
Marco berteriak ketika dia sadar dari pengaruh obat bius. Bagaimana tidak, ketika dia sadar dia sudah tidak mendapati kedua kakinya. Hal itu membuatnya shock dan histeris, ke mana kedua kakinya, apa yang sebenarnya telah terjadi?
Dia masih ingat dengan jelas jika dia mendapat banyak tembakan di satu kakinya. Jika memang harus di amputasi, kenapa harus kedua kakinya? Sepertinya ada yang tidak beres, Apa rumah sakit itu melakukan malpraktek? Atau semua itu ulah Harry? Apa pun itu dia harus mencari keadilan dan tidak membiarkan masalah ini apalagi dia adalah calon gubernur. Dengan keadaannya saat ini, sudah dipastikan karirnya sudah hancur.
Marco benar-benar marah, kemarahan semakin memenuhi hati saat Anna masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Harry. Matanya menatap mereka dengan penuh kebencian, semua gara-gara Harry sehingga dia gagal dan semua yang dia alami juga gara-gara pria itu.
"Untuk apa kalian datang? Apa kalian ingin menertawakan aku?"
"Tentu untuk melihat keadaanmu, Marco," ucap Anna.
"Apa kau belum puas, Anna?"
"Apa maksud ucapanmu?" tanya Anna tidak mengerti.
"Tidak perlu berpura-pura, kau lihat keadaanku? Apa kau belum puas? Aku sudah hancur, Anna. Tidak ada gunanya aku hidup lagi, karirku hancur dan semua ini gara-gara kalian!" teriak Marco penuh emosi.
"Apa kau sudah selesai?" teriak Anna kesal.
"Tidak karena aku akan membalas perbuatan kalian!"
"Sebaiknya kau tidak melakukannya karena aku tidak akan membiarkanmu!" ucap Harry.
"Hng, kalian benar-benar serasi. Sekarang ingin mengancamku, aku akan membuat perhitungan karena kau sudah membuat aku cacat!"
"Stop, Marco!" teriak Anna lantang dengan kemarahan tertahan. Setelah semua yang terjadi, kenapa Marco justru menyalahkan mereka dan tidak intropeksi diri? Dia benar-benar kecewa dengan Marco yang sudah berubah drastis.
"Aku meminta mereka membiarkan dirimu hidup karena aku ingin kau intropeksi diri. Hilangnya kedua kakimu seharusnya kau jadikan pelajaran untuk yang akan datang. Apa kami yang memulai semua ini? Apa aku meminta kau menculikku? Apa Harry yang menembak kakimu secara tiba-tiba tanpa alasan?" Anna melemparkan pertanyaannya secara bertubi-tubi dan berharap Marco tidak menyalahkan siapa pun atas permasalahan yang telah terjadi.
"Karena aku mencintaimu sebab itu aku melakukan hal ini, Anna. Kenapa kau tidak juga mengerti?"
"Tidak! Itu bukan cinta, Marco."
Marco diam, matanya tidak lepas dari Anna. Jika rasa yang ada di hatinya bukan cinta, lalu apa?
"Percayalah, Anna. Aku mencintaimu," ucap Marco lagi.
"Terima kasih, Marco. Aku tersanjung. Tapi cinta yang ada di hatimu menjadi obsesi, kau menginginkan aku tanpa mempedulikan perasaanku. Kau tidak peduli dengan apa pun karena yang kau pikirkan hanya untuk mendapatkan diriku saja. Jika kau benar-benar mencintai aku, tidak seharusnya kau menculik aku dan memaksa aku menikah denganmu! Semua yang terjadi karena ulahmu sendiri, keadaan yang kau alami juga akibat perbuatanmu sendiri. Seandainya kau tidak menculik aku, kita akan tetap menjadi sahabat baik, kedua kakimu juga akan tetap utuh. Kau tidak akan kehilangan karirmu bahkan kau bisa fokus mencalonkan diri sebagai gubernur saat ini jadi jangan menyalahkan siapa pun atas apa yang telah terjadi karena semua yang terjadi akibat perbuatanmu sendiri," ucap Anna panjang lebar.
Sesungguhnya dia iba melihat keadaan Marco tapi semua itu adalah akibat dari apa yang telah dia lakukan. Dia harap setelah ini Marco menjalani hidupnya lebih baik lagi walau dia sudah tidak bisa menjadi gubernur.
Marco diam saja, dia sedang memikirkan ucapan Anna. Apa yang Anna ucapkan memang benar, dia begitu takut Anna menjadi milik orang lain tanpa mempedulikan perasaan Anna.
"Marco, aku juga tidak ingin jadi seperti ini. Aku selalu menganggap dirimu sebagai sahabat baik dan kau akan tetap menjadi sahabat baikku."
"Pergi, Anna. Tinggalkan aku sendiri," pinta Marco.
"Aku akan mengunjungimu lagi," ucap Anna seraya mengajak Harry keluar dari tempat itu.
Marco memandangi kepergian Anna dalam diam, dia memikirkan perkataan Anna dan tidak lama kemudian, teriakan Marco terdengar. Anna dan Harry menghentikan langkah mereka, mereka berdua perpaling melihat ruangan Marco di mana teriakan Marco masih terdengar.
Anna merasa tidak tega tapi mau bagaimana lagi, semua yang terjadi akibat ulah Marco sendiri yang terobsesi dengan dirinya. Dia hanya berharap Marco bisa hidup lebih baik setelah ini.
"Ayo kita pergi," ajak Harry.
Anna tersenyum dan merangkul lengan Harry. Impiannya untuk menikah dengan Harry sudah terwujud dan sekarang dia akan pergi menemui keluarga Harry.
