Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Karena Kita Adalah Saudara



Tangan Sherly yang memegangi pemicu bom terlihat gemetar. Ya, bagaimanapun dia adalah amatiran yang baru pertama kali beraksi. Anggaplah dia bagaikan kucing yang baru saja menemukan taring singa sehingga dia bisa berubah menjadi binatang itu dan menunjukkan keberingasannya di hadapan korban yang tidak berdaya tapi ketika menghadapi pertarungan yang sesungguhnya, tiba-tiba taring itu hilang.


Sherly melangkah memutar sambil memperlihatkan pemicu bom yang ada di  tangannya, jangan sampai ada yang menembak dirinya karena dia tidak mau mati di tempat itu. Dia sungguh tidak menyangka Ainsley bisa berada di sana. Dia menebak jika Akira sudah gagal tapi dia tidak peduli.


Yang paling tidak dia sangka adalah, anak yang dibenci oleh keluarga Winstond juga bisa berada di sana untuk menyelamatkan orang-orang yang membenci dan tidak menginginkan dirinya selama ini. Sepertinya dia harus menuang sedikit minyak agar pria itu membenci keluarga Winsdstond dan pergi meninggalkan mereka.


"Letakkan pemicunya jika tidak aku akan menembakmu!" ucap Damian. Pistol sudah mengarah ke dahi Sherly.


"Kenapa?" Sherly memandangi keluarga Windstond yang tidak berdaya dan setelah itu dia memandangi Damian.


"Mereka sangat membencimu selama ini. Mereka tidak menginginkan dirimu bahkan mereka begitu takut kau mengambil apa yang mereka miliki terutama Harry dan ibunya. Ayahmu juga tidak jauh berbeda, kau tahu mereka membencimu jadi untuk apa kau menyelamatkan mereka yang membencimu dan yang selalu menghina dirimu?"


"Tu-Tutup mulutmu, Sherly!" ucap Carl.


"Kenapa, Uncle? Memang seperti itu kenyataannya! Kalian begitu takut akan keberadaannya dan Harry juga membencinya karena gadis itu lebih memilih dirinya!"


Harry diam saja, keadaan mereka saat ini begitu memalukan di hadapan Damian. Jika pria itu menertawakan dan mencibir mereka itu adalah hal wajar mengingat perlakukan tidak menyenangkan yang telah mereka lakukan terhadap dirinya selama ini.


"Tidak benar, jangan dengarkan ucapannya!" ucap Alan.


"Benar, kami tidak membencimu!" ucap Renata pula.


"Ha ... Ha ... Ha!" Sherly tertawa terbahak. Tidak membencinya?


"Lihatlah mereka, mereka para pecundang yang tidak pantas kau tolong! Mereka benar-benar pandai bersilat lidah. Mereka begitu membencimu selama ini dan sekarang mereka berkata tidak di saat keadaan mereka sudah di depan pintu kematian. Jika aku jadi kau, maka aku akan pergi dari tempat ini, menikmati malam pernikahan kalian tanpa mempedulikan para pecundang ini!" ucap Sherly.


"Apa kau sudah selesai bicara?" tanya Damian dengan nada kesal.


Ekspresi wajah Sherly berubah, dia tampak tidak senang. Kenapa pria itu tidak terpengaruh sama sekali?


"Aku bukanlah kau dan aku tidak dibesarkan oleh mereka sehingga aku tidak memiliki hati nurani!" ucap Damian.


Carl menunduk, begitu juga dengan Renata dan Aland. Mereka sungguh malu di hadapan anak yang selalu mereka hina dan anak yang tidak mereka inginkan itu.


"Walau mereka tidak menginginkan aku dan selalu menghina aku tapi aku tidak bisa menutup mataku untuk tidak peduli pada mereka! Apa kau pikir aku akan meninggalkan mereka setelah mendengar perkataanmu? Apa kau pikir aku begitu menyedihkan? Tanpa mereka kehidupanku baik-baik saja tapi aku tidak bisa mengabaikan mereka walau mereka membenciku jadi tutup mulut kotormu jika tidak aku akan merobeknya!"


"Dasar bodoh, untuk apa kau membantu para sampah ini?" teriak Sherly marah.


"Jika mereka sampah maka kau adalah kotoran anjing!" Damian menembakkan senjata api kedap suaranya tanpa ragu ke tangan Sherly.


Wanita itu terkejut, teriakannya terdengar saat timah panas membuat sebuah lubang di telapak tangannya. Pemicu bom jatuh ke atas lantai, sedangkan Sherly masih berteriak akibat rasa sakit yang dia rasakan. Ya, kini taring singanya benar-benar sudah tidak ada.


"Hng, aku sudah menunggumu melakukan hal ini sejak tadi!" ucap Ainsley.


"Benarkah?" Damian menyimpan pistolnya dan memerintahkan para anak buahnya untuk menangkap Sherly.


"Ya, tanganku bahkan sudah gatal dan jika kau tidak melakukannya maka aku yang akan melakukannya!"


Damian terkekeh dan menghampiri keluarga ayahnya, sedangkan Sherly tampak tidak terima.


"Kau pria paling bodoh!" teriak Sherly. Dia tampak memberontak saat kedua tangannya di tangkap oleh anak buah Damian.


"Mereka hanya para sampah yang tidak menginginkan dirimu. Kau tidak akan untung apa-apa membantu mereka! Kau hanya akan mereka hina untuk seumur hidupmu!" teriaknya lagi.


"Tutup mulutnya dan serahkan dia pada James!" perintah Ainsley.


"Kalian tidak bisa memperlakukan aku seperti ini! Lepaskan aku!" teriak Sherly.


