
Ainsley membuang tasnya dengan kemarahan masih memenuhi hati, dia belum pernah bertemu dengan orang yang begitu memalukan dan menyebalkan seperti Harry, belum pernah! Seharusnya waktu itu dia meminta rekannya yang lain untuk menemui Harry, mungkin dengan begitu Harry tidak akan mengejarnya sampai seperti ini.
Dari pada marah seperti ini, lebih baik dia mandi dan menenangkan emosinya. Ainsley membuka baju yang dia pakai, dia tidak ingin keluar dalam keadaan seperti itu. Semoga saja Damian mau menunggu sebentar lagi sampai keadaan hatinya lebih baik.
Di luar sana, Jager melotot ke arah putranya. Apa mereka bertengkar sehingga Ainsley jadi seperti itu?
"Apa yang kau lakukan sehingga dia marah seperti itu?" tanya Jager curiga.
"Aku tidak melakukan apa pun, Dad!" jawab Damian.
"Tidak perlu berbohong, apa kalian bertengkar?" tanya ayahnya lagi.
"Tidak Dad, sungguh!" Damian jadi canggung, karena dia yang jadi tersangkanya apalagi semua melihat ke arahnya.
"Aku akan melihat keadaanya," ucap Kate. Dia belum pernah melihat putrinya seperti itu sebelumnya, dia rasa sudah terjadi sesuatu saat dia kembali.
"Bolehkah aku yang melihatnya, Aunty?" tanya Damian.
"Tentu saja, mungkin dia akan mengatakan padamu apa yang telah terjadi."
"Thanks," Damian beranjak, menuju kamar Ainsley. Entah kenapa dia merasa Ainsley seperti itu karena bertemu dengan Harry. Tapi dia harap tidak karena dia tidak suka Harry mengganggu Ainsley agi.
"Ainsley," Damian memanggil sambil mengetuk pintu tapi Ainsley tidak menjawab.
"Ainsley," dia kembali memanggil tapi tidak juga ada respon.
Damian melihat sana sini, dan setelah itu membuka pintu kamar yang tidak dikunci. Damian masuk ke dalam, dia mencari keberadaan Ainsley tapi gadis itu tidak ada.
"Ainsley," dia kembali memanggil.
"Aku sedang mandi!" teriak Ainsley dari kamar mandi karena dia tidak tahu jika itu Damian.
Damian tersenyum dan tanpa membuang waktu, Damian melangkah menuju kamar mandi. Ainsley sedang berendam saat itu, suara pintu yang terbuka mengejutkan dirinya bahkan dia berteriak sambil menutupi tubuhnya yang telanjang saat Damian masuk ke dalam.
"Sorry," ucap Damian.
"Dam-Dam, kenapa kau masuk ke dalam kamarku?" tanya Ainsley dan dia terlihat panik.
"Untuk melihat keadaanmu," Damian mendekati Ainsley, dia bahkan tersenyum melihat Ainsley mengumpulkan busa sabun untuk menutupi tubuhnya.
"Ta-Tapi kenapa kau masuk ke dalam kamar mandi?" Ainsley semakin gugup. Walau Damian sudah melihat tubuhnya tapi tetap saja dia malu.
"Aku ingin tahu apa yang telah terjadi padamu," Damian duduk di sisi Bathtub, sedangkan wajah Ainsley kembali terlihat murung.
"Ainsley, ada apa?" kini Damian berjongkok di sisi bathtup dan memegangi pipi Ainsley.
"Kau tahu hanya satu orang yang bisa membuatku seperti ini, Dam-Dam," ucap Aisnley dengan lirih.
"Harry?" tebak Damian.
Ainsley mengangguk, sungguh hatinya panas jika kembali mengingat penghinaan yang diberikan oleh Harry untuk Damian.
"Apa yang dia katakan sampai membuatmu seperti ini? Apa dia mengganggumu?"
"Dia selalu mengganggu dan aku tetap sabar tapi hari ini, aku benar-benar sudah tidak bisa bersabar lagi," jawab Ainsley dengan kemarahan memenuhi hati.
"Apa dia mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaanmu?" tanya Damian lagi. Dia sungguh ingin tahu apa yang telah dikatakan oleh Harry sampai membuat Ainsley seperti itu.
"Dia menghinamu, Dam-Dam. Aku tidak akan marah jika dia menjelekkan diriku tapi aku sungguh tidak terima dia menghina dirimu! Memangnya kesalahan apa yang kau perbuat sehingga kau harus selalu dihina oleh mereka?"
Damian tersenyum, ternyata Aisnley seperti itu karena tidak terima Harry menghina dirinya. Dia tidak mempedulikan hal itu tapi dia tahu, Ainsley tidak terima karena Harry menghina dirinya.
"Baiklah," Damian beranjak dan mengambil sebuah handuk dan setelah itu dia kembali mendekati Ainsley.
