
Pagi itu, Harry terlihat lesu. Dia benar-benar tidak bersemangat. Tidak bisa tidur, itulah yang terjadi dengannya. Semua itu gara-gara Anna Cedric. Seharusnya dia tidak mengikuti Anna ke restoran, seharusnya tidak karena rasa penasaran itu semakin memenuhi hati.
Dia jadi teringat sewaktu dia mengikuti Ainsley dulu, rasa penasaran yang pernah dia rasakan kini dia rasakan lagi. Tidak, dia tidak boleh kembali ke jalan lama. Sebaiknya dia tidak terlalu penasaran pada Anna.
"Harry," ibunya sangat heran, dia sudah memanggil sedari tadi tapi Harry diam saja dan tidak menjawabnya.
"Harry, kenapa kau melamun. Ada apa?" tanya ibunya heran.
"Hm, tidak!" jawab Harry cepat.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya ibunya lagi.
"Tidak, tidak ada apa-apa. Kenapa Mommy memanggilku?"
"Ck, aku bertanya sedari tadi kau mau roti bakar atau tidak!"
"Ya, buatkan saja," jawab Harry malas.
"Ada apa denganmu, Harry? Apa kau sedang sakit?"
"Tidak, Mom. Aku baik-baik saja."
"Bagus, Mommy ingin bertemu dengan Anna besok lusa. Apa kau bisa mengantar Mommy untuk bertemu dengannya?" tanya sang ibu.
Harry menghembuskan napas, rasanya hanya berputar di lingkaran yang sama. Walau dia berusaha menghindar pada akhirnya dia akan bertemu lagi dengan Anna Cedric. Semua terasa berbeda setelah bertemu dengannya. Mereka yang tadinya tidak saling mengenal entah kenapa jadi seperti saling terhubung tanpa mereka sadar.
"Kenapa kau tidak menjawab Mommy, Harry? Apa kau tidak mau?"
"Bukan begitu, Mom. Kenapa tidak memintanya datang saja?"
"Mommy tidak bisa merepotkan dirinya terus menerus, Harry. Hanya sebentar, besok antarkan Mommy ke rumahnya. Kau mau, bukan?"
Harry kembali menghembuskan napas, sebaiknya dia tidak menolak. Toh hari ini dia akan ke rumah Anna. Jalani saja dan biarkan saja apa yang akan terjadi. Dia juga tidak punya pacar, lagi pula semakin dia menghindar, semakin dia akan terjerat. Entah kenapa dia merasa seperti itu. Walau dia pernah mengejar Ainsley, tapi rasanya akan berbeda.
"Baiklah, aku akan mengantar Mommy ke rumahnya besok," ucap Harry mengiyakan.
"Bagus, Mommy akan menghubunginya dan membuat janji dengannya nanti."
Harry diam saja, menikmati kopi hitam dan roti bakarnya. Sebaiknya dia tidak mengatakan apa pun pada ibunya jika hari ini dia mau pergi ke rumah Anna dan mengantarnya ke rumah keluarga Ainsley.
Di tempat lain, Anna bangun lebih pagi dengan wajah ceria pagi itu tapi Marco yang sudah pindah mengganggu pagi indahnya. Pria itu membawakan sarapan untuk Anna. Walau Marco membawa makanan kesukaannya tapi Anna terlihat tidak senang karena dia ingin bersiap-siap sebelum Harry datang.
Dia ingin membuatkan makan siang karena dia ingin mengajak Harry makan siang bersama sebelum mereka berangkat ke rumah keluarga Ainsley.
"Marco, setelah ini bisakah kau pergi?" pinta Anna.
"kenapa? Aku tidak mengganggumu, bukan?"
"Ck, tentu saja kau mengganggu. Aku ingin bersiap-siap untuk menyambut pria yang aku sukai. Bukankah aku sudah mengatakan padamu jika dia mau datang?"
"Tapi ini masih pagi, Anna," sesungguhnya dia juga tidak sabar ingin melihat saingannya.
"Ck, kau tidak mengerti. Wanita perlu banyak persiapan!" ucap Anna.
"Jika begitu ijinkan aku membantu!"
"Tidak perlu, setelah selesai kau harus pergi!" Anna meletakkan piring kotornya, dia tidak mau ketika Harry datang, Harry mendapati dia sedang berduaan dengan seorang pria di dalam rumah.
Walau sesungguhnya dia sangat ingin tahu bagaimana reaksi Harry tapi dia tidak mau Harry salah paham sehingga dia kesulitan mendekati pria itu. Bagaimanapun jalan untuk mendapatkan Harry sudah terbuka lebar dan dia tidak mau mengacaukannya apalagi waktu yang dia punya semakin sedikit.
Marco menatap kepergian Anna, sepertinya dia tidak bisa menunda dan dia harus mengungkapkan perasaannya pada Anna sebelum pria yang disukai oleh Anna memiliki perasaan pada gadis itu. Dia sudah menyukai Anna sejak lama, dia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil Anna darinya.
"Nanti saja, Marco. Aku sedang sibuk."
"Sebentar saja, beri aku waktu sepuluh menit," pinta Marco.
"Tidak," Anna membuka pintu kamar dan sebelum masuk ke dalam Anna kembali berkata," kita bicarakan besok!" ucapnya.
"Anna, hanya sebentar!" pinta Marco tapi pintu sudah tertutup.
"Besok, Marco!" teriak Anna dari dalam.
