Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Berhati-Hatilah



Setelah mencoba gaun pernikahan, Damian dan Ainsley pergi melihat tempat di mana acara pernikahan mereka akan diadakan nanti. Mereka ingin menyiapkan pernikahan mereka berdua tanpa merepotkan siapa pun. Lagi pula lebih baik mereka yang memilih tempat acara karena mereka lebih tahu pernikahan seperti apa yang mereka inginkan.


Gaun, tempat acara dan juga souvenir yang akan didapatkan oleh tamu undangan nanti mereka pilih dengan baik dan hati-hati. Mereka tidak mau momen berharga mereka menjadi kacau apalagi momen itu tidak akan terulang kembali.


Mereka bahkan kembali saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ainsley sudah terlihat lelah, itu karena banyak yang mereka lakukan hari ini. Sepertinya dia akan tidur nyenyak setelah ini karena besok, mereka akan kembali sibuk.


"Segera masuk dan beristirahat," ucap Damian saat mereka sudah tiba di rumah Ainsley.


"Ya, aku memang ingin segera tidur. Kakiku pegal," ucap Ainsley.


"Apa perlu aku pijatkan?"


"Tidak perlu, aku hanya butuh istirahat," ucap Ainsley. Tas diambil dan setelah itu, Ainsley mengecup bibir Damian.


"Hubungi aku jika sudah tiba," ucapnya lagi.


"Tentu," Damian juga memberikan ciuman di bibir sebelum Ainsley turun dari mobilnya.


Ainsley melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah. Setelah Ainsley masuk ke dalam, Damian menjalankan mobilnya. Malam ini dia harus berbicara dengan Mayumi karena dia punya firasat tidak baik. Foto yang ditemukan oleh anak buahnya sudah dikirimkan padanya, dia tidak mengenal orang-orang yang ada di foto itu tapi dia rasa Mayumi mengenal mereka.


Mobil dibawa dengan cepat, Damian sudah sangat ingin cepat tiba. Dia bahkan berpikir selama di perjalanan, jika peti-peti itu dibawa ke California berarti mereka harus waspada dan dia juga akan meminta Mayumi untuk waspada.


Dia juga akan meminta seseorang mengikuti Mayumi, jangan sampai mereka lengah lalu Mayumi diculik oleh musuh tapi sayangnya bukan Mayumi saja yang jadi incaran Akira.


Begitu tiba, Damian masuk dengan terburu-buru. Rumah sudah terlihat sepi, itu karena Jager sedang beristirahat di dalam kamar, begitu juga dengan Mayumi.


Mandi adalah hal pertama yang dia lakukan dan setelah itu Damian mencari Mayumi. Semoga saja Mayumi belum tidur. Suara ketukan pintu dan suaranya yang memanggil Mayumi menarik perhatian Jager. Pria tua itu keluar karena dia ingin tahu.


"Untuk apa kau mencari Mayumi?" tanya ayahnya dengan nada tidak senang.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya," jawab Damian.


"Kenapa tidak besok saja?" tanya ayahnya dan pada saat itu, pintu kamar Mayumi terbuka dan Mayumi keluar dari kamar.


"Ada apa, Damian?"


"Maaf mengganggu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan."


"Sekarang?" tanya Mayumi.


"Ya, besok aku tidak punya waktu karena harus pergi dengan Ainsley."


"Baiklah," Mayumi menutup pintu, sedangkan Damian berlalu pergi bersama dengan ayahnya.


Jager jadi penasaran, sepertinya memang ada hal yang begitu penting sampai membuat Damian tidak mau menunda. Tidak saja Jager yang penasaran, Mayumi juga begitu penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Damian.


Mereka bertiga sudah berada di ruang tamu, seorang pelayan membuatkan mereka minuman hangat. Jager terlihat kesal karena putranya memainkan ponsel, sedangkan mereka sudah begitu penasaran. Damian memberi kabar pada Ainsley terlebih dahulu dan dia juga akan memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh anak buahnya pada Mayumi.


"Damian, kau belum pernah aku pukul, ya?" ucap ayahnya.


"Apa Daddy tega memukulku?" goda Damian karena dia tahu ayahnya tidak mungkin tega.


"Kau! Kami sudah menunggu tapi kau sibuk dengan ponselmu!"


"Dad, yang aku ajak bicara Mayumi, kenapa Daddy jadi lebih penasaran dari pada Mayumi?"


"Sudah, cepat! Jika tidak akan aku lempar ponselmu!" ucap Jager, sedangkan Damian terkekeh.


"Ada apa sebenarnya, Damian?" tanya Mayumi.


"Ini mengenai kekasihmu, Mayumi."


"A-Apa sudah ada kabar?"


"A-Apa maksudnya?" tanya Mayumi sambil memandangi Damian dengan tatapan tidak mengerti.


