Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Terbongkarnya Rahasia Harry



Ainsley membawa Anna ke ruang keluarga di mana keluarganya sudah menunggu. Anna terlihat canggung tapi dia disambut dengan ramah. Rasanya semakin canggung, dia belum pernah mendapat klien yang begitu ramai dan juga begitu kaya seperti itu.


Selama Anna bersama dengan Ainsley, Damian mengajak Harry bergabung dengan yang lain. Ini pertama kali dia mengenal keluarga Aisnley, ternyata mereka jauh dari bayangannya selama ini. Dia mengira keluarga Aisnley begitu menakutkan tapi ternyata mereka sangat ramah. Dia bahkan tidak menyangka jika mereka tidak terlihat menyeramkan tapi bukan rupa mereka yang harus ditakutkan, yang harus ditakutkan adalah tindakan mereka yang tidak pandang bulu.


Di ruangan lain, Anna mengeluarkan sketsa yang sudah dia buat. Entah kenapa dia jadi tidak percaya diri. Mereka pasti selalu menggunakan perancang profesional, sedangkan dirinya? Dia hanya amatir yang menyalurkan hobi.


"Aku harap kalian menyukai rancanganku ini," ucap Anna seraya memberikan sketsa yang dia buat pada Ainsley.


"Kami akan melihatnya terlebih dahulu," Ainsley mengambil sketsa itu dan memberikannya pada keluarganya.


"Thanks," Anna tersenyum, dia jadi gugup saat melihat sketsanya sudah berpindah tangan.


"Ngomong-Ngomong, Anna. Kenapa kau bisa datang bersama Harry?" tanya Ainsley ingin tahu.


"Sesungguhnya kami sudah saling mengenal sebelumnya," ucap Anna.


"Oh, ya?" Ainsley terlihat tidak percaya apalagi waktu itu Harry berkata jika dia tidak mengenal Anna.


"Ya," Anna melihat sana sini, mencari keberadaan Harry.


"Sesungguhnya aku sudah menyukai Harry sejak lama," ucap Anna dengan pelan.


"Wow, benarkah?" tanya Ainsley tidak percaya.


"Yes, tapi saat itu aku menyukainya dalam diam. Aku selalu melihatnya di cafe dan aku rasa sudah cukup tapi karena keadaan terdesak, mau tidak mau aku harus menjadi stalker untuk mengambil perhatiannya," ucap Anna tanpa ragu.


"Apa?" Ainsley terkejut dan menatap Anna dengan tatapan tidak percaya.


"Kau jadi penguntit?" tanya Ainsley lagi.


"Aku harus melakukannya jika tidak aku tidak akan bisa mengenalnya," ucap Anna sambil tersenyum tapi dia dikagetkan dengan tawa Ainsley yang tiba-tiba pecah.


Harry diikuti oleh Anna? Ini benar-benar lucu. Ainsley masih tertawa, sampai membuat Anna heran begitu juga dengan keluarganya.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Anna heran.


"Tidak, aku minta maaf," ucap Ainsley tapi kemudian dia kembali tertawa.


Si mantan penguntit diikuti oleh penguntit? Mungkin ini yang disebut karma dan dia rasa Harry sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal. Ainsley menghentikan tawanya, dia akan mengatakan hal ini pada suaminya nanti.


"Maaf jika aku tidak sopan," ucap Ainsley.


"Tidak apa-apa, tidak perlu dipikirkan," Anna tersenyum. Sesungguhnya dia sangat ingin tahu kenapa Ainsley tertawa ketika mendengar jika dia menguntit Harry. Apa Harry pernah menguntit seseorang sebelumnya?


"Harry pria yang baik, dia sudah tidak seperti dulu dan sudah banyak berubah," ucap Ainsley.


"Benarkah?" Anna terlihat antusias, siapa tahu dia bisa mendapatkan sesuatu tentang Harry dari Ainsley.


Selama ini dia tidak banyak tahu tentang Harry, mungkin dia bisa mendapat sedikit informasi. Makanan kesukaannya, tipe gadis yang dia sukai, mungkin dia bisa tahu akan hal ini.


"Dulu dia memang punya tunangan tapi kau tidak perlu khawatir, tunangannya sudah tidak ada jadi tidak akan ada yang mengganggu kalian nanti."


