
Pasar gelap adalah tempat di mana para penjahat dunia berada melakukan transaksi bisnis gelap dan ilegal. Narkoba, senjata ilegal, human trafficking dan juga penjualan organ manusia, di sanalah tempatnya. Para penjahat hilir mudik, melakukan transaksi dengan penjahat lainnya.
Di sanalah dulu Jager Maxton dan Marck Wriston melakukan bisnis sehingga mereka bisa bertemu dengan Sayuri, ibu Damian. Di sana juga Jager Maxton bertemu dengan istrinya yang hendak di jual dan itu kejadian puluhan tahun yang lalu saat Jager dan Marck masih berteman dengan baik.
Tempat itu tidak berubah, bar, club malam selalu penuh dengan pengunjung bahkan rumah bordil juga terlihat ramai. Para wanita yang menjajakan dirinya berdiri di sisi jalan dalam keadaan setengah telanjang, mereka mencari pembeli dan menggoda setiap pria yang lewat. Harga yang mereka tawarkan bervariasi, tiga puluh dolar, lima puluh dolar dan yang paling tinggi tujuh puluh dolar tergantung service dan kualitas.
Semua yang datang ke pasar gelap itu memiliki tujuan masing-masing begitu juga dengan beberapa orang pria yang sedang mendapat tugas mencari dua orang yang dulu selalu berada di pasar gelap itu. Mereka adalah utusan Carl, untuk mencari keberadaan Mark Wriston dan juga Jager Maxton.
Mereka mencari informasi dari bar yang satu ke bar yang lain hanya untuk mencari dua orang yang sudah tidak pernah menunjukkan diri mereka ke tempat itu. Mereka berpencar karena mereka harus mendapatkan informasi dengan cepat.
Salah satu dari mereka sedang berada di sebuah bar dengan segelas bir di atas meja. Dia terlihat berbicara dengan seorang pengemis tua yang sudah lama berada di tempat itu. Walaupun di sana disebut pasar gelap, tapi pengemis dan juga tunawisma banyak di tempat itu.
"Beri aku informasi maka kau akan mendapatkan seratus dolar!" ucap pria itu pada pengemis yang sedang berbicara dengannya.
" Apa yang ingin kau ketahui? Aku akan memberitahukannya padamu jika aku tahu!"
"Apa kau tahu di mana keberadaan Marck Wriston dan Juga Jager Maxton?" tanya pria itu tanpa ragu.
"Oh, aku sudah lama tidak melihat mereka berdua."
"kau kenal?"
"Tentu saja. Dulu setiap kali mereka datang, mereka pasti mengajak aku minum dan memberi aku uang. Aku jadi rindu dengan masa itu."
"Tidak perlu basa basi pak tua! Katakan saja di mana mereka berada!" pria itu terlihat kesal.
"Itu puluhan tahun yang lalu, aku tidak tahu lagi!" jawab pengemis itu.
BRAAAKKKK!!!
Meja digebrak dan dua ratus dolar berada di sana, "Uang itu jadi milikmu jika kau mengatakan semua yang kau tahu jadi jangan bertele-tele!" ucap pria itu kesal.
Si pengemis tersenyum dan mengambil dua ratus dolar yang ada di atas meja, menjadi informan dadakan ternyata menguntungkan walau dia tidak tahu di mana keberadaan orang yang pria itu cari.
"Sudah aku katakan padamu jika sudah lama aku tidak melihat mereka tapi aku pernah mendengar kabar jika mereka bermusuhan dan saling bunuh karena wanita."
"Lalu? Siapa yang masih hidup?"
"Jager Maxton, dia yang masih hidup tapi aku tidak tahu di mana dia saat ini. Yang aku dengar puluhan tahu lalu, dia membangun sebuah organisasi."
"Organisasi apa?" sela pria itu.
"Aku juga tidak tahu!" jawab si pengemis.
"Ck, apalagi yang kau tahu?"
"Hanya itu!"
"Pergi!" usir pria itu seraya meneguk birnya sampai habis.
Si pengemis pergi, sedangkan pria itu menghubungi orang yang dia bayar untuk memberikan informasi yang baru saja dia dapatkan tanpa menyadari jika ada pria lain yang berpura-pura menjadi pengunjung bar dan mendengar pembicaraan mereka. Pria itu pergi agar tidak dicurigai apalagi informasi yang ingin dia dengar sudah dia dapatkan dengan cuma-cuma bahkan dia juga menghubungi orang yang membayarnya.
Carl masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru saat informan yang dia bayar menghubungi. Dia tidak mau ayahnya mendengar apalagi Harry karena saat itu, Harry sudah pulang dari kantor.
"Ada apa? Apa kau mendapatkan sesuatu?" tanyanya dengan tidak sabar.
"Bos, yang masih hidup hanya Jager Maxton," jawab sang informan.
"Lalu, di mana dia? Apa kau mendapatkan informasi tentangnya?"
"Jika begitu cari sampai ketemu, jangan sampai si tua bangka itu menemukannya terlebih dahulu!" perintah Carl.
"Baik, Bos!"
