
Anna terlihat bahagia pagi itu. Pria yang menikahinya secara mendadak menunjukkan cinta dan kasih sayangnya tanpa ragu. Walau pertemuan mereka singkat dan mereka tidak merasakan manisnya pacaran tapi sikap yang ditunjukkan oleh Harry benar-benar membuatnya bahagia.
Lagi pula saat ini mereka seperti sepasang kekasih walau status mereka sudah menjadi suami istri. Menikmati masa pacaran setelah menikah tidaklah buruk, lagi pula mereka menikah karena saling mencintai bukan karena dipaksa oleh siapa pun dan pernikahan mereka pasti akan terasa indah.
Anna duduk di meja makan, Harry tidak mengijinkannya melakukan apa pun. Dua gelas kopi Harry letakkan di atas meja dan setelah itu Harry mengambil roti yang sudah dia bakar. Anna tersenyum manis, kebahagian tidak henti terpancar dari wajahnya bahkan matanya tidak berpaling dari Harry.
"Aku jadi merinding karena kau memperhatikan aku seperti itu," ucap Harry seraya duduk di dekat istrinya.
"Ini tatapan mematikan seorang penguntit!" jawab Anna sambil tersenyum lebar.
"Aku sudah jadi suamimu, untuk apa kau melihatku seperti itu?" Harry mengangkat gelas kopi dan menyeruput isinya.
"Harry," Anna juga mengambil gelas kopi.
"Hm?"
"Kau adalah mantan penguntit dan aku juga penguntit, jika kita punya anak nanti apa anak kita juga akan menjadi penguntit?"
Harry hampir tersedak roti bakar karena pertanyaan Anna. Apa Anna ingin mereka menjadi keluarga penguntit?
"Oh, sepertinya akan keren jika anak kita juga menjadi seorang penguntit," Anna mulai membayangkannya.
"Tidak, tidak keren jadi jangan sampai hal itu terjadi!" bantah Harry.
"Kenapa? Kita bisa jadi senior yang mengajari junior. Oh, aku tiba-tiba punya ide bagus. Bagaimana jika kita membuat sebuah usaha, menerima jasa training untuk mengajari seseorang menjadi penguntit. Dijamin orang itu akan menjadi penguntit profesional dalam waktu singkat. Ini bisa jadi ladang bisnis baru. Belum ada yang melakukannya, bukan?"
Harry hanya menggeleng, hanya orang gila yang mau mendaftar jadi anggota tapi dia hanya mengiyakan apa yang Anna ucapkan. Biarkan dia mau berkata apa yang penting hatinya senang.
"Jadi, hari ini kau mau pergi ke mana dulu sebelum aku membawamu pulang ke rumah?"
"Melihat kedua orangtuaku lalu menemui Marco sebentar."
"Baiklah, setelah ini kita pergi."
Anna mengangguk, mereka kembali menikmati sarapan mereka tapi tiba-tiba Anna jadi ingin tahu sesuatu. Gelas kopi diletakkan, Anna memandanginya Harry sebelum dia bertanya.
"Ada apa?" sepertinya Harry sudah tahu jika Anna ingin bertanya.
"Hm, aku jadi ingin tahu. Apa keluargamu bisa terima kau menikahi aku secara mendadak?" tanya Anna.
"Tidak perlu khawatir, mereka pasti bisa menerimanya."
"Benarkah?" Anna tampak tidak percaya.
"Percayalah, mereka sudah lama meminta aku untuk menikah jadi mereka tidak akan keberatan. Mereka hanya akan kaget sebentar saja dan tidak akan keberatan apalagi mereka sudah mengenalmu."
Anna tersenyum, semoga saja. Dia sangat bersyukur telah mengenal mereka sebelumnya sehingga dia tidak akan terlalu canggung saat bertemu dengan mereka nanti.
Setelah selesai sarapan, Harry mengajak Anna pergi. Mereka pergi ke rumah sakit terlebih dahulu dan tentunya kedua orangtua Anna sangat senang melihat kedatangan putri mereka.
"Bagaimana keadaan Daddy?" Anna bertanya pada sang ayah yang sudah menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan peluru dari pahanya.
"Daddy baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."
"Aku senang mendengarnya. Harry bilang dia akan mempertemukan kalian pada orangtuanya nanti setelah keadaan Daddy sudah membaik jadi aku harap, Daddy bisa jaga sikap."
"Tenang saja, kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini karena yang harus kau khawatirkan saat ini adalah kejadian semalam," ucap ayahnya.
"Ada apa?" Anna tampak heran.
"Anna, kami khawatir polisi menyelidiki rumah Marco. sebaiknya kau berhati-hati dan pergilah berbicara dengan Marco. Kami curiga jika dia tidak akan membiarkan masalah ini begitu saja!" ucap ibunya.
Anna tersenyum, kedua orangtuanya melihat ke arah Harry, pria yang menikahi putrinya secara mendadak. Mereka harap putri mereka tidak salah memilih, apalagi mereka sudah melihat siapa sebenarnya Marco.
"Kau, apa kau serius dengan putriku?" tanya Briant Cedric, matanya tidak lepas dari Harry.
"Tentu saja aku serius, jika tidak maka aku tidak akan menikahi Anna di antara tumpukan mayat itu!"
"Kau melakukan hal itu bukan karena simpati, bukan?" tanya ayah Anna lagi.
"Dad, jangan memulai!" ucap Anna dengan nada kesal.
"Bukan begitu, Anna. Daddy ingin tahu seperti apa pria yang menjadi suamimu, Daddy juga harus tahu dia benar-benar serius atau tidak karena Daddy tidak mau kau dipermainkan. Daddy ingin kau memiliki masa depan cemerlang sebab itu Daddy menjodohkanmu dengan Marco."