"Apa kau tahu seperti apa wanita yang disukai Harry?" tanya Anna.


"Entahlah, tapi aku rasa kau tidak perlu memikirkan hal ini. Kau hanya perlu berusaha untuk mendapatkan dirinya."


"Kau benar," Anna tersenyum, "Terima kasih atas saranmu, aku tidak akan menyerah untuk membuatnya jatuh cinta padaku," ucap Anna lagi. Kini semangatnya kembali berkobar untuk mendapatkan Harry.


"Selamat berjuang," Ainsey menepuk bahu Anna. Dia harap gadis itu berhasil agar Harry bisa memulai sebuah hubungan dengan seorang gadis yang mencintainya dengan tulus.


"Thanks, bagaimana dengan rancanganku? Apa kalian menyukainya?" tanya Anna, matanya sudah tertuju pada keluarga Ainsley.


"Guys, bagaimana? Apa kalian suka?" tanya Ainsley.


"Tentu saja tapi ada beberapa yang tidak kami sukai."


"Katakan padaku, aku terima kritik dan saran dan aku jamin kalian akan puas," ucap Anna.


Anna beranjak, duduk di tengah-tengah keluarga Ainsley untuk mendengarkan keinginan mereka. Anna terlihat sibuk mendengarkan permintaan mereka, sebuah buku sketsa dan pensil sudah berada di tangan. Kepuasan pelanggan merupakan kepuasan tersendiri untuknya dan dia terlihat senang berada di tengah-tengah keluarga Ainsley.


Mereka berada di sana sampai waktu menunjukkan pukul lima sore. Anna benar-benar puas, tinggal membuat rancangan yang mereka inginkan saja dan yang pasti dia butuh tempat sepi dan tempat itu adalah kantor Harry.


Mereka berpamitan, Ainsley dan Damian mengantar mereka sampai di depan pintu.


"Terima kasih untuk hari ini, aku sangat senang kalian menyambut aku dengan baik," ucap Anna.


"Tidak perlu dipikirkan, berjuanglah dan terus ikuti dia!" ucap Aisley dengan suara pelan.


Anna tersenyum dan mengangguk, dia tampak senang karena disambut dengan baik. Dia bahkan berjanji akan kembali lagi, rasanya sudah sedikit akrab dengan Ainsley.


Ainsley melambaikan tangan, saat Anna sudah berada di dalam mobil. Dia dan Damian masih belum beranjak, mereka melihat kepergian Mobil Harry dan Aisnley dan melambaikan tangan sesekali.


"Ainsley, kenapa kau meminta gadis itu untuk terus mengikuti Harry?" tanya Damian ingin tahu karena dia penasaran setelah mendengar percakapan istrinya.


"Kau tahu, Dam-Dam," Ainsley melingkarkan tangannya di pinggang Damian, matanya masih belum lepas dari Mobil Harry yang hendak keluar dan menunggu pagar terbuka.


"Gadis itu adalah penguntit yang selalu mengikuti Harry."


"What?" Damian melihat istrinya dengan tatapan tidak percaya, tapi tidak lama kemudian tawanya pecah. Apa istrinya tidak bercanda?


"Jadi sekarang giliran dia yang diikuti?" tanya Damian di sela tawanya.


Ainsley mengangguk, sudah dia duga Damian pasti akan tertawa. Benar-benar balasan yang setimpal tapi dia harap Harry dan Anna bisa memiliki hubungan spesial.


Dari mobilnya, Harry melihat Damian dari kaca spion yang ada di samping. Dia sangat heran melihat Damian terbahak-bahak, selain tertawa Damian juga berbicara dengan Ainsley lalu menunjuk ke arah mobilnya sesekali. Dia sangat penasaran, apa yang sedang ditertawakan oleh Damian?


Harry melirik ke arah Anna, entah kenapa dia jadi curiga dengan gadis itu. Jangan-jangan Anna  mengatakan sesuatu yang memalukan pada Aisnley sehingga Damian tertawa seperti itu.


"Kenapa kau memandangi aku?" tanya Anna.


"Kau, apa kau mengatakan sesuatu yang memalukan pada Ainsley?"


