Be With You, Damian And Ainsley

Be With You, Damian And Ainsley
Wedding Day



Setelah selesai mempersiapkan semuanya, hari bahagia yang dinanti datang juga karena hari ini adalah hari pernikahan Ainsley dan Damian.


Pernikahan mereka akan digelar di taman yang terbuka tentu dengan pemandangan alamnya yang indah. Mereka juga akan menginap di tempat itu sehingga mereka tidak perlu pulang dengan terburu-buru saat acara selesai apalagi mereka akan menikmati pesta itu sampai malam.


Semua keluarga besar Smith sudah berkumpul. Keluarga Edward juga sudah berkumpul, walau kondisinya sudah kurang sehat dan harus duduk di kursi roda tapi Edward tetap kembali bersama dengan keluarganya. Bagaimanapun dia ingin anak cucunya selalu kembali ke keluarga inti. Dia harap setelah dia mati nanti, semua keturunannya selalu kembali ke keluarga inti dan mereka selalu menjadi keluarga.


Tidak saja Edward, Olivia juga sudah berkumpul dengan keluarganya. Tidak ada satu pun yang terlewat karena acara pernikahan itu menjadi acara keluarga besar mereka berkumpul bahkan keluarga Silvia yang ada di Australia juga kembali.


Walau Silvia dan Abraham sudah tidak ada, tapi mereka semua sangat akrab sebagai keluarga. Itu karena kasih sayang yang selalu di ajarkan dan mereka juga selalu mengadakan pesta untuk berkumpul agar keluarga mereka tidak terpecah-pecah.


Jacob tampak kusut di hari bahagia itu, sedangkan Jager semangat emat lima. Selain mendapat menantu idaman, dia juga menang taruhan. Ini akan menjadi kebanggaan tersendiri  karena dia bisa menang dari si tua bangka Smith yang terkenal suka melakukan taruhan.


Rasanya sudah tidak sabar malam cepat tiba karena dia sudah sangat ingin melihat aksi Jacob Smith. Kali ini dia tidak punya teman karena Edward berada di kursi Roda, sepertinya Albert yang akan menjadi korban selanjutnya.


Tidak saja keluarga mereka yang berkumpul, keluarga Vivian yang ada di Inggris juga datang begitu juga keluarga Marline. Sebab itu acara di adakan di sebuah tempat yang berada di kaki bukit.


Mereka bahkan menyewa tempat itu secara exlusive untuk satu hari penuh karena mereka tidak mau ada orang luar yang mengganggu acara sakral Damian dan Ainsley.


Para tamu undangan yang datang bahkan diperiksa dengan ketat. Semua itu dilakukan agar acara pernikahan itu berjalan dengan lancar.


Mereka juga tidak mengundang banyak tamu, hanya seratus orang saja dan mereka adalah kolega bisnis penting mereka. Damian banar-benar tidak mengundang keluarga Windstond sesuai dengan nasehat ayahnya. Lagi pula mereka tidak menganggapnya keluarga jadi dia pikir tidak penting.


Acara pengucapan sumpah sebentar lagi akan dimulai. Mereka akan menyelenggarakan pesta pernikahan mereka di taman dan saat malam nanti, pesta akan berlanjut di dalam ruangan dan itu akan menjadi pesta private untuk keluarga saja.


Taman sudah dihias dengan begitu cantik. Mawar putih sudah menghiasi jalanan yang akan Ainsley lalui nanti menuju altar. Gadis itu sedang berada di dalam sebuah ruangan dengan keluarganya saat itu.


Kate duduk di sisi putrinya, mereka sedang menyaksikan pertarungan sengit antara ayah dan anak yang memperebutkan peran sebagai pengantar Ainsley menuju altar nanti.


Matthew dan Michael bekerja sama untuk melawan sang ayah yang tidak mau peran pentingnya di ambil. Apa pun caranya, yang harus mengantar Ainsley menuju altar adalah dirinya.


"Bagaimana Dad, apa kau sudah menyerah?" tanya Matthew.


"Hei Boy, aku bahkan belum selesai berpikir!" jawab ayahnya.


"Ayolah, pertanyaan mudah saja," ucap Michael.


"Daddy bisa meminta bantuan Mommy jika Daddy mau," ucap Matthew lagi.


"Tidak! Aku pasti bisa menjawabnya!" tolak Albert dan setelah itu dia berpikir mengenai jawaban teka teki yang diberikan oleh kedua putranya.


