Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Last Chapter



Kabar bahagia kelahiran Ainsley sudah sampai di keluarga Windstond. Mereka berencana untuk pergi menjenguk Ainsley di rumah sakit begitu juga dengan Harry dan Anna. Saat itu Anna juga sedang hamil akibat kecabulannya. Perut Anna bahkan sudah membesar tapi saat itu mereka masih sibuk di kamar.


Ya, si cabul lagi sibuk anu, use your imagination.


Harry tidak bisa pergi, dia hanya bisa pasrah padahal mereka sudah sepakat untuk pergi bersama keluarganya ke rumah sakit tapi sayangnya istrinya sedang menyalurkan hasrat bahkan Anna semakin cabul saat dia sedang hamil.


Anna masih sibuk bergerak di atas tubuhnya, semoga saja keluarganya mau menunggunya sebentar lagi apalagi mereka sudah mau selesai. Anna masih belum berhenti. Sial, dia semakin menyukainya karena semenjak menikah dia sudah bisa menyalurkan fantasi liarnya dengan sang suami.


"Cepat, Anna. Kita mau pergi," ucap Harry.


"Sstt, jangan menghancurkan fantasi liarku!"


Harry hanya menggeleng, untungnya dia masih kuat dan belum jadi tua bangka. Jika dia sudah tua, bagaimana jadinya? Sepertinya dia butuh tongkat setelah ini.


Anna semakin bergerak cepat dan akhirnya, mereka berdua terengah setelah permainan liar mereka selesai. Anna terlihat puas, itu bisa dilihat dari wajahnya.


"Apa sudah cukup?" tanya Harry karena bisa saja istrinya ingin lagi.


"Jika aku bilang tidak?"


"Nanti lagi!" Harry mencium bibir istrinya. Walau istrinya cabul dia tidak keberatan sama sekali, toh mereka sama-sama menikmatinya dan tidak dipungkiri, dia juga suka melakukannya.


"Ayo kita segera bersiap-siap," ajak Harry sambil mencium pipi istrinya sesekali.


Anna mengangguk, mereka memang sudah harus bergegas. Harry menggendong Anna dan membawanya ke kamar mandi, mereka mandi dengan cepat dan setelah selesai, Harry menghubungi keluarganya yang saat itu sedang menunggu kedatangan mereka. Tentu mereka segera berangkat, jangan sampai keluarganya menunggu begitu lama.


Buah tangan yang akan mereka berikan pada Damian dan Ainsley tidak lupa di bawa, mereka bergegas menuju rumah sakit setelah menjemput keluarga Harry. Renata duduk bersama menantunya, dia sangat senang karena sebentar lagi dia akan melihat cucunya. Walau Damian bukan dilahirkan oleh dirinya tapi semua yang terjadi sudah mengubah segalanya dan dia sudah menganggap Damian sebagai putranya.


Kebahagiaan mereka akan semakin lengkap karena sebentar lagi Anna akan melahirkan. Rasanya sudah tidak sabar menantikan hari itu.


"Harry, perut Anna sudah semakin membesar. Bukankah lebih baik kalian tinggal di rumah agar ada yang menjaga Anna?" ucap Renata.


"A-Aku tidak apa-apa, Mom," jawab Anna dengan cepat. Jika mereka tinggal bersama dengan keluarga Harry maka dia tidak bisa melakukan hal cabul sesuka hatinya dengan suaminya.


"Tidak apa-apa, bagaimana? Lebih baik kau tinggal bersama kami agar kami bisa menjagamu, Sangat berbahaya saat kau sendirian di rumah," ucap Aland.


"Aku bisa jaga diri, kakek. Lagi pula ada pelayan, mereka bisa menjaga aku dengan baik."


"Mereka hanya pelayan, Anna. Jangan terlalu mengandalkan mereka, Harry tidak bisa selalu berada di sampingmu karena dia harus pergi ke kantor. Sebaiknya kalian tinggal bersama kami untuk sementara waktu, Renata akan menjaga dan memberikan makanan bergizi untuk bayimu," ucap Aland lagi.


"Dengarkan kakekku, Anna. Semua demi kebaikan bayi kita." ucap Harry pula.


"Benar, Sayang. Kami akan menjagamu dengan baik. Tidak baik sendirian di rumah, kami khawatir kau terpeleset saat mandi. Jika kau tinggal bersama kami setidaknya kami bisa bergerak cepat tanpa harus menunggu Harry pulang," Renata mengusap lengan menantunya, semoga saja Anna mau tinggal dengan mereka.


Anna masih belum menjawab, apa yang mereka katakan sangat benar. Dia memang sedikit ceroboh, tidak ada salahnya mengikuti saran mereka untuk berjaga-jaga.