Pembicaraan berakhir, Carl terlihat pusing. Semoga saja dia bisa mendapatkan informasi keberadaan Sayuri setelah bertemu dengan Jager Maxton karena dia ingat, pria itu memiliki hubungan baik dengan Sayuri jadi dia sangat berharap, informan-nya bisa menemukan keberadaan Jager Maxton dengan cepat.
Sementara itu, orang yang sedang dia cari terlihat penasaran setengah mati. Matanya tidak lepas dari putranya, sedangkan Damian cuek saja. Dia tahu ayahnya sedang melihatnya dan dia tebak sebentar lagi ayahnya pasti akan bertanya dan benar saja dugaannya, ayahnya menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Ayo katakan pada Daddy, apa kau menciumnya?" tanya Jager tanpa basa basi.
"Ya ampun, Dad! Apa tidak ada pertanyaan lain?"
"Tidak, sebelum kau menjawab!"
"Ck, baiklah. Daddy seharusnya tahu, aku tidak mungkin menciumnya," ucap Damian.
"Kenapa? Apa kau tidak menyukainya?"
"Bukan begitu, Dad."
"Lalu?"
"Dad, sebelum bertindak aku harus memikirkan risikonya karena kami memiliki hubungan yang tidak biasa."
"Apa maksudmu?" tanya ayahnya tidak mengerti.
Damian tersenyum, dia tidak mau mencium Ainsley sembarangan karena dia punya alasan untuk tidak melakukannya.
"Dad, kami sudah kenal lama. Kami berdua terkadang seperti teman dan ketika kita berkumpul, kami bagaikan keluarga. Bukannya aku tidak tahu cara berciuman, bukannya aku tidak mau menciumnya tapi aku harus memikirkan banyak hal yang akan terjadi walau itu hanya sebuah ciuman."
Jager memandangi putranya dengan serius, sepertinya dia mengerti. Damian pasti memikirkan posisi adiknya.
"Daddy harus tahu satu hal, saat ini hubungan kami seperti biasa layaknya sahabat juga keluarga. Dia memang nyaman bersama denganku dan itu sudah biasa dan hal wajar karena kami sudah terbiasa seperti itu, jadi jika aku menciumnya secara tiba-tiba tanpa tahu bagaimana perasaannya padaku lalu dia menolak dan marah, menurut Daddy apa yang akan terjadi? Aku tidak mau terburu-buru dan menghancurkan hubungan kami apalagi aku harus memikirkan posisi Vivian sebagai kakak ipar Ainsley. Jika hanya karena sebuah ciuman lalu Ainsley marah dan membenci aku, lalu bagaimana dengan hubungan mereka sebagai saudara ipar? Aku tetap harus memikirkan hal ini, Dad."
"Oke.. Oke, baiklah. Kau benar dan aku mengerti sekarang," ucap ayahnya.
"Sebab itu Dad, aku tidak mau terburu-buru. Biarkan hubungan kami semakin dekat sehingga kami tahu perasaan kami masing-masing. Semakin kami dekat, maka kami akan semakin tahu apa yang kami rasakan. Apa Ainsley menganggap aku pria paling spesial untuknya atau dia hanya menganggap aku sebagai teman atau keluarga seperti biasanya, begitu juga denganku!"
"Baiklah, sepertinya aku yang terlalu terburu-buru dan tidak memikirkan hal ini terlalu jauh."
Damian kembali tersenyum, dia tahu ayahnya sudah tidak sabar tapi dia tidak mau terburu-buru sehingga menghancurkan hubungan baik mereka yang sudah lama terjalin. Seandainya dia baru mengenal Ainsley dan jatuh cinta dengannya, mungkin keadaan akan berbeda karena dia tidak akan ragu sama sekali tidak seperti situasi yang sedang dia hadapi saat ini.
Jager sudah tidak bertanya karena dia sudah paham apa yang dikhawatirkan oleh putranya. Ternyata dia yang terlalu terburu-buru tanpa memikirkan risikonya tapi syukurlah karena putranya tidak perlu tutorial ciuman atau ajaran darinya. Hampir saja dia mencari di internet tutorial itu.
"Damian, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," Jager teringat dengan laporan anak buahnya.
"Ada apa, Dad?"
"Baru saja aku mendapat kabar jika ada yang mencariku di pasar gelap."
"Siapa?" Damian menatap ayahnya dengan serius.
"Entahlah, aku sudah tidak pernah ke sana selama puluhan tahun tapi siapa pun yang mencariku, jangan sampai dia menemukan aku dengan mudah. Blokir semua informasi dan minta adikmu untuk berhati-hati karena aku tidak mau sampai dia terlibat."
"Daddy tidak perlu khawatir, serahkan padaku," ucap Damian.
Entah kenapa tiba-tiba ada yang mencari ayahnya dan jangan katakan jika yakuza yang mengincar Mayumi sudah mengetahui keberadaan Mayumi tapi dia rasa kedua yakuza itu seharusnya mencarinya, bukan ayahnya. Jika bukan kedua yakuza itu, lalu siapa yang sedang mencari ayahnya? Sepertinya dia harus mencari tahu karena dia tidak mau ayahnya dalam bahaya lagi.