Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Kau Tidak Mungkin Adikku!



Pagar terbuka, Damian keluar dari pagar menghampiri Ainsley, sedangkan Harry berjalan menghampirinya dengan cepat. Harry benar-benar kesal , kedua tangannya sudah mengepal dengan kuat. Kenapa pria itu selalu ada di mana-mana?


Harry menatapnya dengan kemarahan di hati. Hari ini dia akan membuat perhitungan, dia akan menghajar pria itu sampai babak belur karena telah merebut gadis yang dia sukai. Ainsley tersenyum saat Damian menghampirinya. Mereka mengabaikan Harry dan hal itu semakin membuat Harry kesal.


"Jangan mengabaikan aku, sialan!" ucap Harry kesal.


Damian berdiri di depan Ainsley saat Harry semakin mendekat. Mata mereka saling menatap tajam satu sama lain. Jarak mereka sudah dekat dan tanpa ragu, Harry melayangkan kepalan tinjunya ke wajah Damian. Mayumi dan Ainsley berteriak, sedangkan kepalan tangan Harry ditangkap oleh Damian.


"Apa maksudnya ini?" tanya Damian dengan nada dingin.


"Memukulmu sampai puas!" ucap Harry.


"Kau yang mulai duluan!" ucap Damian pula dan tanpa Harry duga apalagi Damian melakukannya dengan cepat, kepalan tinju Damian sudah menghantam wajahnya.


Tubuh Harry terpental ke belakang, sedangkan teriakan Ainsley dan Mayumi kembali terdengar. Harry mengumpat kesal, dia kembali berjalan mendekati Damian sambil menggulung lengan bajunya. Dia tidak akan melepaskan pria itu hari ini apalagi pria itu sudah memukulnya.


"Sialan, beraninya kau memukul aku secara tiba-tiba?!" ucapnya dengan penuh emosi.


"Kau yang mulai duluan!"


"Dam-Dam, jangan!" Ainsley menahan tangan Damian, Bagaimana jika mereka adalah saudara? Tidak baik sesama saudara berkelahi seperti itu dan dia juga tidak suka melihat mereka berkelahi.


"Ajak Mayumi masuk ke dalam, Ainsley. Aku akan memberinya pelajaran hari ini karena dia yang mulai duluan!"


"No, aku tidak suka melihat kalian berkelahi!" ucap Ainsley sambil menggeleng.


"Tidak apa-apa, aku tidak akan membunuhnya jika dia tidak kelewat batas!"


"Tapi Dam-Dam, bagaimana jika kalian?"


"Masuk!" sela Damian.


Mayumi menarik tangan Ainsley, sebaiknya mereka masuk dan tidak ikut campur. Kepalan tangan Damian sudah mengepal, dia akan memberikan pelajaran untuk Harry agar dia tidak mengganggu Ainsley lagi.


"Hari ini aku akan memberimu pelajaran agar kau tidak mengganggu Ainsley lagi!" ucapnya.


"Aku juga akan memberimu pelajaran karena kau telah merebut Ainsley!" ucap Harry pula.


Di dalam pagar, Mayumi menarik tangan Ainsley untuk masuk ke dalam tapi Ainsley merasa tidak tenang. Dia memandang keluar di mana Damian dan Juga Harry sudah baku hantam. Harry melayangkan tinjunya ke wajah Damian begitu juga yang Damian lakukan, tubuh mereka berdua terhuyung ke belakang akibat pukulan yang mereka dapatkan.


Mereka kembali saling memukul, saling menendang satu sama lain. Mereka berdua tampak imbang karena sama-sama mendapatkan pukulan. Para anak buah yang berada di sana hanya jadi penonton karena mereka tidak berani melerai.


Ainsley menggigit bibir, hal itu tidak boleh dibiarkan. Dia tahu Damian akan membunuh Harry tanpa ragu jadi sebaiknya dia melerai karena dia tidak mau Damian melakukan hal itu. Bagaimana jika mereka benar-benar saudara?


"Mayumi, masuk ke dalam dan panggil Uncle keluar," pinta Ainsley.


"Apa yang mau kau lakukan?" tanya Mayumi.


"Melerai mereka berdua!" jawab Ainsley.


"Tapi itu berbahaya, Ainsley," Mayumi menatapnya sambil menggeleng, dia harap Ainsley tidak melakukan hal itu karena dia bisa terkena pukulan salah satu dari mereka.


"It's oke, segera panggil Uncle karena jika aku gagal, hanya dia yang bisa memisahkan mereka berdua," ucap Ainsley.


Mayumi mengangguk, dia berlari ke dalam dengan terburu-buru sedangkan Ainsley keluar dari pagar. Dia  menghampiri Damian dan Harry yang sedang berkelahi tanpa ragu. Anak buah yang ada di sana ingin menahan tapi Ainsley tidak mengindahkan larangan mereka.


"Harry, hentikan!" teriak Ainsley.


"Tidak, sebelum aku memukulnya sampai puas!" jawab Harry sambil berteriak.


"Aku yang akan memukulmu!" teriak Damian seraya memukul dada bagian bawah Harry dengan kuat.


