Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Harry Mendapat Saingan



Ponsel Anna berbunyi, ketika dia sedang bersama dengan klien barunya. Anna melihatnya sebentar lalu menutupnya karena yang menghubungi saat itu adalah sang ibu. Dia akan menghubungi ibunya nanti setelah selesai, dia tahu berbicara dengan ibunya membutuhkan banyak waktu apalagi dia tahu tujuan sang ibu menghubunginya.


Anna tersenyum dan terlihat tidak enak hati pada klien barunya. Ponsel kembali berbunyi dan lagi-lagi Anna mematikannya. Hal itu membuat ibunya kesal, padahal ada hal penting yang hendak dia bicarakan pada putrinya mengenai rencana ayahnya tapi ya sudahlah.


Walau dia mendukung perjodohan yang sudah disepakati oleh sang suami tapi dia juga mendukung putrinya untuk menemukan cintanya. Sebab itu dia memberikan putrinya waktu satu bulan, dia harap putrinya benar-benar dapat membawa pria yang dia sukai tapi ternyata, sang suami memiliki rencana lain.


"Ck, gadis bodoh! Mommy ingin membantu tapi kau tidak mau menjawab telepon dari Mommy jadi ya sudah. Semoga kau berhasil," ponsel diletakkan, ibu Anna keluar dari kamar dan menghampiri suaminya yang sedang berada di ruang tamu bersama dengan pria yang hendak dia jodohkan dengan Anna.


"Bagaimana? Apa dia mau pulang?" tanya ayah Anna.


"Tidak dijawab, sepertinya Anna sedang sibuk!"


"Ck, anak itu! Sepertinya aku harus menambah orang untuk menangkapnya!"


"Tidak perlu,Tuan Cedric," ucap pria yang sedang duduk di hadapan mereka dan pria itulah yang akan menikah dengan Anna. Perjodohan yang terjadi bukan tanpa alasan, pria itu sudah menyukai Anna sejak lama jadi pria itu yang mengajukan pernikahan itu pada kedua orangtua Anna. Anna bahkan mengenalnya tapi karena dia harus berada di luar negeri begitu lama, jadi pria itu tidak punya waktu untuk menyatakan perasaannya pada Anna.


Briant Cedric menyetujui permintaan pria itu karena ayahnya yang juga berpengaruh di kota itu. Lagi pula tidak ada yang lebih baik selain menikahkan Anna dengannya. Mereka sama-sama politikus, pria itu juga hendak mencalonkan diri sebagai gubernur.


"Aku benar-benar minta maaf, Anna sedikit sulit diatur," ucap Briant.


"Aku mengerti, memang tidak akan ada yang mau menikah dengan orang yang tidak dikenal. Aku paham kenapa Anna menolak dan melarikan diri. Lagi pula aku sudah mengenal watak Anna," jawab pria itu.


"Jadi? Apa kau punya rencana?" tanya ayah Anna sambil menatapnya.


"Tentu, karena aku sudah kembali jadi ijinkan aku mendekatinya dan mendapatkannya menggunakan caraku."


Kedua orangtua Anna saling pandang, sepertinya mereka memang harus memberi pria itu kesempatan untuk mendekati Anna. Mungkin dengan demikian Anna akan berhenti mengejar pria yang entah siapa. Mereka juga yakin jika Anna tidak akan berhasil mendekati pria itu dalam waktu satu bulan kecuali pria itu tahu siapa Anna lalu menerima Anna dengan mudah karena statusnya.


Jika Anna berhasil nanti pun, mereka tidak akan mengijinkan hubungan Anna dengan pria pilihannya begitu saja karena bisa saja ada maksud terselubung dari pria itu dan mereka tidak mau putri mereka dimanfaatkan oleh pria yang tidak bertanggung jawab.


"Baiklah, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Jika kau ingin mendekati Anna maka kami tidak akan melarang, mungkin ini jalan terbaik dan mungkin saja dengan demikian dia jadi menyukaimu apalagi kalian memang sudah saling mengenal," ucap Briant Cedric.


"Terima kasih atas kesempatan yang kalian berikan tapi tolong jangan katakan pada Anna jika akulah pria yang mengajukan pernikahan itu," pinta pria itu.


"Tentu saja, Marco. Kami tidak akan mengatakan apa pun pada Anna. Gunakan kesempatanmu untuk mendekatinya," ucap ibu Anna pula.


