Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Semoga Berhasil



Mata Harry tidak lepas dari Anna saat gadis itu memperlihatkan sketsa yang telah dia buat selama beberapa hari di apartemennya. Entah bagaimana ibunya bisa mengenal Anna, dia rasa gadis itu yang sengaja mendekati ibunya jika mengingat kejadian di kantor beberapa hari lalu.


Mungkin saat itu Anna pergi mencari ibunya dan menawarkan beberapa rancangan yang dia buat pada sang ibu untuk menarik perhatiannya. Hal itu bisa saja terjadi dan hal ini tidak boleh dia biarkan. Wanita itu sudah sampai berani mendekati keluarganya, jadi dia tidak boleh membiarkan Anna melakukan hal yang lebih dari pada itu.


Walau dulu dia mengikuti Ainsley tapi dia tidak mengikuti Ainsley sampai ke rumahnya. Setidaknya dia lebih tahu diri dai pada Anna. Dia rasa Anna lebih nekat dari pada dirinya, mungkin karena dia stalker wanita.


Anna tersenyum saat menyadari mata Harry tidak lepas darinya, pria itu bagaikan pemburu yang sedang mengincar mangsa. Rasanya sudah sangat ingin membawa Anna ke suatu tempat sepi untuk berbicara berdua.


"Bagaimana, Nyonya? Apa kalian menyukai rancangan yang aku buat?" tanya Anna ingin tahu. Walau dia senang Harry melihatnya tapi dia harus tetap bersikap profesional.


"Tentu saja, semua sangat bagus. Kami sampai bingung mau memilih yang mana," jawab Renata. Matanya tidak lepas dari rancangan yang dibuatkan oleh Anna.


"Jika begitu pilihlah pelan-pelan, hari ini aku tidak pergi ke mana pun. Nyonya bisa menentukan pilihan tanpa diburu waktu, aku juga akan memberikan harga spesial untuk kalian berdua," ucap Anna.


"Wah, kita benar-benar beruntung," Renata begitu senang, dia dan Isabel tampak serius melihat model gaun yang dibuat oleh Anna. Semuanya tampak begitu bagus, mereka benar-benar tidak tahu harus memilih yang mana.


Anna kembali tersenyum lebar, matanya melihat sana sini. Mata Harry masih menatapnya, dia tampak tidak senang karena Anna bagaikan pembeli rumah.


"Harry, kenapa adikmu belum juga datang?" tanya Renata di tengah kesibukannya melihat rancangan buatan Anna.


"Aku akan menghubunginya!" Harry beranjak, mata Anna mengekorinya sampai Harry masuk ke dalam kamarnya.


Oke, ternyata itu kamar Harry. Kira-kira apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menyelinap nanti malam bagaikan seorang ninja lalu naik ke atas ranjang dan tidur dengan pria itu? Anna tersenyum membayangkannya, itu hanya pikirannya saja. Dia tidak mungkin melakukan hal itu karena dia masih punya harga diri.


Masih banyak cara yang bisa dia gunakan untuk menarik perhatian Harry selain naik ke atas ranjang untuk menggodanya dan dia belum gila untuk melakukan hal itu. Walau dia cinta tapi cintanya tidak buta karena dia jatuh cinta pada Harry dengan mata terbuka.


Di luar sana, Damian dan Ainsley sudah datang. Mereka tidak akan lama karena setelah ini Ainsley mau pulang ke rumah keluarganya. Mereka disambut dengan baik apalagi Renata memang sudah menunggu mereka.


Ainsley sangat heran ketika melihat Isabel sedang berbicara dengan seorang wanita di ruang tamu. Dia jadi bertanya dalam hati, apa wanita itu pacar Harry?


"kenapa kalian baru datang?" tanya Renata sambil mengajak mereka masuk ke dalam.


"Kami mampir membeli ini sebentar, Aunty," Ainsley memberikan apa yang dia bawa pada Renata.


"Tidak perlu repot, aku sudah menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kalian."


"Bagaimana keadaan kakek?" tanya Damian.


"Pergilah lihat, dia sedang beristirahat di dalam kamar."


Damian mengangguk, dia hendak ke kamar kakeknya dan pada saat itu Harry keluar dari kamarnya. Mereka berdua masuk kamar sang kakek, tentu Aland senang melihat kedatangan cucunya.


Setelah meletakkan barang yang Ainsley berikan, Renata mengajak Ainsley bergabung dengan Anna dan Isabel. Dia akan mengenalkan Anna pada Ainsley, mungkin Ainsley akan suka dengan rancangan yang dibuat oleh Anna.


"Siapa dia, Aunty? Apa dia pacar Harry?" tanya Aisnley saat mereka menghampiri Anna dan Isabel yang ada di ruang tamu.


"Tidak, dia perancang yang aku panggil ke mari. Rancangannya sangat bagus, aku rasa kau akan suka."


