Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Rasa Ingin Tahu Harry



Harry berdiri di depan cermin, memandangi wajahnya begitu lama. Sekarang dia mulai menyadari sesuatu setelah emosinya mereda. Tangannya meraba wajahnya dengan perlahan, dia ingat wajah pria yang membawa Ainsley sedikit mirip dengannya, apa maksud semua ini?


Dia masih memandangi wajahnya begitu lama, sepertinya dia harus tahu semua yang telah terjadi. Dia harus memaksa ayah dan ibunya mengatakan semua yang mereka sembunyikan darinya. Dia tidak mau menjadi orang yang tidak tahu apa pun di keluarganya apalagi, kakeknya selalu mengancam.


Harry keluar dari kamar, dia bahkan mengabaikan Shelly yang membawakan minuman untuknya, hari ini dia harus tahu apa yang telah disembunyikan oleh ayah dan ibunya.


"Harry, aku membuatkan teh untukmu," Shelly memberikan minuman yang dia bawa.


"Berhentilah, Shelly. Aku tidak punya waktu menikmati teh buatanmu!"


"Harry!" Shelly sangat kesal, sedangkan Harry berlalu pergi mencari ayah dan ibunya yang kebetulan saat itu, sedang berbicara dengan kakeknya. Tentu saja mereka membicarakan anak haram yang dikandung oleh selingkuhan Carl.


"Dad, sudah aku katakan anak itu bukan anakku!" ucap carl saat itu.


Harry menghentikan langkahnya, dia terkejut mendengar ucapan ayahnya. Sebaiknya dia mencuri dengar karena dia tahu, mereka pasti akan berhenti membahas masalah itu jika dia muncul secara tiba-tiba.


"Kita akan tahu setelah aku menemukannya!" ucap Aland.


"Dad, aku memang menjalin hubungan gelap dengan Sayuri, tapi dia itu seorang model. Dia tidur dengan siapa saja, tidak denganku saja!" Carl akan meyakinkan ayahnya jika bayi yang dikandung oleh Sayuri saat itu bukanlah anaknya.


"Dari mana kau tahu?" Aland menatap putranya dengan tajam karena dia tidak percaya dengan ucapan ayahnya.


"Tentu saja aku tahu, kami bertemu di pasar gelap di mana para wanita menjual dirinya dengan para pengusaha jadi aku bertemu dengan Sayuri yang saat itu membutuhkan dukungan karena karirnya sebagai model mulai meredup."


"Dasar kau baj*ngan! Aku begitu percaya padamu tapi kau berselingkuh dengan seorang model!" Renata tampak marah, sungguh jika dia tahu kenapa suaminya tiba-tiba mengajak mereka pergi waktu itu, maka dia akan mencari model bernama Sayuri itu dan memukulnya sampai puas.


"Itu kejadian yang sudah lama berlalu, aku hanya bertemu dengannya jika aku pergi ke pasar gelap untuk menjalankan bisnis!" jawab Carl.


"Ya, setelah itu kau tidur dengannya sehingga dia hamil?!" teriak Renata tidak terima.


"Tidak perlu berteriak!" Aland tampak kesal melihat mereka berdua.


"Dad, percayalah padaku. Anak itu bukan anakku," Carl berusaha meyakinkan ayahnya. Dia harap ayahnya percaya agar ayahnya berhenti mencari anak itu dan selalu mengancam Harry.


"Jika anak itu bukan anakmu, lalu kenapa kau membawa keluargamu pergi waktu itu?"


"Aku hanya tidak ingin mereka terlibat scandal, hanya itu!"


Alan diam saja, memandangi putranya. Ternyata sifat buruk putranya diturunkan pada Harry dan lihatlah, Harry mencampakkan Shelly begitu mudah karena ingin mengejar gadis lain.


"Dad, percayalah padaku. Selain tidur denganku, Sayuri juga tidur dengan beberapa model pria, dengan produser-nya bahkan dia tidak ragu menjual tubuhnya agar karirnya tetap cemerlang sebagai model! Lagi pula kita tidak tahu anak itu ada atau tidak jadi aku harap Daddy berhenti mengancam Harry menggunakan anak yang tidak jelas keberadaannya dan kita juga tidak tahu, anak itu pria atau wanita!"


Harry mengepalkan tangannya saat mendengar ucapan ayahnya saat itu, jadi dia benar-benar punya adik di luar sana? Walau ayahnya berkata anak itu belum tentu ada tapi dia tahu kakeknya tidak mungkin sembarangan berbicara. Mungkin kakeknya mengetahui sesuatu, mungkin saja ayahnya menyembunyikan hal lain. Entah apa yang ditakutkan oleh ayahnya tapi dia rasa, dia harus mencari tahu hal ini lebih jauh.


"Baiklah jika begitu, kita akan tahu nanti setelah aku menemukan Jager Maxton!  Anak itu ada atau tidak kita akan mengetahuinya dari pria itu dan jika ada, kita bisa tahu anak itu anakmu atau bukan dengan melakukan tes Dna! Jika ternyata anak itu bukan anakmu maka aku tidak akan mengancam Harry lagi," ucap Aland.