"Berikan tanganmu," pintanya.
Ainsley mengulurkan tangan, sedangkan Damian membantunya bangkit berdiri. Damian bahkan membersihkan busa sabun yang ada di tubuh Ainsley sampai bersih dan setelah itu, Damian juga mengeringkan tubuhnya.
"Perkataannya sudah keterlaluan, sebab itu aku marah," Ainsley menunduk, sebenarnya dia malu.
"Semua perkataan yang dilontarkan oleh keluarga itu memang keterlaluan. Tidak ada hal baik yang diucapkan oleh mereka dan aku merasa sudah terbiasa."
"Benarkah?" Ainsley mengangkat wajah dan memandangi Damian.
"Ya, abaikan saja dia. Terserah mereka mau berkata apa, aku juga tidak mengemis apa pun dari mereka. Anggap saja kau bertemu anjing di jalan lalu mereka menggonggong ketika melihatmu."
Ainsley tertawa saat Damian mengatakan hal itu, keceriaan itu kembali dan kekesalan hatinya mulai berkurang.
"Aku hanya tidak suka Harry menghinamu, Dam-Dam," ucapnya seraya memeluk Damian.
"Orang yang menghinaku, belum tentu lebih baik dariku."
"kau benar, tapi jika orang yang menghina tidak tahu diri seperti Harry, rasanya ingin aku lemparkan dia ke dalam kolam buaya!"
"Kau bisa melakukannya jika kau mau," ucap Damian.
"Benarkah?"
"Ya," Damian mendekatkan wajah mereka dan memberikan sebuah ciuman lembut di pipi.
"Maafkan aku, kau harus mendengar penghinaan yang diberikan kepadaku," bisik Damian dan bibirnya tidak berhenti memberikan ciuman lembut di wajah Ainsley.
"Aku tidak suka kau dihina," Ainsley memejamkan mata, menikmati sentuhan bibir dan juga tangan Damian yang sedang membelai punggungnya.
"Terima kasih sudah membelaku."
Ainsley mengangguk sambil tersenyum manis. Damian mengusap wajahnya dan kembali berkata, "Sudah tidak marah lagi, bukan?"
"Ya, maaf membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa," kedua tangan Ainsley melingkar di leher Damian karena saat itu Damian sedang mencium bibirnya. Tangan Damian bahkan bergerak, mengusap tubuhnya yang terbuka.
Situasi seperti itu membuat mereka terbakar api gairah apalagiĀ Damian sedang memberikan remasan lembut dan jarinya bermain di sana.
"Dam-Dam," Ainsley menahan tangan Damian, jangan sampai mereka melakukan lebih jauh apalagi keluarga mereka sudah menunggu.
"Sudah lebih baik, bukan?" Damian kembali bertanya seperti itu sambil mencium pipinya.
"Berkatmu, terima kasih."
"Jika begitu ayo kita keluar, keluarga kita sudah menunggu."
Ainsley mengangguk sambil tersenyum, begitu juga Damian. Dia lebih suka melihat Ainsley yang ceria dan dia tidak suka Ainsley marah karena dirinya.
"Lain kali jika Harry datang, abaikan saja. Kau tidak perlu banyak bicara dan mendengarkan perkataannya. Kita sudah mau menikah, bukan? Jadi biarkan saja dia mau berkata apa."
"Kau benar," Ainsley memeluk kekasihnya yang tampan, dia bahkan tidak membantah ketika Damian menggendongnya dan membawanya keluar.
Suasana hatinya sudah lebih baik apalagi dia sudah memberikan dua pukulan pada Harry. Semoga saja pria gila itu tidak mencarinya lagi dan dia yakin, setelah dia menikah dengan Damian, Harry akan menyerah dengan sendirinya.
Setelah selesai memakaikan baju Ainsley, mereka keluar dari kamar dan menghampiri keluarga mereka yang menunggu. Jager terlihat senang saat melihat mereka berdua, sepertinya dia salah menduga.
"Ada apa denganmu, Sayang?" tanya Kate saat Ainsley duduk di sampingnya.
"Tidak apa-apa Mom, aku bertemu dengan anjing gila saat mau pulang," jawab Ainsley asal.
"Oh ya? Anjing siapa yang lepas?" tanya Kate lagi karena dia pikir perkataannya putrinya serius.
"Entahlah," jawab Ainsley seraya mengangkat bahu.
Damian berusaha menahan tawa, sepertinya dia harus mendatangi Harry dan memberikan peringatan padanya. Akan dia lakukan nanti tapi yang paling penting saat ini adalah membahas pernikahan mereka.
Karena mereka sudah berkumpul, mereka mulai membahas pernikahan. Lebih cepat lebih baik, apalagi tidak ada alasan bagi mereka untuk menunda.