"Kau tahu?" Ainsley mendekatinya, sedangkan Damian membuka ikatan tali yang mengikat keluarga Windston dengan beberapa anak buah yang lain.


"Aku akan membuat perhitungan padamu karena kau sudah berani menghasut Mayumi dan menjadikan aku sebagai barang transaksi untuk tujuanmu!"


"Wanita Jepang itu saja yang bodoh! Kenapa kau menyalahkan aku?" teriak Sherly.


"Dan kau bodoh karena telah bekerja sama dengan Akira!" setelah berkata demikian, Ainsley memberikan sebuah pukulan keras di pelipis Sherly menggunakan gagang pistolnya hingga wanita itu pingsan.


"Bawa dia!" perintahnya.


Ainsley menghampiri Damian yang saat itu sedang membuka ikatan tali yang mengikat tubuh Harry.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Ainsley.


"Jika begitu kita tidak boleh membuang waktu!"


Ainsley mengambil ponsel, memerintahkan helikopter untuk datang. Dia juga meminta para dokter untuk siap karena mereka akan membawa keluarga Windston ke rumah sakit pribadi keluarganya di mana Mayumi dan ken sedang menjalani perawatan saat ini.


Anak buah yang lain membawa Renata dan Carl juga Aland, sedangkan Damian menggendong Harry di punggung dan membawanya keluar.


"Ke-kenapa kau mau menolongku?" tanya Harry dengan pelan tapi Damian dapat mendengarnya.


"Karena kita adalah saudara sebab itu aku tidak bisa mengabaikanmu dan mengabaikan mereka!" jawab Damian tanpa ragu.


Harry diam, ternyata selama ini merekalah yang begitu ketakutan akan keberadaan Damian. Dia benar-benar malu dan tidak saja dia yang malu, ayah dan ibunya juga begitu malu. Carl tidak menyangka, anak yang tidak dia inginkan dulu bersedia membantu mereka padahal dia bisa mengabaikan mereka karena perbuatan buruk yang telah mereka lakukan terhadap dirinya.


Helikopter sudah merendah, Keluarga Windston yang sudah sekarat di naikkan ke atas benda itu dan setelah itu Damian dan Ainsley naik ke atas. Malam melelahkan mereka akhirnya berakhir tepat saat matahari mulai menyingsing.


Mereka sudah memerintahkan para anak buah untuk menghilangkan jejak di pabrik itu, mereka bahkan tidak meledakkan pabrik agar tidak ada yang tahu.


Helikopter mulai terbang naik, membawa mereka menuju rumah sakit. Mereka tampak tersenyum karena malam melelahkan mereka sudah berakhir.


"Setelah ini aku ingin berada di dalam kamar denganmu dua hari dua malam!" goda Damian.


"Hei, bagaimana dengan ayahmu?"


"Aku akan memintanya mengungsi di rumah Vivi selama satu bulan!"


Ainsley tertawa dan bersandar di bahu suaminya. Mereka berdua melihat indahnya matahari terbit, setelah kembali mereka butuh istirahat sebelum mereka melakukan pertempuran yang lain.


Harry melihat mereka dari ujung matanya, ternyata benar. Dia tidak pantas untuk Ainsley Smith. Selama ini dia yang terobsesi dengan gadis itu dan mengatakan jika Damian tidak pantas tapi nyatanya dialah yang tidak pantas. Entah kenapa dia berharap, setelah ini Damian mau mengakuinya sebagai saudara dan menganggap mereka sebagai keluarganya tapi mengingat perlakuan buruk yang telah mereka lakukan terhadap Damian, apa Damian bersedia menganggap mereka sebagai keluarga?


Parodi buaya tua yang sudah lama menanti wanita cantik sebagai makanan mereka.


Saat pagi, seekor buaya jantan terbangun karena tiba-tiba saja aroma makanan lezat yang sudah lama mereka nantikan tercium.


"Guys ... Guys, cepat bangun!" si buaya memanggil rekan-rekannya.


"Berisik, ini masih pagi!" ucap saudara beda ibu sama ayah. Biasa buaya kawin sama yang mana aja yang ada di kolam. 😂


"Ayolah, apa kalian tidak mencium aroma lezat ini?"


"Aroma apa?" mereka mengendus dan benar saja, aroma lezat yang sudah lama mereka nantikan tercium.


"Oh, sepertinya impian kita akan segera terwujud."


"Semoga kita tidak mendapat batangan lagi! Makanan terakhir membuat aku sakit perut!"


"Benar!" ucap lainnya dan mereka jadi mengingat makanan busuk terakhir yang mereka makan.


"Aku bagian paha!" salah satu buaya mulai memilih.


"Paha yang satunya lagi milikku!" yang lain tidak mau kalah.


"Dadanya milikku!"


Mereka mulai berebut tapi tunggu dulu, ada yang mereka lupakan.


"Tunggu dulu, apa kali ini Hiena akan merebut jatah kita lagi?"


"Tidak ... Tidak boleh!" ucap yang lain.


"Jadi?"


Mereka saling pandang lalu mereka berenang ke pinggiran untuk melakukan sesuatu.


"Kita harus mengutuk Hiena itu agar tidak merebut makanan kesukaan kita!"


"Mari kita mengutuknya bersama-sama. Hiena itu akan sakit gigi sehingga mereka tidak bisa makan untuk beberapa hari kedepan!"


"Setuju!" ucap yang lain.


Mereka mulai mengutuk si Hiena agar binatang itu sakit gigi dan berharap kali ini makanan favorite mereka tidak diambil oleh Hiena.