
Sherly terlihat begitu marah dan frustasi, setelah terdepak keluar dari kediaman keluarga Windston, Sherly kembali ke rumah kontrakannya dulu. Marah dan benci menjadi satu di dalam hati. Dia benar-benar tidak terima dicampakkan begitu saja.
Memang kehancuran hubungannya dan Harry akibat perbuatan yang telah dia lakukan tapi semua itu juga terjadi karena kemunculan Ainsley Smith. Jika gadis itu tidak ada, Harry pasti tidak akan mengejar gadis itu dan dia yakin Harry mau memaafkan perbuatan yang dia lakukan tapi sekarang, dia merasa Ainsley telah menghancurkan semuanya.
Seandainya Ainsley tidak ada?
Sherly mencengkeram kedua tangannya dengan erat, kebencian terpancar dari tatapan matanya. Hubungannya dengan Harry semakin hancur sejak Harry mengenal Ainsley. Mereka mau kenal di mana dia tidak peduli yang dia tahu, Ainsley orang ketiga yang tiba-tiba hadir dan semakin memperkeruh suasana.
Jika dia punya kesempatan, dia akan melenyapkan gadis itu. Ya, jika dia punya kesempatan! Marah seperti itu tidak ada gunanya, sebaiknya dia pergi mengintai mereka berdua dan mencari kesempatan. Jika tidak ada Ainsley, dia yakin Harry pasti akan seperti pecundang dan dia ingin melihatnya.
Sherly segera meraih tasnya, dia akan mengintai, melihat situasi lalu membuat rencana. Tidak perlu takut seorang diri, selama ada uang dia bisa membayar pembunuh bayaran untuk melenyapkan Ainsley dengan mudah dan tentunya Harry dan mereka yang membuangnya juga harus mati.
Sherly pergi, tapi tanpa tujuan karena dia tidak tahu harus mencari Ainsley di sana. Dia hanya mengikuti ke mana arah langkah kakinya pergi sampai akhirnya dia berada di kantor Damian.
Sherly mengumpat, kenapa lagi-lagi dia datang ke sana? Dia memang tidak punya tujuan, sampai dia sendiri bingung saat ditanya oleh supir taksi. Karena sudah terlanjur, jadi dia berada di cafe yang tidak jauh dari tempat itu. Mungkin dia bisa bertemu dengan wanita waktu itu karena dia ingin mencari tahu tentang Damian.
Mata Sherly tidak berpaling, dia benar-benar harus mencari cara untuk membalas rasa sakit hatinya. Tidak peduli apa carannya, dia harus bisa melenyapkan mereka yang telah membuatnya sakit hati.
Saat itu sudah jam makan siang, beberapa karyawan yang bekerja di perusahaan Damian keluar untuk membeli sesuatu seperti segelas kopi atau sebagainya.
Sherly benar-benar tidak melepaskan padangannya sampai akhirnya dia melihat Mayumi berjalan keluar dan menghampiri cafe di mana dia berada.
Bagaikan mendapat jakcpot, mata Sherly tidak lepas dari Mayumi. Mayumi ke cafe itu untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kue. Dia sungguh tidak menyangka ada Sherly di tempat itu.
Segelas kopi dipesan dengan sepotong kue. Mayumi mencari tempat nyaman untuk menikmati kue dan kopinya. Walau nomor ponsel kekasihnya sudah tidak bisa dia hubungi lagi tapi dia tetap mencoba karena dia sangat berharap ada sebuah keajaiban.
Mayumi meneguk kopinya, dan pada saat itu dia terkejut karena tiba-tiba saja Sherly duduk di hadapannya. Sherly tersenyum, dia harus bersikap manis agar Mayumi tidak marah.
"Kau lagi, mau apa?" tanya Mayumi dengan sinis.
"Aku ingin bicara denganmu."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita karena kita tidak saling mengenal!" ucap Mayumi ketus.
"Ayolah, aku hanya ingin tahu tentang Damian."
"Untuk apa?" Mayumi memandangi Sherly dengan tatapan heran. Untuk apa wanita itu mencari tahu tentang Damian?
"Aku hanya ingin tahu!" Sherly sudah terlihat kesal.
