
Anna masih berbicara dengan Marco, sedangkan Harry sudah kembali dengan dua botol air mineral. Dia sangat tidak ingin peduli dengan pembicaraan Anna dengan pria yang bernama Marco tapi Anna sengaja berbicara dengan Marco di depannya.
Dia melakukan hal itu karena dia ingin tahu apakah Harry akan terganggu atau tidak jika dia berbicara dengan seorang pria. Jika Harry terganggu berarti dia bisa berharap lebih. Mungkin saja jika dia dekat dengan pria lain Harry mulai meliriknya dan memiliki perasaan padanya.
Mata Harry meliriknya sesekali, Anna mengabaikan dirinya semenjak dia berbicara dengan pria yang bernama Marco itu. Entah kenapa terasa sedikit menjengkelkan. Rasanya dia ingin merebut ponsel Anna dan melemparkannya keluar jendela.
Anna bahkan duduk membelakanginya, asik sendiri. Dia sengaja tidak mempedulikan Harry untuk melihat reaksi pria itu. Kebetulan Marco menghubunginya, maka sekarang saatnya memprakteknya cara menjerat orang yang disukai dari buku yang berjudul seribu satu cara menjerat laki-laki yang dia pelajari.
"Kapan kau kembali, Marco?"
"Dua hari yang lalu, apa kau punya waktu untuk menemui aku hari ini?" tanya Marco pula.
Anna melirik ke arah Harry, pria itu sok cuek sambil meminum air yang dia ambil.
"Boleh, kebetulan hari ini aku tidak ada klien," ucap Anna.
"Bagaimana jika kita makan malam berdua? Kau masih ingat tempat kita selalu menghabiskan waktu berdua dulu, bukan?"
Anna tersenyum, sebenarnya dia enggan menerima ajakan dari Marco tapi dia sangat ingin melihat reaksi Harry. Mungkin dia sedikit kelewatan, dia tahu Harry tidak mungkin jatuh cinta dengannya karena mereka baru bertemu beberapa kali bahkan mereka belum lama kenal. Tapi tidak ada salahnya mencoba, siapa tahu ada keajaiban.
"Boleh saja, anggap sebagai perayaan kepulanganmu," Anna menyetujui permintaan Marco dan tentunya tanpa dia ketahui Harry menatapnya dengan tajam.
Apa dia tidak salah dengar? Bukankah Anna sedang mengejar dirinya? Tapi kenapa dia terlihat begitu akrab dengan pria lain? Jika Anna memang menyukainya tidak seharusnya Anna berbicara begitu akrab dengan pria mana pun di hadapannya.
"Aku tunggu, Anna. Aku juga ingin mengatakan padamu jika mulai hari ini aku tinggal di samping apartemenmu."
"Benarkah?" Anna tampak tidak percaya dan dia juga terlihat senang tapi tidak untuk Harry.
Botol air diraih, Harry berlalu pergi. Semakin dia mendengar, semakin dia merasa kesal. Mata Anna mengekorinya, sebaiknya dia berbicara dengan pelan apalagi dia melihat Harry sudah kembali ke kursinya dan melihat pekerjaannya.
"Jadi yang akan tinggal di samping apartemenku itu kau?" tanya Anna dengan pelan tapi Harry dapat mendengarnya.
"Ya, aku ingin dekat denganmu jadi aku pindah di dekatmu," ucap Marco tanpa ragu.
"Wah, aku senang sekali. Aku tidak menyangka jika kau yang akan tinggal di samping apartemenku!" Anna berpura-pura terlihat senang, sedangkan Harry masih mendengar pembicaraan mereka tanpa menyentuh pekerjaannya.
Jadi pria itu akan tinggal di dekat rumah Anna? Dia saja tidak tahu di mana Anna tinggal tapi pria itu akan tinggal di dekatnya. Harry mengusap wajah dengan kasar, sial. Kenapa dia jadi kesal? Pria itu beranjak, sebaiknya dia keluar sebentar. Semakin lama dia berada di sana dan mendengar pembicaraan Anna, semakin dia merasa aneh.
Pintu ruanganĀ tertutup, Anna diam saja melihat ke arah pintu. Apa dia sudah mengganggu Harry? Sebaiknya dia berhenti pura-pura dan menolak ajaran Marco.
"Oke, Marco. Semua yang aku katakan hanya bercanda!" ucapnya.
"Hei, apa maksudmu?" tanya Marco tidak mengerti.
"Aku sibuk, lain kali saja kita bertemu."
"Jangan begitu, Anna. Hanya makan malam, tidak lebih," ucap Marco. Bagaimanapun dia sangat ingin bertemu dengan Anna dan mulai menunjukkan rasa suka yang sudah dia pendam begitu lama pada wanita itu.
"Lain kali saja, aku hanya asal bicara tadi!" Anna masih menolak.
