Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Rencana Ayah Anna Dan Marco



Harry melihat wajahnya di cermin, tidak buruk. Setidaknya lebamnya sudah tidak begitu terlihat karena sudah mulai berkurang setelah di kompres dan diolesi obat. Bagaimanapun dia harus ke kantor Hari ini. Pukulan yang dia dapat akan dia ingat dan dia akan membuat Anna semakin mengejarnya. Bukankah gadis itu akan datang hari ini?


Jika dia tahu akan mengalami hal ini, mungkin dia sudah berlatih bela diri sejak lama tapi dia benar-benar tidak tertarik adu kekerasan. Tapi sepertinya mulai sekarang dia harus mulai memikirkan hal ini. Boxing bisa menjadi pilihan. Jangan sampai dia kembali mendapat pukulan dan jika sampai hal itu terjadi, bagaimana dia bisa melindungi orang yang dia cintai nanti?


Harry mencuci wajahnya, sebaiknya dia segera mandi dan pergi ke kantor. Jika tidak ada rapat penting dia akan lebih suka berada di rumah apalagi tubuhnya masih terasa sakit akibat pukulan yang dia dapatkan semalam. Harry menyeringai, menjauhi Anna? Dia akan membuat Anna semakin mengejarnya.


Di luar sana, ibunya sudah menunggu. Dia sangat ingin tahu keadaan Harry. Dia bahkan sudah mengatakan keadaan Harry pada yang lain. Entah apa yang terjadi, ini kali pertama Harry pulang dalam keadaan seperti itu. Ibunya curiga telah terjadi sesuatu, sepertinya dia harus menghubungi Damian dan mencari tahu. Mungkin saja Damian tahu sesuatu karena Harry dari rumah keluarga Ainsley bersama Anna.


Begitu Harry keluar dari kamar dan bergabung dengan mereka di meja makan, semua mata memandanginya. Harry cuek saja, dia tahu mereka pasti ingin tahu apa yang telah dia alami.


"Ibumu bilang kau pulang dalam keadaan babak belur, apa benar?" tanya kakeknya.


"Yeah, bukankah sudah aku katakan, aku diserang oleh perampok!" jawab Harry seraya mengambil gelas kopi yang sudah disediakan untuknya.


"Apa yang perampok itu ambil darimu, Harry?" tanya sang ayah pula.


"Tidak ada!"


Keluarganya saling pandang, tidak ada? Perampok apa yang tidak mengambil apa pun? Ayahnya bahkan sudah melihat mobil yang dibawa oleh Harry semalam setelah mendengar apa yang terjadi pada Harry dari istrinya. Mobil tidak rusak sama sekali, sedikit lecet pun tidak dan hal itu membuat mereka heran.


"Harry, apa Sherly kembali berulah?" tanya ibunya karena sesungguhnya mereka mengkhawatirkan hal ini apalagi mereka tidak tahu jika Sherly sudah mati.


"Tidak, Mom. Sherly sudah mati jadi dia tidak bisa melakukan apa pun lagi."


"Apa?" Keluarganya terkejut. Jadi Sherly sudah mati? Mereka sungguh tidak menyangka hal ini akan terjadi.


"Damian yang mengatakan hal ini padaku tapi dia tidak mengatakan padaku bagaimana dia mati."


"Dia memang pantas mendapatkan ganjarannya!" ucap sang kakek. Jika mengingat perlakukan keji Sherly, cucu sahabatnya itu memang pantas mati.


"Baiklah, tidak perlu dibahas lagi. Kami hanya takut jika apa yang kau alami adalah perbuatan Sherly."


"Mommy tidak perlu khawatir, dia tidak akan pernah mengganggu kita lagi."


"Baiklah, lain kali kau harus berhati-hati."


Harry hanya mengangguk, keluarganya tidak bertanya lagi walau sesungguhnya mereka penasaran. Mereka akan bertanya pada Damian nanti.


Setelah selesai sarapan, Harry berpamitan pergi. Rapat sudah menunggu dan dia tidak boleh terlambat. Walau lebam di wajah masih terlihat tapi tidak masalah, dia bahkan menantikan kedatangan Anna. Sekarang dia akan semakin memanasi Marco, membuat Anna semakin mengejarnya agar ayah Anna semakin kesal.


Di tempat lain, pagi Anna hancur berantakan karena ada Marco. Pria itu benar-benar tidak menyerah, Marco membawakan sarapan kesukaan Anna. Walau Anna tidak mengijinkannya untuk masuk tapi Marco tidak peduli sama sekali.


Dia bahkan tidak mempedulikan permintaan Anna agar dia keluar dari rumahnya. Anna benar-benar terlihat frustasi, dia tahu Marco tidak akan mudah diusir. Sebaiknya dia segera bergegas dan pergi ke kantor Harry, lagi pula dia harus bekerja. Di sana dia bisa berkonsentrasi karena dia tahu, Marco akan mengacaukan harinya jika dia bekerja di rumah.


"Apa yang akan kau lakukan hari ini, Anna?" tanya Marco basa basi.


"Untuk apa kau tahu?" Anna terdengar sinis, dia benar-benar tidak suka dengan keberadaan Marco.


"Aku hanya ingin tahu, jangan begitu."


"Pergilah, Marco. Aku sibuk!" usir Anna dan ini sudah kesekian kali.