"Aku tidak tahu apa-apa jadi jangan bertanya padaku!" Mayumi juga terlihat kesal.
"Tidak mungkin kau tidak tahu! Bukankah kau adiknya?" ucap Sherly tidak percaya.
"Siapa bilang aku adiknya? Aku sahabat baiknya?"
Sherly terlihat tidak percaya, sahabat baik? Dia kira wanita itu adik Damian sebab itu dia ingin mencari tahu tentang Damian melalui Mayumi.
"Aku hanya ingin tahu!"
"Tidak perlu banyak mencari tahu, aku tidak bisa membantu!" Mayumi beranjak, dan melangkah pergi.
Sherly mengumpat kesal, rasanya ingin dia jambak rambut Mayumi. Awas saja nanti, jika ada kesempatan dia akan melempar wanita itu dengan telur busuk.
Sherly keluar dari cafe, dia melangkah pergi menyelusuri trotoar sambil memaki. Entah ke mana dia harus pergi dia sendiri tidak tahu yang pasti dia terus melangkah sampai tanpa sengaja dia menabrak beberapa orang pria yang berjalan dari arah depan dengan keras.
"Apa kau buta?!" teriak Sherly penuh emosi apalagi dia jatuh terduduk di atas aspal.
Para pria itu mengumpat, dalam bahasa yang tidak dia mengerti bahkan sebuah map yang dibawa oleh salah satu dari mereka berserakan di atas jalan.
Beberapa dari mereka membentaki Sherly bahkan sudah menarik pistol yang ada di pinggang.
Sherly ketakutan dan mundur ke belakang, sepertinya dia sudah menabrak orang yang salah.
"Cepat bereskan!" salah satu dari mereka memerintahkan rekannya untuk membereskan informasi penting yang mereka butuhkan.
"I ... I will help!" ucap Sherly. Dengan tangan gemetar, Sherly membantu memunguti setiap lembar kertas yang berserakan di atas jalan.
"Pergi!" salah satu dari mereka membentaki Sherly bahkan sebuah pistol sudah tertodong di pelipisnya.
"Sorry ... i'm sorry," Sherly meraih kertas yang tidak jauh darinya. Dia ingin memberikan kertas itu tapi matanya terbelalak melihat apa yang ada di kertas itu.
Sherly memandangi orang-orang yang terlihat menakutkan itu lalu melihat kertas-kertas yang mereka kumpulkan di mana terdapat beberapa wajah orang-orang yang tidak asing baginya. Apa maksudnya ini?
"Aku bilang, pergi!" bentak orang yang sedang menodongkan pistol di dahinya tentu dalam bahasa yang tidak dia mengerti.
Sherly mengangkat kedua tangan, otaknya berusaha mencerna apa tujuan orang-orang itu. Karena dia takut dengan pistol yang masih di arahkan ke arahnya, Sherly melangkah pergi dengan pelan tapi matanya tidak lepas dari sekelompok orang-orang itu.
"Ayo segera pergi!!" ajak salah satu orang itu setelah mereka mendapatkan semua informasi yang berhaburan di jalan.
Mereka melihat sana sini dan setelah itu mereka pergi. Sherly masih diam di tempat. Dia benar-benar berpikir dengan keras saat itu. Dia rasa ini bukan kebetuan belaka bisa bertemu dengan orang-orang itu.
Entah kenapa dia merasa keberuntungan berada di pihaknya. Mungkin ini adalah kesempatannya untuk menghancurkan orang-orang yang menyakiti dirinya.
Tanpa mau membuang waktu, Sherly segera berlari ke arah orang-orang itu pergi. Dia akan mengikuti mereka dan mencari tahu apa yang sedang mereka lalukan di sana dan setelah itu?
Ini kesempatan emas yang tidak boleh dia lewatkan sama sekali. Dia harap dia memiliki kesempatan dan ya, dia memang punya kesempatan.
Tanpa sepengetahuan orang-orang itu, Sherly mengikuti mereka secara diam-dia. Dia akan mencari tahu apa tujuan mereka karena dia merasa mereka sedang mencari orang-orang yang ada di foto.
Entah mereka saling bermusuhan atau kawan yang pasti, dia tidak boleh melepaskan kesempatan jika ternyata mereka memiliki tujuan yang sama.