"Baiklah, aku akan tinggal dengan kalian," ucap Anna menyetujui.


"Aku senang mendengarnya," Renata memeluk menantunya, dia sangat senang menantunya mau tinggal dengan mereka. Harry terlihat senang, akhirnya dia bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Setidaknya hanya tangan Anna saja yang bermain di tubuhnya dan dia akan aman selama mereka tinggal bersama keluarganya.


Ainsley dan Damian sangat senang menyambut kedatangan mereka. Renata dan Carl menghampiri Kendrick yang sedang tidur begitu juga dengan Aland.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Anna seraya memeluk Ainsely.


"Aku baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana keadaanmu?" Ainsley balik bertanya pada Anna.


"Aku juga baik-baik saja, aku sudah tidak sabar bayiku lahir," Anna mengusap perutnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar bayi perempuannya segera lahir.


"Selamat untuk kalian," ucap Harry.


"Terima kasih, sebentar lagi kalian juga akan segera memiliki bayi," ucap Damian pula.


"Kau benar," Harry melihat ke arah istrinya yang terlihat begitu senang.


"Siapa namanya, Damian?" tanya Renata.


"Kendrick, Kendrick Maxton," jawab Damian.


"Kenapa dia tidak memakai nama kita?" tanya ayahnya.


"Maaf, Dad. Dia harus menyandang nama ayahku."


Carl diam saja, tidak bertanya lagi. Putra Damian memang pantas menyandang nama Maxton karena selama ini Jager Maxton adalah sosok ayah yang diakui oleh Damian. Semua itu karena kesalahan masa lalu yang telah dia buat sendiri, tapi dia masih bersyukur Damian masih mau mengakuinya sebagai ayah.


"Sudah, tidak perlu meributkan soal nama," ucap Aland.


"Ini pelajaran untuk kalian terutama Damian dan Harry. Jika kalian sudah memiliki orang yang kalian sayang dan cintai, jangan pernah tergoda dengan wanita lain yang ada di luar sana bahkan menipu wanita itu. Satu kesalahan yang kalian lakukan akan menghancurkan segalanya jadi ingat pesanku baik-baik dan jangan sampai kejadian yang pernah kita lalui terulang kembali," ucap Aland lagi.


"Tentu, Kakek," jawab Damian dan Harry.


Biasanya buah tidak jauh jatuh dari pohonnya jadi jangan sampai Harry atau Damian melakukan perbuatan yang pernah ayahnya lakukan dulu. Damian mungkin tidak karena dia diasuh oleh orang yang berbeda di mana sampai sekarang ayahnya masih setia dengan satu wanita yaitu istrinya yang telah meninggal. Tentu itu menjadi pelajaran yang paling berharga untuknya. Harry juga tidak karena Sherly sudah memberinya pelajaran berharga, setidaknya mereka masih hidup dan dia juga tidak berminat bermain-main dengan wanita yang ada di luar sana.


"Bagus, setelah melewati banyak hal akhirnya kita menjadi keluarga. Aku harap kita tetap seperti ini untuk seterusnya dan tidak ada yang mengungkit masa lalu di depan anak-anak kalian!"


"Pasti, Kakek," jawab Harry dan Damian lagi. Mereka sedang menggenggam tangan istri mereka saat itu. Mereka tidak akan melakukan apa yang pernah ayah mereka lakukan. Satu kesalahan sudah cukup untuk menjadi pelajaran untuk mereka.


"Sudah, yang sudah lalu tidak perlu dibahas lagi," Renata mendekati Ainsley karena dia ingin memberikan makanan yang dia bawa.


"Sekarang kita sudah menjadi keluarga jadi tidak perlu dibahas lagi."


Mereka semua saling pandang, memang tidak perlu dibahas lagi karena mereka sudah menjadi keluarga saat ini. Anna duduk di samping Ainsley, mereka berbincang seputar persalinan sambil menikmati makanan yang dibawa oleh ibu mertua mereka.


Mereka berbincang dengan akrab layaknya keluarga, apa yang sudah terjadi memang menjadi pelajaran berharga bagi mereka. Saat mereka sedang berbincang, Jager datang ke rumah sakit. Damian sangat senang melihat kedatangan ayahnya.


Suasana semakin terasa ramai, mereka berbincang dan tampak akrab. Akhirnya dua keluarga menjadi satu setelah melewati banyak hal dan beruntungnya Damian tidak pernah menyimpan dendam sampai sekarang pada keluarga ayahnya walau mereka semua menghina dirinya dan ibunya. Semua itu berkat didikan Jager Maxton yang menjadi ayahnya selama ini.


End