"Terima kasih, Nyonya. Aku tidak akan mengecewakan kalian," pria yang mereka panggil Marco beranjak, sudah saatnya mendekati Anna kembali. Kali ini tidak boleh gagal, dia harus mendapatkan Anna dan siapa pun pria yang sedang dikejar oleh Anna saat ini, dia tidak akan kalah oleh pria itu.


Marco pamit pergi, mencari keberadaan Anna saat ini tidaklah sulit, setelah menemukan keberadaannya barulah membuat rencana.


"Semoga anak muda itu berhasil," ucap Ibu Anna.


"Kau tidak mengatakan hal ini pada Anna, bukan?"


"Tidak, dia tidak mau menjawab telepon dariku."


"Ya, sebaiknya kita jadi penonton saja. Sekarang giliran yang muda, siapa pun yang akan menikah dengan Anna nanti, semoga saja pilihannya tidak salah."


Suaminya hanya mengangguk, sesungguhnya dia ingin putrinya menikah dengan seorang politikus tapi semua tergantung Anna. Bukan berarti dua pengawal itu akan dia suruh pulang, mereka tetap harus menangkap Anna untuk mempersulit dirinya dan juga melindunginya.


Saat itu Anna sudah selesai, sekarang saatnya menghubungi sang ibu untuk mencari tahu apa yang ingin ibunya bicarakan. Dia sudah bisa menebak, tapi tidak ada salahnya pura-pura tidak tahu.


"Ada apa Mommy mencariku?" tanya Anna setelah ibunya menjawab telepon darinya.


"Mommy tidak mencarimu!"


"Ayolah, tadi aku sedang sibuk jadi tidak bisa menjawab panggilan dari Mommy. Katakan padaku ada apa?"


"Tidak jadi!" jawab ibunya.


"Mom, apa maksudmu tidak jadi? Apa Daddy merencanakan sesuatu lagi? Jangan katakan jika Daddy menambah orang untuk menangkap aku dan apa-apaan senjata bius itu? Apa Daddy tidak keterlaluan?" tanya Anna denganĀ  nada kesal saat mengingat senjata bius yang hendak di tembakan oleh kedua pengawal ayahnya.


"Mommy tidak tahu masalah itu, Sayang. Jadi jangan bertanya pada Mommy. Mommy juga tidak tahu rencana Daddy. Tadinya sih tahu tapi sekarang jadi tidak tahu," ucap ibunya sambil tersenyum sedangkan suaminya menunjukkan jempolnya.


"Apa maksud Mommy? Mommy tahu apa tidak?"


"Tidak!" jawab ibunya. Siapa suruh tidak mau menjawab telepon darinya tadi? Jadi sekarang dia akan memberikan kejutan pada putrinya saat Marco mendekatinya nanti.


"Ck, Mommy dan Daddy sama-sama menyebalkan!" gerutu Anna kesal.


Ibunya terkekeh, putrinya memang harus mendapat tantangan dan pria yang dia kejar juga harus mendapat saingan agar perjalanan putrinya selama tiga puluh hari untuk mendapatkan cintanya semakin seru.


"Selamat berjuang, Sayang. Mommy hanya bisa memberimu dukungan dan ingat waktumu sudah tidak sampai satu bulan lagi. Kau harus kembali saat waktumu sudah habis.:


"Aku tahu, tidak perlu diingatkan."


"Ingat, saat kembali kau harus membawa calon suamimu jika tidak maka kau tidak boleh menolak pernikahan itu!" ibunya kembali mengingatkan.


"Mommy berisik! Daddy pasti merencanakan sesuatu, bukan?" tanya Anna curiga.


"Kami tidak merencanakan apa pun, Sayang. Semoga kau berhasil," ucap sang ibu seraya mengakhiri pembicaraan mereka.


"Mom, hei! Aku belum selesai bicara!" teriak Anna tapi suara ibunya sudah tidak terdengar lagi.


Anna menggerutu, dia yakin ayahnya pasti sedang merencanakan rencana lain. Dia yakin karena dia tahu ayahnya tidak akan berhenti menghambat langkahnya dan memang tanpa sepengetahuan Anna, Marco sedang merencanakan sesuatu untuk dekat dengannya sesuai dengan ijin sang ayah.


Kali ini dia harus mendapatkan Anna, dia tidak mau Anna menjadi milik orang lain. Mendekati gadis yang dia sukai memang harus dia lakukan agar Anna tahu jika dia menyukai Anna sejak lama dan dengan begini, Harry juga akan mendapat saingan tanpa terduga.