"Aku tidak akan mengganggumu, jadi tidak usah pedulikan aku."


"Aku sedang berusaha, Anna. Aku sedang berusaha menunjukkan perasaanku padamu jadi jangan halangi aku!"


"Hentikanlah, Marco. Sudah aku katakan, kau adalah sahabat baikku!"


"Tidak, sejak semalam! Kita bukan sahabat lagi. Kau gadis yang aku sukai dan aku pria yang menyukaimu jadi mulai sekarang status kita akan seperti itu!"


Anna memijit pelipis, pusing. Sepertinya dia harus pindah karena dia rasa dia akan semakin sulit mengejar Harry dan mendapatkannya apalagi waktu yang dia miliki semakin sedikit. Tidak, dia tidak boleh menyerah. Hubungannya dengan Harry sudah semakin dekat, tinggal berjuang sedikit lagi dan dia yakin, Harry akan jatuh cinta dengannya tapi sepertinya semua rencana tidak bisa berjalan seusai dengan keinginan karena tiba-tiba saja Marco harus muncul dan menjadi pria yang menyukainya.


Entah kenapa dia jadi ingin tahu, jika Harry tahu bahwa Marco menyukainya, apa Harry akan cemburu? Sepertinya tidak ada salahnya mencoba, dia suka menuang api ke dalam minyak dan dia harap Harry menunjukkan sikap cemburu walau sedikit.


Sebaiknya dia segera pergi karena dia tidak mau berdebat dengan Marco. Dia tahu itu hal yang sia-sia, Marco tidak akan pergi walau dia mengusir dengan kata-kata kasar sekali pun.


"Setelah ini kau harus pergi dari rumahku karena aku mau pergi!" ucap Anna.


"Kau mau pergi ke mana? Apa aku boleh ikut?" tanya Marco.


"Tidak, kau tidak boleh ikut karena aku ingin pergi menemui Harry dan mengajaknya bercinta!" ucap Anna asal dan dia mengatakan hal itu pada Marco karena kesal.


Marco sangat marah, gelas kaca yang dia genggam sampai retak. Dia tahu Anna tidak serius mengatakan hal itu tapi tetap saja dia kesal.


Walau dia sudah mendapat laporan dari ayah Anna jika kedua pengawal itu sudah memberi Harry pelajaran tapi rasanya tidak puas. Sepertinya dia harus bertindak tapi dia harus berhati-hati karena saat ini dia sedang mencalonkan diri sebagai gubernur. Jangan sampai dia salah melangkah sehingga membuat karirnya hancur berantakan dan membuatnya tidak bisa mendapatkan Anna.


Anna mandi dengan cepat saat itu, dia sudah tidak sabar pergi ke tempat Harry. Dia harus berhati-hati saat keluar agar pengawal ayahnya tidak mengikutinya sehingga mereka tahu di mana kantor Harry. Jangan sampai mereka tahu sehingga mereka melukai Harry sesuai perintah ayahnya tapi sayangnya, hal itu sudah terjadi.


Ketika dia keluar, Marco sudah tidak ada. Anna tampak lega, akhirnya dia bisa sarapan karena tidak ada pria itu. Makanan yang diberikan oleh Marco di singkirkan, dia tidak mau menyentuhnya, dia tidak mau Marco melihat sehingga dia salah paham dan menganggap jika dia memberikan harapan padanya.


Sebelum pergi Anna menyamar, dia juga keluar rumah dengan hati-hati karena dia tidak mau Marco tahu. Setelah aman Anna menuju lift dengan terburu-buru. Dia tampak lega karena Marco tidak melihat kepergiannya dan memang Marco sedang sibuk saat itu. Begitu kembali dari rumah Anna, Marco menghubungi ayah Anna. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh ayah Anna selanjutnya.


"Sepertinya pria itu tidak jera, Uncle," ucapnya.


"Kedua pengawalku sudah memberinya pelajaran, tidak mungkin dia tidak jera!" ucap ayah Anna.


"Yang jadi masalahnya adalah Anna yang mengejarnya, bukan dia yang mengejar Anna!"


"Jadi apa kau punya rencana, Marco?"


"Aku pikir Anna akan terus mengejarnya walau dia sudah dihajar bahkan aku rasa Anna akan semakin dekat dengannya karena simpati," ucap Marco, dia punya ide gila yang bisa dilakukan oleh kedua pengawal itu.


"Jadi?"


"Bagaimana jika?" Marco mengatakan rencananya pada ayah Anna. Bagaimanapun Harry adalah pengganggu yang harus dia singkirkan agar jalannya mendapatkan Anna terbuka lebar.


Ayah Anna mendengar ide Marco dan tampak berpikir, hanya menyingkirkan seorang pria saja bukan hal yang sulit dilakukan.


"Bagaimana, Uncle? Kau setuju bukan dengan rencanaku ini?" tanya Marco.


"Baiklah, bukan rencana yang buruk, Mungkin dengan begitu Anna akan berhenti mengejarnya."


"Aku yakin Anna akan berhenti setelah rencana kita berhasil dan melihat keadaannya," ucap Marco dengan penuh percaya diri. Dia yakin rencana itu akan berhasil dan membuat Anna berhenti mengejar Harry tapi sayangnya mereka tidak tahu mereka akan berhadapan dengan siapa selanjutnya karena saat itu Renata sedang menghubungi Damian untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada Harry.