menemui mereka lagi untuk membahas hal itu lebih lanjut. Dari kejauhan Damian melihat ke arah istrinya sesekali, karena Ainsley bersama dengan Vivian dan Marline jadi dia bisa tenang meninggalkan istrinya sebentar.
"Bagaimana kehamilanmu, Ainsley," tanya Marline.
"Baik-baik saja, kakak ipar."
"Daddy bilang kau selalu mengeluh kram perut, apa benar?" tanya Vivian pula.
"Ya, tapi tidak perlu khawatir. Kami hanya perlu menjaganya dengan baik."
"Bagus, setiap hari Daddy menghubungi aku dan menanyakan banyak hal. Dia takut terjadi sesuatu padamu dan bayimu."
Ainsley terkekeh, ayah mertuanya memang sangat mengkhawatirkan dirinya. Damian bahkan tidak luput dari amarah ayahnya jika dia sedikit lalai tapi dia bahagia karena mereka menyayanginya.
"Ck, aku iri dengan kalian," ucap Marline, matanya menerawang jauh.
"Hei, jangan putus asa. Kau pasti akan hamil saat waktunya sudah tiba," ucap Vivian.
"Benar kakak ipar, keadaanmu hanya karena serum saja dan peluang untukmu hamil masih terbuka lebar."
"Kau benar, semoga aku segera hamil," ucap Marline.
"Itu sudah pasti kakak ipar, kau tidak boleh putus asa," ucap Ainsley.
Marline mengangguk, dia benar-benar berharap segera hamil. Mereka bertiga masih berbincang sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan yang lain apalagi Harry dan Anna sedang mengucapkan rasa terima kasih mereka pada para tamu undangan yang sudah hadir.
Anna tersenyum dan tampak bahagia, para tamu bertepuk tangan untuk mereka. Ucapan selamat juga tidak henti mereka dapatkan. Mereka kembali berbaur dengan para tamu yang sedang menikmati pesta pernikahan mereka.
"Selamat untukmu, Harry," ucap Damian seraya mengangkat gelas wine-nya.
"Terima kasih," Harry juga mengangkat gelasnya dan mereka mengadukan gelas mereka berdua.
Hubungan mereka yang semula tidak baik karena rasa takut dan benci kini sudah jauh lebih baik bahkan mereka sudah seperti keluarga pada umumnya. Tidak ada lagi yang mengungkit kesalahan masa lalu, tidak ada lagi kata ******* yang dilontarkan oleh keluarga Harry. Tentu setelah melewati hal yang tidak menyenangkan membuat mereka sadar jika selama ini merekalah yang terlalu takut padahal Damian tidak menginginkan apa pun yang mereka miliki.
Tapi semua itu sudah berlalu, mereka sudah menjadi keluarga saat ini apalagi Damian tidak membenci mereka dan tidak menaruh dendam pada mereka.