"Di dalam hutan yang mengerikan, hidup tiga ekor babi dan mereka tinggal di gubuk. Ketiga babi itu adalah saudara dan suatu malam, segerombolan serigala mengepung gubuk itu untuk memangsa mereka. Ketiga babi  itu mengambil senjata mereka untuk mengalahkan segerombolan serigala yang ada di luar sana. Mereka bahkan tidak takut sedikitpun. Yang jadi pertanyaannya adalah, senjata apa yang diambil ketiga babi itu?" Ini adalah pertanyaan yang dilemparkan oleh Matthew dan Michael sampai membuat ayahnya sakit kepala.


Tidak saja harus menjawab senjata apa yang dipakai ketiga babi itu, ayahnya juga harus memberikan alasan atas jawaban yang dia berikan nanti. Albert memijit pelipis, tidak ada clue, tidak ada petunjuk sama sekali. Senjata yang dimaksud juga tidak dijelaskan dengan rinci. Bisa saja senjata itu berupa pisau, bisa juga berupa senapan.


"Come on Dad, waktumu tidak banyak," ucap Michael dengan santai.


"Ayolah, beri Daddy sedikit waktu lagi," pinta Albert.


"Aku tidak tahu," jawab Kate dengan cepat karena dia memang tidak tahu.


"Dad, ini hanya pertanyaan mudah!" ucap Michael.


(Pembaca pasti bisa jawab kan? Ngak susah kok, malas mikir yang ribet 🙊 Yuk bantuin Daddy Albert jawab 😂)


"Oh my Boy, bagi kalian mudah tapi bagiku tidak!"


"Ayolah, apa yang ketiga babi itu gunakan sebagai senjata untuk melawan serigala?" tanya Matthew.


"Senjata tajam atau semacam cangkul karena hanya itu yang dimiliki oleh ketiga babi itu," jawab Albert.


"Bingo, tapi salah!" ucap Matthew dan Michael.


"Apa? Tidak mungkin!"


"Kau kalah Dad, jadi kami yang akan mengantar Ainsley ke altar.


"Hei boys, jika aku salah lalu apa jawabannya?" tanya Albert ingin tahu tapi sayangnya, seseorang masuk ke dalam dan mengatakan acara akan segera dimulai.


"Nanti akan kami beri tahu Dad, sekarang kami harus mendampingi Ainsley," ucap kedua putranya.


"Hei, apa kalian ingin membuat aku mati penasaran?"


Matthew dan Michael terkekeh, mereka merapikan kemeja yang mereka pakai, sedangkan Kate memeluk putrinya. Rasanya berat untuk melepaskan putri semata wayangnya tapi harus dia lakukan karena setelah ini putrinya akan pergi dari mereka dan memulai kehidupan baru bersama dengan suaminya.


"Sudah waktunya, jadilah istri yang baik untuk Damian," ucap Kate.


"Tentu Mom, terima kasih untuk cinta dan kasih sayang yang kalian berikan padaku selama ini,: ucap Aisnley.


"Jangan berkata seperti itu, walau kau sudah menikah tapi kau tetap putri kami."


Ainsley mengangguk,  tidak saja mendapat pelukan dari ibunya tapi kedua kakak dan ayahnya juga memeluknya. Mereka seperti itu cukup lama  dan setelah itu, Matthew dan Michael menggandeng adiknya keluar.


Suara musik pernikahan sudah terdengar, Albert dan Kate bergabung dengan yang lain. Matthew berjalan di sisi kanan adiknya, sedangkan Michael berjalan di sisi kiri. Mereka melangkah bersama, menuju altar di mana Damian sudah menunggu kedatangan pengantinnya yang cantik luar biasa.


Gaun pernikahan yang dipakai Ainsley tampak berkilau diterpa sinar matahari begitu juga dengan mahkota berlian yang dia kenakan di atas kepala dan perhiasan mahal yang melekat di tubuhnya. Dia bagaikan seorang prutri yang melangkah menuju pangeran tampannya dan memang seperti itulah mereka saat ini.


Damian mengulurkan tangan untuk calon istrinya yang cantik. Senyum kebahagiaan terukir di wajah karena mereka sangat bahagia saat itu. Mereka berdua berdiri di depan pendeta, siap mengucap janji suci pernikahan. Mereka tidak ragu sama sekali, karena mereka saling mencintai. Mereka bahkan bersumpah untuk selalu bersama di saat suka mau pun duka.


Acara pernikahan itu berjalan dengan lancar, tepuk tangan para tamu dan keluarga terdengar ketika Damian memakaikan cincin dan mencium bibir Ainsley. Mereka dinyatakan sudah sah menjadi suami istri dan mereka tampak bahagia tapi tidak dengan seseorang yang terlihat tidak bahagia sama sekali di acara itu.


Kapan dia akan mendapatkan kebahagiaan seperti itu? Kapan dia akan seperti Ainsley? Rasanya sangat tidak adil karena tidak ada kebahagiaan untuknya.