"Perancang?" Ainsley melihat Anna dengan penuh selidik, rasanya pernah melihat Anna di suatu tempat tapi dia lupa.


"Anna, kenalkan menantuku, Ainsley," Renata memperkenalkan Anna.


"Hai," Ainlsey melambaikan tangan sambil tersenyum.


Anna juga memperkenalkan dirinya pada Ainsley, mereka berjabat tangan sambil tersenyum. Renata mengajak Ainsley untuk melihat hasil rancangan yang dibuat oleh Anna. Karena semua sangat bagus sehingga mereka belum bisa memutuskan apa yang hendak mereka pilih.


"Oh, aku tidak tahu harus memilih yang mana," ucap Renata.


"Benar, Mom. Semuanya bagus," jawab Isabel.


Anna terlihat senang, tidak sia-sia dia mengurung diri beberapa hari di apartemen untuk membuat rancangan itu.


"Baiklah, sepertinya kami akan menahanmu di sini lebih lama."


"Aku tidak keberatan, Nyonya. Semakin lama, semakin bagus!" ucap Anna tanpa pikir panjang.


Renata dan Isabel saling pandang, Anna berkata itu bagaikan memiliki tujuan tapi mereka rasa Anna hanya bercanda saja jadi mereka tidak memikirkannya.


"Jika begitu kita makan siang terlebih dahulu," ucap Renata.


"Tidak perlu repot, Nyonya."


"Tidak apa-apa. Isabel, ayo bantu Mommy. Ainsley yang akan menemani Anna di sini."


"Yes, Mom."


Mereka berlalu pergi untuk memanaskan makanan, meninggalkan Anna dan Ainsley berdua di ruang tamu.


"Aku sepertinya pernah melihatmu," ucap Ainsley setelah Renata dan Isabel pergi.


"Oh, ya?" tanya Anna.


"Ya, tapi aku lupa," jawab Ainsley.


"Mungkin kita bertemu di suatu pesta," ucap Anna.


"Kau benar, aku kira kau pacar Harry tadi," ucap Ainsley tanpa maksud apa-apa dan dia sibuk melihat sketsa yang ada di atas meja.


"Aku memang akan menjadi pacarnya, tapi nanti!" ucap Anna penuh percaya diri.


"Wow, jadi kau menyukai Harry?" Ainsley berpaling, melihat ke arah Anna yang sedang mengangguk dengan wajah tersipu.


"Ya, aku sedang berusaha," ucap Anna dengan pelan.


Ainsley tersenyum, itu hal bagus. Dia senang mendengarnya tapi dia rasa tidak mudah mendekati Harry.


"Semoga berhasil, bagaimana jika kita berteman?" ajak Aisnley.


"Boleh juga, aku senang berteman dengan siapa saja."


"Terima kasih, Anna. Rancanganmu sangat bagus, bagaimana jika kau datang ke rumah. Aku rasa ibuku akan menyukainya," ucap Ainsley.


"Wah, ini keberuntungan. Bolehkan minta nomor ponselmu," pinta Anna sambil tersenyum. Ini akan menjadi kesempatan bagus dan tentunya dia akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.


"Tentu saja, aku doakan kau berhasil mendapatkan Harry," Ainsley mengambil ponsel yang diberikan oleh Anna.


"Thanks, aku juga berharap demikian," Anna tersenyum, tidak sia-sia dia datang ke sana.


Mereka berdua sudah terlihat akrab, Anna menunjukkan beberapa rancangan yang ada di ponsel. Ainsley terlihat antusias, ibunya pasti akan suka dan dia rasa mereka bisa meminta Anna menjadi perancang pribadi mereka, jika Anna tidak keberatan. Mereka masih berbincang sampai akhirnya Damian menghampiri mereka karena dia hendak mengajak istrinya untuk menemui kakeknya karena sang kakek ingin bertemu dengannya.


"Ainsley, kakek ingin bertemu denganmu," ucapnya.


"Oh, baiklah. Maaf aku tinggal sebentar, Anna."


"Tidak apa-apa, pergilah," ucap Anna.


Renata dan Isabel masih belum kembali, Anna ditinggal sendirian di ruang tamu. Dia menyibukkan diri dan merapikan sketsa yang berada di atas meja. Setelah selesai, Anna melihat sana sini dan beranjak karena dia tertarik dengan sebuah lukisan yang tergantung di dinding.


Anna menghampiri lukisan itu tapi dia terkejut karena tangannya di tarik secara tiba-tiba dan dia dibawa ke sebuah kamar. Pintu kamar tertutup, Anna berteriak saat tubuhnya di himpit ke daun pintu dan Harry yang melakukannya. Mata pria itu menatapnya dengan tajam, tapi Anna menghadapinya dengan senyuman. Apa ini semacam undangan agar dia bisa berada di dalam kamar itu dan melihat posisi jendela supaya dia bisa menyelinap dengan mudah nanti malam?


Anna masih tersenyum, walau Harry memandanginya dengan tatapan tidak suka. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Anna.