"Tidak," jawab Anna sambil geleng kepala.


"Kau yakin?" Harry masih curiga.


"Tentu saja, memangnya ada hal memalukan apa yang bisa aku bicarakan dengannya?"


Harry kembali melirik Anna, mungkin dia yang terlalu curiga. Mungkin Damian menertawakan sesuatu hal lain.


"Baiklah, maaf mencurigaimu. Ibuku bilang besok lusa dia ingin menemuimu."


"Apa kau akan datang bersama dengannya?" Anna terlihat bersemangat.


"Yeah, dia meminta aku mengantarnya."


"Yes, besok bolehkah aku bekerja di tempatmu? Aku butuh tempat tenang dan nyaman. Di rumah aku sudah tidak bisa leluasa karena ada Marco," pinta Anna.


Harry belum menjawab, perasaannya jadi kesal saat membayangkan Anna berduaan dengan Marco di dalam rumah. Dia benar-benar merasa aneh setelah ada Marco, rasa tidak mau kalah memenuhi hati.


"Boleh tidak?" tanya Anna.


Harry hanya menggangguk, Anna begitu senang. Mulai sekarang dia akan sering-sering menyebut nama Marco. Mungkin apinya akan semakin berkobar. Sepertinya dia harus berterima kasih pada Marco yang tiba-tiba tinggal di sebelah rumahnya. Walau dia tidak tahu siapa yang Marco suka tapi dia harap Marco berhasil.


Mobil sudah berjalan menjauh. Suasana di antara mereka menjadi sunyi. Anna melirik ke arah Harry, entah kenapa dia jadi ingin tahu kenapa Ainsley tertawa saat dia mengatakan jika dia adalah penguntit.


"Harry," Anna kembali memandangi jalanan.


"Ada apa?"


"Saat aku mengatakan pada Ainsley jika aku menguntit dirimu dia tiba-tiba tertawa. Sebenarnya?" Tiba-Tiba mobil berhenti mendadak sehingga Anna berteriak dan tidak melanjutkan ucapannya.


Tubuh Anna terdorong ke depan, Harry menatapnya dengan tajam.


"Ada apa? Kenapa kau berhenti mendadak?' tanya Anna sambil memegangi belakang kepalanya yang membentur kursi.


"Kau bilang pada Ainsey jika kau penguntit?"


"Ya," jawab Anna heran.


"Oh\, s*h*it!" Harry mengumpat\, sekarang dia tahu kenapa Damian tertawa. Mereka pasti menertawakan dirinya yang dulunya seorang stalker tapi sekarang dia justru diikuti oleh stalker.


"Ada apa?" tanya Anna ingin tahu.


"Ti-Tidak ada apa-apa!" Harry kembali menjalankan mobil.


Anna semakin curiga, sepertinya ada rahasia.


"Hei, apa yang kau sembunyikan?" tanya Anna, dia sangat ingin tahu.


"Tidak ada!" jawab Harry.


"Ayolah, apa dulu kau seorang stalker seperti aku?" tebak Anna.


"Tidak, jangan asal menebak!"


"Wah, aku semakin curiga setelah melihat reaksimu," goda Anna.


"Sebaiknya tidak asal bicara!"


Anna semakin sengaja, dia rasa jika Harry memang mantan stalker.


"Guru, tolong ajari aku menjadi stalker hebat," goda Anna lagi.


"Jika tidak diam aku akan melemparmu keluar!" ancam Harry.


"Oh tidak, mulutklu terkunci rapat untuk saat ini!" Anna tersenyum dengan manis, sedangkan Harry mengumpat dalam hati karena rahasianya terbongkar.


Selama di perjalanan, Anna menggoda Harry. Dia tidak menyangka jika Harry pernah menjadi Stalker dan dia juga meminta Harry untuk mengajarinya agar dia bisa menjadi Stalker hebat tentu hal itu membuat Harry kesal dan rasanya ingin membungkam bibir Anna. Hm, sepertinya harus meminggirkan mobil terlebih dahulu dan yang pastinya Anna terkejut saat Harry menarik tangannya dan membungkam mulutnya yang cerewet dan akhirnya Anna diam setelah dicium oleh Harry.