Carl mengumpat dalam hati, sepertinya sang ayah sudah tahu jika Jager Maxton adalah sahabat baik Sayuri. Ini gawat, jangan sampai ayahnya menemukan pria itu terlebih dahulu. Sepertinya dia harus menambah orang, semoga saja dia bisa menemukan Jager Maxton dengan cepat.


Dari balik persembunyiannya, Harry tampak berpikir. Jager Maxton? Jadi pria itu tahu masalah perselingkuhan ayahnya? Niatnya untuk menanyakan masalah itu tidak jadi karena dia sudah mendengar semuanya. Harry berlalu pergi, sudah cukup karena apa yang ingin dia ketahui, sudah dia dapatkan.


Ternyata tidak dia saja yang mencuri dengar, Shelly juga mendengar pembicaraan itu. Sungguh dia tidak menyangka keluarga itu menyembunyikan masalah yang begitu besar. Sepertinya dia bisa memanfaatkan situasi. Sebaiknya dia mencari tahu lebih banyak karena dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.


Di dalam kamar, Harry kembali melihat wajahnya di depan cermin. Entah kenapa dia kembali teringat dengan pria  yang membawa Ainsley pergi. Sepertinya dia harus menghubungi Ainsley dan menanyakan siapa pria itu padanya. Semoga saja Ainsley mau memberi tahu siapa pria itu.


Harry berjalan menuju meja dan mengambil ponsel yang dia letakkan di sana. Tanpa membuang waktu, Harry menghubungi Ainsley. Dia harap Ainsley mau menjawab teleponnya karena dia sangat ingin tahu, siapa pria itu?


Saat itu Ainsley sedang di perjalanan pulang bersama Damian. Ainsley melihat ponsel-nya tanpa mau menjawab karena dia tahu itu dari Harry. Harry terlihat kesal, dia kembali menghubungi Ainsley tapi lagi-lagi, gadis itu mengabaikannya dan tidak mau menjawabnya.


"Kenapa tidak kau jawab?" tanya Damian.


"Apa itu dari pria bernama Harry?"


"Yeah, dia memang selalu mengganggu aku sepanjang hari."


"Kenapa tidak ganti nomor ponsel saja, Ainsley?"


"Hei, ini sudah kesekian kali aku ganti nomor ponsel tapi dia masih bisa menemukan nomor ponselku dan mengganggu aku!" jawab Ainsley dengan nada sedikit kesal.


"Jika begitu berikan padaku, biar aku yang jawab," Damian mengulurkan tangannya untuk meminta ponsel Ainsley.


"Tidak perlu, Dam-Dam. Aku tidak mau kau jadi bertengkar dengannya karena dia tidak akan pernah bisa diajak bicara. Kau tidak perlu menghabiskan tenaga untuk hal yang tidak penting!"


"Baiklah," Damian kembali memegangi stir mobilnya.


"Tapi jika aku melihatnya mengganggumu maka aku akan memukulnya tanpa ragu! Itu lebih baik dari pada kami bertengkar, bukan?"


"Apa bedanya?"


"Tentu beda karena aku pakai tenaga, tidak adu mulut!"


Ainsley tertawa, lalu dia berkata, "Thanks, sepertinya aku mendapat bodyguard sekarang."


Damian tersenyum, jika Harry mengganggu Ainsley lagi maka dia tidak akan ragu memukulnya. Dia tidak takut siapa pun pria itu


Damian menghentikan mobilnya karena mereka sudah tiba. Hari ini banyak kejadian yang tidak terduga bahkan karena kejadian itu hubungan mereka sudah satu langkah lebih maju.


Walau dia punya saingan, tapi Ainsley sudah jadi pacarnya sekarang.


Ainsley mengambil tasnya, dia sudah hendak turun tapi Damian menahan tangannya sejenak.


"Ainsley."


"Ya?" Ainsley berpaling dan memandangi Damian.


"Setelah ini aku akan menjemput Mayumi di kantor."


"Oke," jawab Ainsley sambil tersenyum.


"Dan?" Damian mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Ainsley dengan lembut, sedangkan jarinya sudah berada di bibir Ainsley.


"Aku akan mendapatkan ini tanpa gangguan dan yang pasti bukan di sini!"


Ainsley tersenyum, sepertinya gara-gara kepergok membuat Damian tidak mau gagal lagi.


"Aku ingin suasana romantis saat kita melakukannya, Tuan Maxton. Jadi beri aku sedikit kejutan," ucap Ainsley.


"Seperti keinginanmu, Nona," Damian kembali mencium pipi kekasihnya.


Setelah mendapat ciuman, Ainsley turun dari mobil, sedangkan Damian pergi ke kantor untuk menjemput Mayumi yang dia tinggalkan.


Ainsley terlihat senang, dia masuk ke dalam rumah sambil tersenyum dan mengabaikan ponsel-nya yang kembali berbunyi.


Harry melempar ponsel-nya dengan perasaan marah. Ainsley tidak mau menjawab telepon darinya sekarang dan semua itu gara-gara Shelly.


Tidak bisa seperti ini, Shelly adalah ancaman terbesar untuknya.


Harry berjalan mondar mandir, siapa pun tidak boleh ada yang menghalangi langkahnya tapi Shelly? Haruskah dia menyingkirkan wanita itu terlebih dahulu? Sepertinya dia harus memikirkan hal ini baik-baik.