Marco mengumpat kesal, tapi dia tidak punya pilihan. Tapi tidak masalah, dia akan menyiapkan sebuah kejutan untuk Anna besok. Sebaiknya dia pergi karena Anna pasti akan marah padanya jika dia masih berada di sana. Dia akan kembali nanti ketika pria yang disukai oleh Anna datang dan untuk sekarang, dia ingin menyusun rencana karena dia ingin memberikan kejutan untuk Anna besok malam.
Marco keluar dari rumah Anna dan tidak lama kemudian Anna keluar dari kamarnya setelah tidak lama kepergian Marco. Entah apa yang hendak dibicarakan oleh Marco tapi dia tidak penasaran sama sekali. Sekarang waktunya menyiapkan makanan dan menunggu Harry datang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh saat Anna sudah selesai memasak. Dia terlihat puas dengan hasil masakannya. Dia memang tidak pandai memasak tapi dia cukup bangga dengan hasil dari usaha yang dia lakukan hari ini.
Makanan dihidangkan di atas meja, sebotol anggur juga diletakkan. Tentu itu anggur yang Marco belikan di restoran. Dia ingin menikmati Anggur itu bersama dengan Harry. Ini baru permulaan, setelah makan siang lalu dia akan mengajak Harry makan malam. Ini hanya tak tiknya saja, tidak sia-sia dia membaca buku seribu satu cara menjerat pria.
Botol anggur sudah diletakkan, Anna tersenyum dengan ekspresi puas. Sekarang tinggal mempersiapkan diri. Dia belum mencukur bulu kakinya dan mengecat kuku. Bulu lain akan dia cukur lain kali, ck, otak mesumnya kembali berkelana. Jika Harry mau makan malam dengannya, baru dia akan mencukur yang lainnya. Mungkin saja saat itu tiba akan terjadi sebuah keajaiban yang tidak mereka duga.
Air bathtup diisi, aroma terapi juga di tuang. Dia berencana berendam, dia juga harus wangi. Padahal mereka sudah sering bertemu tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda, mungkin saja terasa berbeda karena Harry datang ke rumahnya.
Setelah mencukur bulu kaki, Anna berendam. Setiap wanita pasti ingin terlihat sempurna di mata lelaki yang dia sukai, begitu juga dengan dirinya. Dia harus terlihat sempurna agar Harry jatuh hati padanya. Waktu yang tidak banyak harus dia manfaatkan dengan baik dan dia tidak akan membiarkan Marco mengganggu.
Di bawah sana, Harry sudah tiba. Dia juga sudah berada di dalam lift untuk ke apartemen Anna. Harry terlihat santai saja tapi tidak untuk Marco, dia sangat ingin melihat saingannya dan dia harap pria itu segera datang. Dia bahkan berdiri tidak jauh dari pintu, agar dia bisa mendengar saat pria itu datang.
Lift yang dinaiki oleh Harry sudah berhenti, pria itu melangkah menuju apartemen Anna dengan santai. Matanya melihat-lihat angka yang terdapat di pintu dan tidak lama kemudian, dia sudah menemukan apartemen Anna.
Suara langkah kakinya dapat di dengar oleh Marco, sepertinya itulah pria yang ditunggu oleh Anna. Dia semakin yakin saat mendengar suara bel berbunyi. Rasanya ingin keluar tapi sebaiknya dia tidak terburu-buru.
Harry kembali menekan bel dan tidak lama kemudian terdengar suara Anna.
"Aku datang!" Anna merapikan penampilannya, napas ditarik sebelum membuka pintu. Anna membuka pintu dengan senyum manis terukir di bibir, dia sangat senang melihat Harry berada di depan pintu.
"Maaf jika aku lama," ucap Anna basa basi.
"Tidak apa-apa, apa sudah siap pergi?" tanya Harry. Matanya tidak lepas dari Anna yang terlihat berbeda hari ini.
"Bagaimana jika masuk terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kita berdua," ucap Anna.
"Untuk apa repot-repot?"
"Ayolah," Anna meraih tangan Harry dan membawanya masuk ke dalam.
Harry tidak membantah, dia diam saja saat Anna menutup pintu dan masih memegangi tangannya.
"Bukankah kau harus segera pergi kerumah keluarga Ainsley?" tanya Harry. Matanya masih tidak lepas dari sosok wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Setelah kita makan, oke?"
Harry mengangguk, dia tahu sulit untuk menolak. Anna menarik tangannya, sedangkan Harry mengikutinya dari belakang. Anna benar-benar senang karena dia bisa memegang tangan Harry. Satu lagi yang bisa dia pegang tapi perasaan senang itu harus terganggu karena suara bel di pintu berbunyi.
Dengan terpaksa Anna melepaskan tangan Harry, "Tunggu sebentar," ucapnya dengan perasaan kesal.
Entah siapa yang datang rasanya ingin dia pukul. Harry mengikuti langkah Anna menuju pintu, dia ingin melihat siapa yang datang. Mungkin saja itu pria yang bernama Marco dan benar saja, ketika daun pintu terbuka, Marco berdiri di luar sana.
"Marco, ada apa?!" Anna melotot dengan ekspresi kesal tapi Marco tidak menghiraukan Anna, matanya menatap pria yang ada di dalam begitu juga dengan yang Harry lakukan. Harry dan Marco saling pandang, api permusuhan sepertinya mulai memercik. Mereka seperti rival dan memang itulah yang terjadi.