Tubuh Harry mundur ke belakang, dia bahkan meringis sambil memegangi Dadanya akibat pukulan keras yang dia dapatkan.


"Beraninya kau?" Harry mengusap dadanya sambil membuang ludahnya yang bercampur darah ke tanah. Niatnya untuk mencari Jager Maxton justru jadi perkelahian. Semua gara-gara pria itu, jika tidak bertemu dengannya mungkin mereka tidak akan berkelahi seperti ini.


"Hentikan kalian berdua!" Ainsley berdiri di tengah-tengah, antara Damian dan Harry untuk melerai mereka berdua.


"Minggir Ainsley, biarkan aku menghajarnya lagi!" pinta Damian karena dia terlanjur emosi.


"Aku tidak suka melihat kalian berkelahi seperti ini hanya karena aku!" ucap Ainsley lagi.


"Dia yang mulai duluan," ucap Damian.


"Minggir Ainsley, biarkan aku memukulnya!" teriak Harry pula.


"Diam kau, Harry!" teriak Ainsley lantang.


Damian dan Harry diam tapi mata mereka masih saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam.


"Untuk apa kau datang kemari? Apa hanya untuk mencari keributan?"


"Tidak, bukan begitu," jawab Harry.


"Jika begitu kenapa kau memukulnya, apa salahnya?" tanya Ainsley lagi.


"Aku tidak terima dia merebutmu dariku!" jawab Harry sambil berteriak.


"Konyol, sejak kapan aku menjadi milikmu? Dam-Dam tidak merebutku, kami saling mencintai tapi kau yang selalu mengganggu aku padahal kau sudah punya tunangan! Kenapa kau tidak bisa berhenti? Aku sudah menolakmu secara halus jadi jangan sampai kesabaranku habis sehingga aku melakukan sesuatu di luar batas!" teriak Ainsley pula.


"Ainsley, aku mencintaimu sejak?"


"Stop, Harry!" teriak Aisnley lantang.


"Aku muak mendengarnya, sebaiknya kau pergi saja, kau benar-benar penghancur suasana!"


"Ada apa ribut-ribut?" Jager keluar bersama Mayumi dan menghampiri mereka. Dia terkejut melihat putranya berkelahi dengan seorang pria yang tampak tidak asing.


"Bos, dia Harry Windstond ingin bertemu denganmu," ucap salah satu anak buahnya.


"Lagi-lagi Windstond, apa mau kalian?" tanya Jager sambil menatap ke arah Harry. Apa dia adalah putra Carl Windston?


"Aku mencari Jager Maxton," ucap Harry.


"Aku Jager Maxton, apa yang kau mau?"


"Aku ingin bertemu denganmu untuk menanyakan putra ayahku yang dilahirkan oleh wanita lain," jawab Harry tanpa ragu.


Rahang Damian mengeras, matanya menatap Harry dengan tatapan tajam. Jadi benar mereka adalah saudara?


"Ck, lagi-lagi masalah itu. Baiklah, setelah kau tahu di mana dan siapa anak ayahmu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Jager. Dia juga sudah muak dengan keluarga Windstond.


Biarkan saja mereka tahu, dia juga ingin melihat tindakan apa yang akan mereka lakukan saat mereka sudah tahu.


"Membawanya pulang, mungkin," jawab Harry.


"Baiklah, dia ada di hadapanmu. Adikmu ada di hadapanmu jadi bawa dia pulang ke rumahmu jika kau bisa!"


"Apa?" Harry terkejut. Matanya melihat Ainsley, lalu melihat Damian dan kemudiam melihat Mayumi. Yang mana yang dimaksud oleh pria tua itu?


"Jangan bercanda, pak tua!" ucap Harry kesal.


"Untuk apa aku bercanda? Kau lihat pria itu?" Jager menunjuk ke arah Damian.


"Apa kau tidak merasa familiar? Dia adikmu dan dialah yang kalian cari selama ini, kau sudah tahu lalu apa yang mau kau lakukan? Bawa dia pulang ke rumah Windstond-mu jika dia mau!"


"A-Apa?" Harry terkejut, dia bahkan terlihat shock. Matanya menatap ke arah Damian, sedangkan Damian diam karena dia sudah menduga sebelumnya sehingga dia tidak terkejut sama sekali.


"Jangan bercanda, Ha... Ha... Ha...!" Harry tertawa terbahak-bahak, ini bagaikan sebuah pukulan keras baginya.


Tidak ada yang bersuara, semua diam. Harry kembali memandangi Damian sambil menggeleng. Semua itu pasti hanya lelucon.


"Tidak mungkin, kau tidak mungkin adikku!" ucapnya.


Harry memutar langkah, berjalan menuju mobilnya. Dia tidak bisa menerima hal ini, entah kenapa tidak bisa. Jika orang lain mungkin dia bisa menerima. Rasanya ingin tertawa dengan keras, tapi entah apa yang harus dia tertawakan.


Harry masuk ke dalam mobil, dan meminta sang supir membawanya pulang. Terkejut, shock bahkan dia menoleh ke belakang melihat ke arah Damian. Kenapa orang yang menjadi adiknya adalah pria yang menjadi saingan cintanya? Entah kenapa, dia benar-benar tidak bisa menerimanya.