"Ayolah, kau boleh makan apa pun yang kau suka," Marco mulai membujuk.
"No!" Anna menolak.
"Kau boleh membungkus makanan apa pun untuk dibawa pulang!"
"No!" Anna masih menolak.
"Sebagai bonus kau bisa mengambil dua botol anggur terbaik yang ada di restoran!"
"Kau benar-benar tidak berubah, Anna!" ucap Marco.
"Aku menginginkan anggur itu Marco, karena aku ingin menikmatinya dengan pria yang aku sukai nanti jadi bye, sampai ketemu nanti malam!" Anna mengakhiri pembicaraan mereka karena dia tidak mau berbicara terlalu lama dengan Marco.
Marco diam saja, jadi benar Anna sedang menyukai seorang pria saat ini? Jika begitu dia harus berusaha keras untuk mendapatkan hati Anna karena dia tahu, sekali Anna menyukai sesuatu maka Anna akan mengejarnya sampai dapat.
Anna membereskan kotak makan yang ada di atas meja, Harry belum juga kembali jadi dia melakukan pekerjaannya untuk mengusir rasa bosan. Sketsa yang belum jadi dikeluarkan, Anna terlihat serius menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai.
Di luar sana, Harry telah kembali dengan segelas es kopi yang dia beli. Tentu kopi itu untuk Anna. Untuk menenangkan suasana hati, Harry pergi ke cafe yang ada di seberang kantor untuk menikmati segelas kopi hitam kesukaannya.
Selama dia duduk di sana, pikirannya benar-benar kacau. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan dan kenapa dia jadi seperti itu. Rasanya jadi aneh, dia bahkan termenung begitu lama di cafe sampai akhirnya dia memutuskan untuk kembali dan membelikan Anna segelas es kopi.
Dia tidak tahu Anna suka atau tidak, anggap sebagai rasa terima kasih atas makan siang yang telah gadis itu berikan.
Anna tampak sibuk saat Harry kembali, Anna melihat ke arah pintu dan diam saja ketika Harry melangkah mendekatinya.
"Maaf aku jadi bekerja di tempatmu," ucap Anna basa basi saat Harry sudah berdiri di dekat.
"Tidak masalah, bukan pertama kali. Ini untukmu!" Harry memberikan minuman yang dia beli untuk Anna.
"Untukku?" Anna menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Yeah, anggap sebagai ucapan terima kasihku atas makananmu."
"Thanks, padahal kau tidak perlu melakukannya!" Anna mengambil minumannya tanpa ragu, dia tampak senang.
Mata Harry tidak lepas dari wajah Anna, hanya segelas es kopi untuk apa sesenang itu?
Anna meminum kopinya, dia sangat heran melihat Harry yang juga belum beranjak pergi dan masih menatapnya dengan lekat. Apa ada keju menempel di wajahnya?
"Ada apa?" tanya Anna heran, "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyanya lagi.
"Hm, tidak!" Harry berlalu pergi, sial. Apa yang sedang dia lakukan?
Harry kembali ke kursinya dan memeriksa pekerjaannya tapi sayangnya dia tidak bisa berkonsentrasi. Anna bahkan melihat ke arahnya sesekali saat umpatannya terdengar. Apa keberadaannya di sana yang membuatnya seperti itu?
"Harry, besok jam berapa kau bisa mengantar aku ke rumah keluarga Ainsley?' tanya Anna memecah keheningan di antara mereka.
"Terserah!" jawab Harry malas.
"Jika begitu aku akan datang sebelum makan siang."
"Tidak perlu, aku akan pergi menjemputmu!"
"Wow, apa kau serius?" Anna sungguh tidak percaya. Ada apa dengan Harry?
"Hm, berikan saja alamatmu padaku!"
"Asik!" Anna bersorak senang. Entah apa yang terjadi dengan Harry yang pasti dia senang-senang saja.
Anna kembali bekerja, dengan senyum mengembang di wajah. Ada kemajuan, besok Harry akan tahu di mana dia tinggal.
Harry seperti orang linglung, ada apa dengannya? Untuk apa dia menjemput Anna di rumahnya? Jangan katakan dia jadi seperti itu karena dia mendengar pria yang bernama Marco itu tinggal di samping rumah Anna. Ck, sepertinya dia mulai aneh, semua ini pasti gara-gara Anna Cedric.
Mata Harry menatap ke arah Anna, sedangkan gadis itu sedang berkelana dengan pikiran ngawurnya. Besok harus pakai apa saat menyambut kedatangan Harry? Apa dia pakai bikini saja atau pakai lingering. Mungkin dengan begitu dia bisa meraba sesuatu yang belum dia raba.
Wajah Anna memerah saat membayangkannya, sial. Penyakit cabulnya kumat. Sepertinya Harry yang harus waspada pada Anna, bukan Anna yang harus mewaspadainya.