
Matahari bersinar cerah, langit biru dan hembusan angin sejuk membuat piknik yang mereka lakukan siang itu terasa sempurna. Ainlsey membawa kotak piknik, begitu juga dengan Damian. Sebuah kotak piknik dan sebuah ransel berada di bahu tapi satu tangan mereka saling berpegangan saat Damian membawa Ainsley menuju pohon yang rindang.
Di sanalah dia dan ayah juga adiknya menghabiskan waktu jika ayahnya merindukan istrinya. Mereka akan berbaring di bawah pohon, menikmati hembusan angin dan menikmati hamparan rumput yang luas. Jika berada di sana, siapa pun akan lupa dengan pekerjaan dan juga beban yang sedang dihadapi karena tempat itu benar-benar tenang dan nyaman.
Mereka tidak membicarakan apa pun saat mereka mendekati pohon, Ainsley juga tidak bertanya karena dia sibuk melihat tempat itu dan terlihat kagum. Pohon semakin dekat, jantung Ainsley berdebar, piknik itu hanya mereka berdua saja lalu apa yang akan mereka lakukan?
Mereka sudah tiba di bawah pohon, Damian melepaskan tangan Ainsley dan meletakkan barang yang dia bawa begitu juga yang dilakukan oleh Ainsley. Dia memandangi pohon yang besar dan memungut beberapa helai daunnya yang gugur juga sudah menguning.
"Tunggu aku di sana, aku akan menyiapkan piknik kita," ucap Damian.
"Bolehkah aku membantu?" tanya Ainsley.
"Aku lebih suka kau tidak melakukan apa pun tapi jika kau mau melakukannya maka aku tidak akan keberatan."
"Baiklah, aku tidak suka jadi penonton."
Tikar yang mereka bawa dikeluarkan, mereka merentangkan tikar itu secara bersama-sama. Damian mengeluarkan makanan yang mereka bawa juga sebotol wine. Selama Damian mengeluarkan makanan yang mereka bawa, Ainlsey mendongak melihat daun yang berguguran terkena tipuan angin.
Makanan sudah berada di atas tikar, begitu juga dengan wine. Mereka duduk bersama menghadap hamparan rumput yang bergoyang karena ditiup oleh angin. Senyum Ainsley terlihat mekar, ternyata melakukan hal itu terasa menyenangkan.
Mereka tidak berbicara karena mereka menikmati angin yang berhembus dan terasa dingin. Damian melirik ke arah Ainsley yang duduk di sampingnya, Ainsley selalu terlihat cantik dan manis seperti biasa. Pantas saja Harry tergila-gila dengan Ainlsey dan jika dia adalah Harry, maka dia akan mengejar Ainsley seperti yang Harry lakukan tapi dia? Jika tidak ada Jager Maxton, siapakah dia?
"Dam-Dam?" Ainsley memandanginya dengan heran karena dia sudah memanggil Damian sebanyak dua kali tapi Damian diam saja.
"Ya? Oh, i'm sorry," ucap Damian tidak enak hati.
"Ada apa?" tanpa maksud apa-apa, Ainsley mengangkat tangannya untuk mengusap wajah Damian. Damian tersenyum dan memegangi telapak tangan Ainsley yang ada di wajahnya saat ini. Sebuah ciuman dia berikan di sana sampai membuat Ainsley salah tingkah dan wajahnya memerah.
"Da-Damian, kau bilang ingin bercerita?" Ainsley berusaha mengalihkan perhatian.
"Ceritanya panjang, sepertinya kita harus menikmati makanan dan minuman terlebih dahulu."
"Kau benar, ayo coba sushi yang aku buat. Aku jamin kali ini rasanya enak," Ainsley mengambil keranjang piknik yang dia bawa dan mengeluarkan sushi yang dia buat dengan penuh percaya diri.
Sushi dikeluarkan dan diberikan pada Damian. Sebelum mencicipinya, Damian tersenyum. Semoga saja rasanya lebih baik dari kemarin karena dia tidak mungkin memuntahkan sushi itu di depan Ainsley. Damian memandangi Ainsley sebentar dan setelah itu, sushi dimasukkan ke dalam mulut.
Ainsley terlihat tidak sabar, dia sangat yakin dengan rasa sushi-nya tapi jujur dia takut Damian tidak suka.
"Bagaimana?"
"Enak, kau membuatnya dengan baik," puji Damian.
"Oh, akhirnya. Aku yakin pasti enak karena aku begitu fokus dan serius saat membuatnya. Ternyata usahaku tidak sia-sia, aku sangat senang," ucap Ainsley dan dia terlihat begitu senang dengan keberhasilannya.
"Sudah aku katakan, bukan? Kau pasti bisa jika kau terus berusaha," ucap Damian.
"Kau benar, terima kasih atas semangat yang kau berikan," Ainsley tersenyum dan memandangi Damian yang sedang membuka botol wine serta menuangkannya ke dalam gelas.
"Ck, aku hanya memberimu semangat saja. Kita rayakan keberhasilanmu," ucap Damian seraya memberikan segelas wine pada Ainsley.
Ainsley terkekeh dan mengambil gelas yang diberikan oleh Damian, "Bersulang untuk sushi buatanmu," ucapnya.