"Ck, tapi dia hanya psikopat gila!"
"Sebab itu kami khawatir pria yang kau sukai tidak jauh berbeda dengan Marco."
"Dad!" Anna berteriak karena dia tidak suka ayahnya mencurigai Harry.
"Tidak apa-apa, Anna. Orangtuamu pasti khawatir apalagi mereka tidak mengenal aku dan aku juga menikahimu secara tiba-tiba," ucap Harry.
"Maafkan ucapan ayahku, Harry."
"Tidak apa-apa, Anna. Aku akan menunjukkan pada mereka jika aku serius dan tidak bermain-main denganmu."
"Kau sudah menunjukkannya, Harry. Kau sudah menunjukkan hal itu dengan cara menikahi aku setelah kekacauan yang terjadi. Apa hal itu tidak cukup membuktikan jika kau serius padaku? Sebaiknya Daddy tidak asal bicara karena aku tidak mungkin salah memilih pasangan hidup!"
"Daddy hanya mengkhawatirkan dirimu saja," ucap ayahnya.
"Stop, Dad! Kekhawatiran yang kau rasakan justru mencelakai aku! Aku punya kehidupan sendiri dan aku tidak suka diatur oleh siapa pun. Kenapa aku lari dari rumah? Itu karena Daddy terlalu egois. Kau memang ayahku, orang yang membesarkan aku tapi hidupku adalah milikku dan kau tidak berhak mengatur hidupku sesuai keinginanmu karena aku bukan boneka!" entah kenapa kemarahan memenuhi hati, jangan katakan dia akan datang bulan karena tidak dia akan gigit jadi nanti malam.
"Hei, kenapa kau jadi emosi seperti ini?" Harry mencoba menenangkan Anna dan memeluknya.
"Aku kesal, Harry. Ayahku terlalu mengkhawatirkan banyak hal, kenapa harus mempersulit hidup? Nikmati saja tanpa harus banyak berpikir karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi hari esok."
"Baiklah, Daddy minta maaf," ucap ayahnya. Dia seperti itu karena kasih sayangnya yang besar pada putri semata wayangnya tapi kasih sayang yang dia miliki justru mencelakai putrinya tanpa sadar dan membuat hubungan mereka menjadi kurang baik.
"Kami melakukan hal ini karena kami menyayangimu, Anna," ucap ibunya pula.
"Aku tahu, Mom. Aku tahu kalian menyayangi aku dan mencintai aku tapi aku bukan anak kecil lagi, aku sudah dewasa yang sudah tahu apa yang harus aku lakukan," Anna mendekati kedua orangtuanya dan memegang tangan ayah dan ibunya.
"Lihat, Anna yang kalian anggap sebagai putri kecil kalian sudah besar. Sekarang aku sudah punya suami jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi. Aku akan menjalani kehidupanku dengan Harry, begitu juga dengan kalian. Dari pada terus bekerja bukankah lebih baik Daddy mengundurkan diri? Kita sudah punya segalanya, apalagi yang Daddy cari? Sebaiknya Daddy berhenti bekerja dan setelah itu nikmati waktu bersama dengan Mommy. Bukankah itu lebih baik?"
Kedua orangtuanya saling padang, sepertinya apa yang diucapkan oleh putri mereka sangat benar adanya.
"Nikmati waktu kalian seperti waktu kalian masih muda dulu, pergi keliling dunia dan jangan mengkhawatirkan aku!"
Anna harap orangtuanya tidak selalu mengkhawatirkan dirinya dan memang, ayahnya jadi sadar jika memang selain mengkhawatirkan putrinya dia juga harus membahagiakan istrinya.
"Terima kasih nasehatmu, Sayang," ucap sang ibu. Anna memeluk kedua orangtuanya, hubungan mereka menjadi lebih baik dari pada sebelumnya.
"Kami akan mengikuti nasehat yang kau berikan," ucap ibunya lagi.
"Memang itu yang harus kalian lakukan. Nikmati waktu kalian selagi kalian masih bisa dan jangan mengkhawatirkan aku lagi karena sekarang aku sudah punya kehidupanku sendiri. Aku bukan anak kecil lagi karena aku punya tantangan yang harus aku lewati."
"Kau benar," ucap ayah dan ibunya. Mereka masih berpelukan, kejadian yang mereka alami membuat hubungan mereka berubah. Anna yang kesal dengan sang ayah sudah tidak marah lagi dengannya karena dia tahu mereka melakukan hal itu karena begitu menyayanginya.
Harry memandanginya dengan sebuah senyuman, dia juga pernah mengalami hal demikian. Dia juga sempat berseteru dengan sang ayah karena kelakuan buruknya tapi karena kejadian penyekapan yang telah terjadi pada mereka, hubungan mereka sebagai keluarga menjadi lebih baik bahkan mereka berhubungan baik dengan Damian yang selama ini mereka benci.
Ternyata dia dan Anna mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Apa sejak awal mereka sudah berjodoh? Entah kenapa dia jadi teringat dengan ide gila Anna tadi pagi. Selain penguntit, ternyata mereka juga memiliki masalah dengan keluarga. Sebaiknya Anna tidak tahu masalah yang pernah dia alami jika tidak dia yakin, Anna akan memiliki ide gila untuk menjadi psikiater dadakan. Selain memberikan training bagi para calon yang hendak menjadi penguntit mereka akan menjadi psikiater gadungan lalu mereka akan masuk penjara bersama-sama. Sebaiknya tidak terjadi, karena itu sangat mengerikan.