Tanpa tahu jika putranya sudah menikah, Renata sedang berbicara dengan putrinya. Tentu mereka membicarakan gaun mereka yang sudah jadi dan gaun itu dirancang oleh Anna. Mereka sangat puas dan berniat meminta Anna membuatkan mereka sebuah rancangan lagi.
Renata bahkan memuji desainer yang baru dia kenal itu pada teman-temannya tanpa tahu jika sang desainer itu sudah menjadi menantunya. Renata masih berbincang dengan putrinya dan ketika Harry pulang membawa Anna, Renata terlihat sangat heran.
"Harry, kenapa kau bisa bersama dengan Anna?" tanya ibunya heran.
"Mom, mana Daddy dan Kakek?"
Anna berusaha tersenyum, entah kenapa dia jadi gugup padahal ini bukan pertama kali mereka bertemu. Mungkin statusnya yang tiba-tiba berubah membuatnya seperti itu.
"Kebetulan kalian semua ada di rumah, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Harry.
"Apa penting?" tanya ibunya.
"Tentu saja!" Harry mengajak Anna ke belakang sambil menggandeng tangannya.
Mata Renata tidak lepas dari mereka berdua, apa mereka sedang menjalin hubungan? Karena penasaran Renata mengakhiri pembicaraannya bersama dengan sang putri lalu dia pergi ke belakang dengan terburu-buru di mana Harry dan Anna sudah duduk bersama dengan ayah dan kakeknya.
"Ada apa, Harry? Kenapa kau terlihat begitu serius?" tanya kakeknya heran.
"Ada yang ingin aku katakan," ucap Harry.
"Katakan saja, ada apa?" mereka jadi penasaran.
Harry memandangi Anna sejenak dan menggenggam tangannya dengan erat. Semoga saja tidak ada yang pingsan.
"Aku dan Anna, kami sudah menikah," ucapnya tanpa ragu.
"Apa?" kedua orangtua terkejut begitu juga dengan kakeknya.
"Jangan bercanda, Harry!" teriak Kakeknya marah. Bagaimana mungkin Harry sudah menikah tanpa sepengetahuan mereka?
"Harry, tidak baik melempar lelucon seperti ini," ucap ibunya.
"Apa kau ingin mengerjai kami?" ucap ayahnya pulang.
"Mom, Dad, aku tidak bohong! Aku sudah menikah dengan Anna semalam dan jika kalian tidak percaya kalian bisa bertanya pada Damian."
"Harry, bagaimana bisa kau menikahi putri orang lain begitu saja?" ucap kakeknya dan dia masih belum percaya.
"Kedua orangtuaku juga tahu pernikahan kami, Kakek," ucap Anna.
"Apa?" Aland semakin tidak percaya. Yang bodoh siapa di sini sebenarnya? Kenapa seorang duta besar mau saja putrinya dinikahi begitu saja?
"Kakek ceritanya sangat panjang tapi aku memutuskan untuk menikahi Anna karena aku tidak mau menunda dan kehilangan kesempatan. Aku percaya pilihanku tidak salah sebab itu aku memutuskan untuk menikah dengan Anna."
"Tunggu dulu, Harry," sela ibunya, "Kenapa aku merasa kau sedang menipu kami supaya kami tidak memaksamu lagi untuk menikah?" ucapnya lagi.
"Benar, kau tidak perlu bersekongkol dengannya untuk menipu kami," ucap ayahnya.
"Astaga, untuk apa aku menipu kalian? Kalian bisa menghubungi Damian dan Ainsley karena dia menyaksikan pernikahan kami!" Harry sudah terlihat kesal, apa keluarganya berpikir dia sedang bercanda?
"Tidak, selain mereka apa ada saksi yang lain?" tanya ibunya.
"Hm, kakak Ainsley beserta istrinya."
"Yang lain, yang tidak ada hubungannya dengan kita atau Damian!" pinta sang kakek.
Anna dan Harry saling pandang, yang lain? Selain Marco ada si pendeta tapi mereka sudah tidak tahu ke mana pendeta itu pergi.
"Harry, jangan coba-coba menipu kami!"
"Aku tidak bohong Kakek, aku dan Anna sudah menikah. Selain disaksikan oleh Damian dan Ainsley juga kakak Ainsley, pernikahan kami juga disaksikan oleh kedua orangtua Anna beserta anak buah Damian. Jika kakek tidak percaya, pernikahan kami juga di saksikan para mayat anak buah Marco, mereka tidak ada hubungannya dengan kita dan Damian tapi kalian sudah tidak bisa bertanya pada mereka lagi!"
Karena ucapannya itu, bukannya tambah percaya tapi keluarganya semakin tidak percaya. Mereka bahkan mengira Harry sedang mengarang cerita untuk menipu mereka. Apa Harry pikir mereka akan percaya? Apa Harry menikahi Anna di medan perang? Ini bukan jaman perang jadi mereka tidak akan mempercayai ucapan Harry. Karena keluarganya benar-benar tidak percaya sama sekali sampai akhirnya Harry dan Anna memutuskan menjelaskan masalah itu dari A sampai Z dan memperlihatkan cincin sementara yang masih mereka gunakan. Setelah begitu lama menjelaskan akhirnya keluarganya percaya dan tidak menganggap Harry sedang menipu mereka.
Walau melelahkan sampai beberapa gelas air habis karena mereka banyak bicara yang penting keluarganya sudah percaya. Renata begitu senang, baru saja dia membicarakan Anna tapi ternyata gadis itu sudah menjadi menantunya dan tentunya kabar itu sudah sampai di telinga putrinya. Walau sempat tidak percaya, tapi itu kabar gembira dan mereka akan merayakan kabar gembira itu nanti.