"Kau kenal mereka?" tanya Damian.


"Tentu saja, mereka keluarga kekasihku. Kenapa foto mereka ada di ponselmu?" tanya Mayumi dengan rasa ingin tahu yang begitu besar.


"Dengarkan aku, kemungkinan kekasihmu masih hidup."


"Benarkah?" Mayumi terlihat senang karena ini kabar baik.


"Jangan senang dulu, ini hanya kemungkinan."


"Apa maksudmu?" tanya Mayumi tidak mengerti.


"Apa anak buahmu tidak menemukan apa pun di sana, Damian?" tanya ayahnya.


"Tentu Dad, anak buahku memantau mereka dan berkata, mereka membawa puluhan peti yang tidak tahu isinya apa. Peti-peti itu sedang berada di kapal dan aku rasa sedang dibawa menuju kemari. Anak buahku juga sudah menggeledah markas mereka yang mereka tinggalkan tiba-tiba dan aku punya firasat jika kekasihnya ada di salah satu peti itu."


"Jika begitu, sebaiknya kau waspada," saran ayahnya.


"Bukan aku, tapi Mayumi."


"Ke-Kenapa?" tanya Mayumi.


"Jika mereka membawa kekasihmu ke sini, kemungkinan mereka akan memancingmu keluar menggunakan dirinya. Aku harap kau tidak mempercayai siapa pun dan mulai besok, aku akan memerintahkan seseorang untuk mengikutimu."


"Apa yang akan terjadi, Damian?" tanya Mayumi.


"Entahlah, kita harus waspada untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti. Jika memang kekasihmu masih hidup, kita punya kesempatan untuk menyelamatkannya. Kita tunggu saja mereka tiba, dan kita lihat apa yang mereka inginkan tapi kau harus ingat pesanku, jangan mempercayai siapa pun. Kau mengerti?"


Mayumi mengangguk, dia harap tidak ada kejadian buruk yang terjadi nanti dan dia harap kekasihnya bisa diselamatkan tapi kejadian itu akan semakin buruk karena ulah dirinya sendiri.


Karena Damian sudah menyampaikan apa yang hendak dia sampaikan jadi dia meminta Mayumi kembali ke kamarnya, sedangkan dia dan ayahnya masih bersama. Setelah Mayumi masuk ke dalam kamar, Jager menyampaikan sesuatu pada putranya karena dia ingin putranya berhati-hati.


"Berhati-hatilah dengannya," ucapnya.


Damian menatap ayahnya dengan tatapan heran, "Kenapa Daddy berkata seperti itu?" tanyanya.


"Kau tahu? Selama kau pergi dan adikmu tinggal di sini, dia selalu mengatakan untuk berhati-hati pada sahabatmu itu."


"Benarkah?"


"Dia lebih pandai menilai orang dari pada kita jadi tidak ada salahnya kau berhati-hati. Seseorang yang sudah dibutakan oleh cinta dapat melakukan apa saja apalagi jika untuk menyelamatkan orang yang dia cintai. Seandainya ada yang mengancammu menggunakan Ainsley dan memintamu melompat ke dalam jurang agar dia selamat, apa kau tidak akan melakukan hal itu untuk menyelamatkan orang yang kau cintai?"


Damian diam, belum menjawab. Dia tahu adiknya selalu waspada, dia juga khawatir Mayumi melakukan hal nekad nantinya.


"Terima kasih atas nasehatnya, Dad. Sekarang aku ingin tahu, apa kau harus mengundang keluarga Windstond ke acara pernikahanku nanti?"


"Tidak perlu, jika kau ingin acara pernikahanmu berjalan lancar lebih baik kau tidak mengundang siapa pun dari keluarga itu."


"Kenapa?" tanya Damian ingin tahu.


"Karena tidak ada hal baik yang diucapkan oleh mereka. Mereka hanya akan mencibirmu sebagai anak jal*ng dan jangan sampai kau menjadi gunjingan para tamu undangan sehingga kau mempermalukan keluarga Ainsley."


"Baiklah, yang Daddy katakan sangat benar. Keluarga Ainsley memang menerimaku tapi aku tidak boleh membuat mereka dan membuatmu malu. Terima kasih atas nasehat yang Daddy berikan."


"Bagus, mereka tidak mempedulikan dirimu maka kau tidak perlu mempedulikan mereka."


Damian mengangguk, dia dan ayahnya masih berbincang sedangkan di dalam kamar, Mayumi mencoba menghubungi ponsel kekasihnya yang sudah tidak lama aktif karena dia mengharapkan sebuah keajaiban. Dia akan melakukan apa pun untuk menyelamatkan kekasihnya, apa pun karena dia tidak mau ditinggalkan lagi dan tidak mau sendirian apalagi Damian sudah mau menikah.