Dentingan gelas terdengar, mereka meneguk wine itu sambil saling pandang. Gelas diletakkan dan setelah itu, mereka menikmati makanan yang mereka bawa. Walau hanya mereka berdua tapi terasa menyenangkan bahkan suasana terasa romantis untuk mereka.
Ainsley bersyukur sushi yang dia buat dengan terburu-buru tidak mengacaukan momen mereka berdua saat ini dan lihatlah, mereka bahkan saling menyuapi satu sama lain. Ternyata melakukan hal itu tidaklah buruk, mereka makan, mengobrol dan setelah selesai, mereka berdua berbaring sambil memandangi pohon yang rindang.
"Dam-Dam."
"Kau bilang ingin bercerita tadi?"
"Oh, aku hampir melupakannya," ucap Damian.
"Jadi?" Ainsley memiringkan tubuhnya agar dia bisa melihat Damian. Jujur dia merasa Damian sedikit mirip dengan Harry tapi dia tidak mau mengatakan hal itu pada Damian karena dia tidak mau mengacaukan kebersamaan mereka.
"Ya, seperti yang aku katakan tadi, ayahku akan mengajak kami datang jika dia merindukan istrinya. Baginya tempat itu penuh dengan kenangan akan kebersamaannya bersama dengan istrinya."
"Kau sepertinya sangat menyayangi ayahmu."
"Tentu saja Ainsley, tanpa dia, aku bukanlah siapa-siapa!" jawab Damian. Matanya menerawang, ya, jika bukan karena ayahnya saat ini, dia rasa dia tidak akan pernah ada.
"Dam-Dam, kenapa kau bisa menjadi putra Jager Maxton?" Ainsley bergeser, agar mereka semakin dekat. Jarinya bahkan bermain di dada Damian tanpa ragu.
"Yang aku tahu, ibuku berteman baik dengan Jager Maxton. Waktu ayahku menjalankan bisnis bersama dengan temannya, mereka bertemu dengan ibuku. Ibuku seorang simpanan, Ainsley. Karena karirnya sebagai model mulai meredup, dia menjadi simpanan seorang pengusaha."
"Wow, ibumu seorang model?" tanya Ainsley.
"Yes!" Damian memandangi Ainsley sambil tersenyum.
Ainsley semakin mendekati Damian bahkan memeluknya tanpa ragu dan setelah itu dia kembali bertanya, "Lalu?"
Damian kembali tersenyum, dia juga memeluk Ainsley dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Menurut kabar yang aku tahu, ibuku melakukan hubungan terlarang dengan seorang pria yang memiliki keluarga."
"Oh astaga!" Ainsley tampak terkejut.
"Kenapa? Apa kau jadi jijik denganku?" tanya Damian ingin tahu.
"Bukan begitu, lanjutkan!" pinta Ainsley.
"kau terlihat semakin penasaran sekarang!"
"Aku ingin tahu," jawab Ainsley.
"Baiklah, karena ibuku melakukan hubungan terlarang jadi tanpa dia inginkan dia mengandung. Ibuku mengatakan pada ayah kandungku jika dia sedang hamil anaknya tapi sayangnya, ayahku tidak mengakuinya dan meminta ibuku menggugurkan kandungannya. Dia bahkan pergi begitu saja, meninggalkan ibuku. Sebagai seorang model, ibuku depresi, putus asa dan ingin bunuh diri tapi beruntungnya, Jager Maxton mau membantu ibuku karena mereka teman baik. Jager juga mengakui jika dia adalah ayah dari bayi yang sedang dikandung oleh ibuku didepan publik agar ibuku tidak bunuh diri. Dia bahkan memberikan namanya untukku dan mengakui aku sebagai putranya"
"Ayah kandungmu benar-benar keterlaluan!" ucap Ainsley kesal.
"Yeah, aku juga berpikir begitu. Walau dia tidak mau bertanggung jawab dan mengakui aku sebagai anaknya, aku tidak keberatan karena aku sudah memiliki seorang ayah yang jauh lebih hebat dari ayah kandungku."
"Kau benar, aku lihat dia begitu menyayangimu."
"Yes, aku sangat beruntung bisa memilikinya."
Damian tersenyum saat Ainsley menyembunyikan wajah ke dadanya, tangannya masih mengusap kepala Ainsley, sedangkan Ainsley memejamkan mata menikmati belaian yang Damian berikan.
"Dam-Dam, bagaimana jika suatu hari nanti kau bertemu dengan ayah kandungmu?" tanya Ainsley.
Damian diam saja, dia tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Dia bahkan tidak pernah mau tahu siapa ayah kandungnya tapi jika sampai dia bertemu dengan ayah kandungnya tanpa dia inginkan, apa yang harus dia lakukan?
"Entahlah!" jawabnya singkat.
Mereka diam saja, tidak berkata apa-apa lagi. Mereka menikmati kebersamaan mereka berdua di bawah pohon yang rindang. Ainsley tersenyum saat Damian memberikan ciuman di dahinya. Hembusan angin dan daun yang berguguran, membuat perasaan mereka tenang. Walau tidak melakukan apa pun dan hanya berbaring sambil berpelukan, itu sudah cukup dan itu kemajuan yang cukup baik untuk hubungan mereka berdua.